Daniel baru saja sampai di kantornya. Ia menghela nafasnya. Bukan hanya tidak bisa bertemu dengan Serli, pesan darinya juga di abaikan. Kenapa Serli harus melakukan semua ini. Daniel mengusap wajahnya gusar. Terdengar ketukan di pintu ruangannya. “Masuklah,” jawabnya dan terlihat sekretarisnya masuk ke dalam ruangan. “Ada apa, Tita?” “Pak, ada yang ingin menemuimu,” seru Tita. “Siapa?” “Seorang wanita, ia mengaku bernama Tania,” seru Tita. “Sofia,” seru Daniel. “Hai Daniel, lama tidak bertemu,” serunya tersenyum manis. “Sofia, kamu?” Daniel merubah raut keterkagetannya dan memasang wajah datarnya. “Tita,

