Salah-11

924 Kata
Sudah dua hari ini Ana merasakan tidak enak badan. Rasanya seperti masuk angin. Rasa mual selalu menderanya. Apalagi jika ada makanan yang masuk ke mulutnya, ia tidak akan mampu menelan karena rasa mual itu pasti datang. Lidahnya selalu menginginkan rasa asam. Padahal sebelumnya, ia sangat membenci makanan dan minuman apa pun yang rasanya asam. Namun, sudah dua hari ini, ia selalu membeli mangga muda di penjual rujak keliling. Sambil memainkan ponselnya, tanpa sengaja Ana masuk ke aplikasi kalender. Di mana ia selalu membuat catatan kapan dirinya mendapat tamu bulanan. Dan akhirnya ia mendapat sesuatu yang cukup membuatnya panik. Bulan ini ia belum mendapat tamu bulanannya. Bahkan, sudah hampir empat minggu. Mencoba untuk tetap tenang, Ana menggunakan sepeda motornya menuju apotek untuk membeli testpack. Setelah didapatkannya alat cek kehamilan itu, Ana segera pulang. Sesampainya di rumah, ia masuk ke kamar mandi di kamarnya. Ditampung air seninya di dalam wadah, kemudian Ana celupkan benda pipih kecil itu. Lalu Ana goyangkan alat itu. Harap-harap cemas, Ana menunggu hasil yang diperlihatkan testpack. Tubuhnya luruh ke lantai saat dua garis merah terlihat jelas di testpack yang dipakainya. Air matanya mengalir deras. Tangannya meremas perut. Ingatannya kembali ke saat ia baru mengenal Alex. Ana meraung penuh penyesalan. Untungnya, kamar mandinya kedap suara. Tidak akan ada yang bisa mendengar raungannya, dan tidak akan menjadi tanda tanya. Sedikit lebih tenang, Ana mencari ponselnya. Ia buka kunci layar, kemudian menulisakan "Cara Menggugurkan Kandungan" di pencarian Google. Satu jam lebih Ana berkutat di sana. Ia berniat ingin menggugurkan kandungannya. Tetapi niatnya menciut saat menemukan banyak artikel tentang berita kematian seseorang yang melakukan aborsi. Menenangkan pikiran dan hatinya, Ana berselancar di media sosialnya. Hingga akhirnya ia mendapat kabar tentang ulang tahun Alya. Ana kesal karena ia tidak diundang atau sekadar diberitahu. Padahal mereka teman satu bangku. Setelah tahu detail acara ulang tahun Alya, Ana berniat ingin memberi kejutan untuk Alya dengan datang ke pestanya tanpa memberi tahu sahabatnya itu. Masalah kehamilannya akan ia pikirkan nanti. Ana akan menghubungi Alex untuk memberitahunya. Ana pergi ke rumah Alya menggunakan sepeda motor. Ia memang memiliki mobil, tetapi dirinya belum mahir untuk menyetir. Sesampainya di depan rumah Alya, terdengar riuh suara tepuk tangan. Ana berjanji, ia akan memarahi Alya karena sahabatnya itu tega melupakannya. Ana turun dari sepeda motor. Setelah merapikan baju dan melepas helm yang dikenakannya, ia berjalan menuju pintu rumah Alya. Pandangannya lurus ke arah Alya, di mana di sana, di samping Alya berdiri sosok lelaki yang selama ini sangat sulit ia hubungi. Lelaki itu tampak tersenyum, tangannya terlihat di pundak Alya yang sedang meniup lilin kemudian memotong kue ulang tahunnya. Tidak hanya itu, dari tempatnya berdiri, Ana juga melihat Alya memberikan suapan kue pertamanya untuk lelaki itu. Lelaki itu tersenyum lalu diciumnya pipi Alya. "Kalian?" ucap Ana. Pandangannya kosong, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Semua yang berada di sana mengalihkan pandangannya pada Ana. Tidak terkecuali Alya dan lelaki itu, Alex. Alya terlihat gugup. Dengan pelan, Alya berjalan mendekati Ana. "An, kamu datang?" tanya Alya ragu. "Apa ini alasan kamu tidak mengundangku?" "Maaf, An ...," ucap Alya lirih. Alex berjalan mendekati mereka. "Kamu tidak perlu menyalahkan Alya! Aku yang memintanya agar tidak mengundangmu." Alex membela Alya. "Kamu ada di sini, tapi kenapa aku yang sahabatnya malah nggak diundang?!" tanya Ana, tidak terima dengan ucapan Alex. "Karena aku teman dekatnya." Ana tampak bingung dengan jawaban Alex. "Kamu bingung? Oke, detik ini juga kita putus. Dan detik ini juga, Alya menjadi pacarku." Semua mata mengarah ke arah tiga remaja itu. Alya dan Ana juga menatap Alex. Keduanya tidak percaya dengan apa yang Alex ucapkan. Ana dengan tatapan kecewanya, Alya dengan tatapan yang disertai rasa tidak enaknya kepada Ana. Karena ia telah mengkhianati sahabatnya itu. "Di mana janji-janji kamu? Kamu mengatakan, tidak akan pernah meninggalkanku. Tapi kenapa kamu malah mengkhianatiku dengan sahabatku sendiri!" murka Ana. "Kamu juga! Ini yang namanya sahabat, hah?!" teriak Ana yang ditujukan untuk Alya. Alya menunduk, diam seribu bahasa. "Kamu tidak perlu menyalahkan Alya! Ini kemauanku, keinginanku. Nyatanya aku lebih nyaman dengannya daripada denganmu," bela Alex. "Harusnya kamu mengatakannya padaku. Bukannya menghindar kemudian mendekati Alya!" "Udahlah, An. Nggak perlu didramatisir! Pacarku terdahulu tidak ada yang lebay kaya kamu." Ana tidak menyangka jika Alex menganggap dirinya berlebihan. Padahal bagi Ana, ia sudah menyerahkan segalanya untuk Alex. Tetapi bagi Alex tidak ada harganya sama sekali. Tangan Ana menarik tangan Alex. Kemudian dibawanya lelaki itu keluar. Alya hanya bisa membiarkannya. Setelah di luar, "Ada apa lagi?!" bentak Alex. "Kamu tidak serius dengan ucapan-ucapan kamu, 'kan?" Air mata Ana sudah bercucuran di pipinya. "Aku tidak suka bercanda," jawab Alex dingin. "Lex, kamu nggak bisa kaya gini. Kamu nggak bisa putusin aku ...." "An, tolong! Jangan persulit aku!" Ana memeluk Alex dengan erat. Meskipun Alex berusaha menolak. "Lex ... aku hamil. Aku harus bagaimana?" lirih Ana. Alex terkejut. Dengan paksa, ia melepas pelukan Ana. Matanya melebar. "Bagaimana bisa?!" "Kamu lupa, terakhir kali kita melakukannya kamu tidak pakai pengaman?" "Ck, harusnya kamu melakukan apa gitu biar nggak hamil!" "Mana aku tahu kalau aku akan hamil. Lalu sekarang, aku harus gimana?" "Gugurkan kandunganmu!" "Aku nggak mau ... aku takut ...." "Terserah kamu! Yang jelas, aku tidak mau menyia-nyiakan masa mudaku dengan menikah denganmu," ucap Alex tanpa perasaan. "Lex ...." Suara Ana makin pelan. "Kamu gugurkan, setelah itu tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara kita. Aku juga tidak ingin kita bertemu lagi. Berapa pun biayanya, akan aku tanggung." Usai mengucapkan itu, Alex kembali masuk ke rumah Alya tanpa memedulikan perasaan Ana sedikit pun. Ana juga tak berani mengejar Alex lagi, ia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di depan teman-teman Alex. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN