"Ana tidak melihatku, kan?" tanya seorang siswi yang tadi hanya terlihat punggungnya saja saat Ana datang.
"Tidak, kamu tenang saja."
"Aku mau ke kelas dulu," pamit gadis itu kemudian berdiri.
"Biar aku antar," tawar Alex, namun segera gadis itu tolak.
"Kamu gila?! Nanti Ana curiga!"
"Tenang saja, aku akan mengantarmu dari jauh."
"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran kalian. Tega-teganya kalian bersikap demikian pada Ana. Tega menusuknya dari belakang!" sinis Erik.
"Please, Rik! Ini bukan urusan lo!" jawab Alex sebelum akhirnya pergi meninggalkan Erik bersama siswi itu, yang tak lain adalah Alya.
***
Sepanjang perjalanan, Alex menggandeng tangan Alya. Kelas mereka memang berjauhan. Alex membawa Alya ke arah toilet di mana toilet itu jarang sekali dipakai.
"Kita mau ngapain ke sini, Lex?" tanya Alya.
"Sebentar saja."
Alex membawa Alya masuk ke toilet dikuncinya pintu dari dalam. Setelah itu, Alex segera mencium bibir Alya. Alya pun membalasnya, tangannya ia kalungkan di leher Alex. Tangan Alex sudah bergerilya menggerayangi tubuh bagian depan Alya yang masih tertutup baju OSIS-nya.
Dengan gerakan cepat, tubuh Alya sukses diobrak-abrik oleh kekasih sahabatnya itu. Tiba-tiba saja, Alex menghentikan aksinya membuat Alya kecewa.
"Aku tunggu nanti di depan. Pulang sendiri, ya! Nggak usah bareng Ana! Aku bakalan kasih yang lebih dari ini," ucap Alex setelah melepaskan ciumannya. Dirapikannya baju Alya juga bajunya. Setelah itu mereka keluar. Alex hanya mengantar Alya sampai belokan menuju kelasnya agar Ana tidak melihatnya.
Sudah beberapa bulan ini Alex dan Alya dekat. Hanya HTS, Hubungan Tanpa Status. Hal itu berawal ketika Ana tidak masuk sekolah, Alex mengantar Alya pulang. Sebelum mengantarnya, Alex mengajak Alya ke rumahnya karena ia ingin mengganti baju. Setelah mengantar Alya, Alex ingin ke rumah Ana. Namun, yang terjadi tidak seperti itu. Hujan turun dengan derasnya, Bik Asih sedang tidak ada di rumah.
"Hujan. Mau pulang sekarang, atau nunggu sedikit reda?" tanya Alex yang sudah mengganti pakaiannya.
"Terserah, lo."
"Oke. Nunggu agak redaan kali ya. Lo mau minum apa? Biar gue buatin?"
"Apa aja."
Alex ke dapur membuatkan minum untuk Alya. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu.
"Kamar gue, yuk! Gue nggak betah kalo nggak di kamar!" ajak Alex.
Alya tercengang mendengar ajakan Alex.
"Gue udah biasa ngajak temen gue ke kamar."
Mendengar jawaban Alex, Alya pun akhirnya mengiyakan.
Di dalam kamar, Alex dan Alya mengobrol. Alex merasa jika Alya adalah sosok yang mudah bergaul. Alya pun merasa demikian. Apalagi, Alya juga merasa bangga karena ia bisa sedekat itu dengan Alex. Cowok yang banyak diidolakan di sekolah.
Alex dan Alya duduk di sofa tanpa ada jarak. Alex yang memang sudah terlabeli sebagai cowok berengsek, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Hidungnya mengendus leher Alya karena posisinya memang sedang menyenderkan kepalanya di bahu Alya. Alex semakin memberanikan diri. Ia kecup leher Alya. Tidak ada penolakan. Hingga bibirnya meraih bibir Alya. Alya pun menikmatinya. Apalagi itu bukanlah yang pertama untuknya.
Sejak saat itu hubungan mereka dimulai. Hubungan badan tanpa status. Hal yang akhirnya membuat Alex kian menjauh dari Ana. Alya sangat berbeda dengan Ana. Alya lebih agresif. Ia mau melakukan apa saja yang Alex minta. Alya juga mau mengikuti gaya hidup Alex yang suka merokok dan minum minuman beralkohol. Itulah yang membuat Alex nyaman bersama Alya.
***
Alya menghampiri Ana di bangkunya.
"Dari mana saja kamu?" tanya Ana begitu Alya duduk di sampingnya.
"Dari perpus," jawab Alya dibuat sesantai mungkin.
Ana memperhatikan baju Alya yang terlihat sangat kusut. Ia memicingkan mata. "Kamu abis ngapain, sih? Baju kamu kusut banget?"
"Hah? Oh ... itu, lupa nggak disetrika." Alya terlihat gugup, tetapi Ana tidak ambil pusing untuk itu.
***
Pulang sekolah, Alya berjalan tergesa agar Ana tidak melihatnya. Menghampiri mobil Alex, ia segera masuk.
“Gimana? Ana nggak lihat, kan?”
“Enggak kamu tenang saja.”
Takut Ana melihat mobilnya, Alex segera meninggalkan area sekolah. Apartemen menjadi tempat tujuan mereka. Semenjak menjalin hubungan dengan Alya, Alex memang memilih untuk menyewa apartemen. Di apartemen itulah mereka bebas melakukan apa saja.
Setelah Alex memarkirkan mobil, mereka segera mengganti baju. Sudah biasa mereka menggunakan jok belakang mobil sebagai tempat ganti.
Mereka turun dari mobil dan segera masuk ke apartemen melalui lift yang berada di sana.
Begitu berada di dalam apartemen, Alex langsung melepaskan semua yang Alya kenakan. Alya menurut saja. Kali ini, Alex yang lebih dulu memanjakan perempuan yang sudah lebih dari lima puluh kali dijamahnya itu. Alex masih berpakaian lengkap saat Alya mencapai pelepasan pertamanya.
Setelahnya, giliran Alex yang mendapat perlakuan yang sama dari Alya. Keduanya tidak berhenti saling memuaskan sampai jam menunjukkan pukul tujuh malam.
***
Hari pengumuman kelulusan tiba. Semua siswa dinyatakan lulus. Kelulusan akan dirayakan tiga hari lagi.
Hari ini juga bertepatan dengan pesta ulang tahun Alya. Ia membuat pesta di rumahnya, tetapi Ana tidak diundangnya karena di sisinya ada Alex yang berstatus sebagai teman dekatnya.
Di rumahnya, Ana sedang merasa kesal. Lagi-lagi Alex tidak bisa dihubungi. Padahal ada hal sangat penting yang harus disampaikannya. Di rumah laki-laki itu pun, Ana tidak bisa bertemu Alex. Karena semenjak ujian selesai, Alex jarang sekali di rumah. Itu yang Bik Asih katakan. Kekesalannya makin bertambah ketika ia mendengar kabar jika Alya sedang merayakan ulang tahunnya, tetapi ia tidak ada di list undangan. Setelah mencaritahu, akhirnya Ana berniat untuk memberi Alya kejutan. Ia ingin melupakan masalahnya sejenak.
***
"Kamu tidak mengundang Ana?"
Alya menggeleng. "Kan ada kamu."
"Berarti kamu lebih milih aku daripada Ana?"
"Kamu juga lebih milih aku daripada Ana, kenapa aku enggak?!"
"Oke, kita nikmati malam ini. Setelah pesta berakhir, aku ingin menghabiskan malam ini denganmu."
"Baiklah. Kapan, sih, aku nolak kamu?"
Alex dan Alya keluar dari kamar Alya beriringan. Alya tinggal bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal sejak Alya masih SMP. Sebagai single parent, ibu Alya juga cukup sibuk. Kadang, harus lembur hingga pulang larut setelah Alya tidur. Dan berangkat pagi sebelum Alya bangun. Saking percaya-nya, ibu Alya tidak pernah menaruh curiga pada putrinya.
Meskipun tidak mewah, pesta Alya cukup meriah. Pesta itu sekaligus pesta perpisahan mereka. Teman-teman Alex banyak yang sudah tahu kedekatan Alex dan Alya. Mereka sudah biasa menonton kemesraan dua pasangan HTS itu ketika berada di kelas Alex.
Tiba saatnya pemotongan kue. Ibu Alya memilih untuk tidak ikut serta, karena ingin memberikan waktu kepada putrinya untuk berkumpul dengan teman-temannya. Potongan kue pertama ia berikan kepada Alex. Setelah mendapat suapan dari Alya, Alex mencium pipi Alya hingga membuat pipi Alya merona.
"Kalian?!"
***