Serli menatap layar handphone nya yang tidak ada notification sama sekali. Ia hanya bisa menghela nafasnya seraya duduk di sisi ranjang. “Dia bahkan sudah gak perduli,” gumam Serli menyimpan handphone nya di meja nakas. Irene baru saja keluar dari kamar mandi hotel yang kini mereka tempati. Terdengar dering handphone Irene berbunyi sejak tadi. “Ck, angkat kek Ren. Berisik tau,” seru Serli. “Biarin aja. Itu si Seno, ih gue lagi kesel dan gemes banget sama dia,” seru Irene duduk di sisi ranjang bagian lainnya. “Lu enak Kak Seno masih perduli dan terus menghubungi lu. Dia khawatir sama lu, lah gue? Daniel boro-boro ada ngehubungin gue,” seru Serli. “Ya biarin aja dulu. Sampai mana dia mau cu

