Salah-9

899 Kata
Ana masih menangis dalam pelukan Alex. Lelaki itu mengusap lengan atas Ana untuk memberinya ketenangan. "Apa yang kita lakukan, Lex?" tanya Ana dalam isakannya. "Kamu menyesal?" "Kamu tidak akan meninggalkanku, kan? Kalau aku hamil bagaimana?" "Kamu tenang saja ... itu tidak akan terjadi." "Kamu harus janji tidak akan pernah meninggalkanku!" "Iya, Sayang ... iya ...." *** Waktu terus berjalan. Semenjak kejadian itu, mereka jadi sering melakukannya. Tentu saja Alex selalu menggunakan pengaman agar apa yang mereka lakukan tidak merusak mimpi mereka. Tidak ada yang berubah dari Alex. Dia masih sama seperti biasanya. Saat jam istirahat, Alex mengajak Ana makan di kantin. Meja paling pojok menjadi pilihan mereka. Di sana, biasanya jarang ada yang menempati. Di sanalah Alex biasa meminta Ana melakukan apa yang dia mau. Di saat teman-temannya menggunakan waktu istirahat untuk makan, Alex justru memilih menggunakannya untuk menuntaskan hasratnya. Kondisi meja yang bawahnya tertutup, membuat tangan Ana leluasa bergerak di paha Alex. Tidak akan ada yang bisa melihat. Apalagi, di sana juga tidak terjangkau oleh CCTV. “Makasih, Sayang,” ucap Alex saat Ana selesai melakukannya. Dengan tisu kering dan basah, Alex membersihkan tangan Ana. “Besok-besok aku nggak mau lagi. Nanti kalau ketahuan gimana?” “Tenang aja ... aman. Nanti, di rumah giliran aku nyenengin kamu. Kamu jangan khawatir, Sayang ....” “Ih ... apaan, sih?! Siapa juga yang kepengen.” “Halah ... kamu. Tuh, d**a kamu udah kenceng gitu,” goda Alex. “Apaan, sih, Lex! Di sekolah jangan ngomongin itu, ah ....” “Iya ... iya. Jadi pengen, ya?” “Ih ... Alex!” Ana memukul Alex berulang kali. “Iya, Sayang. Maaf.” *** Dua bulan berlalu, Alex mulai berubah. Mulai jarang memberi kabar, jarang mengantar jemput Ana, juga jarang menghampiri Ana di kelasnya. Ana mencoba mencari Alex di kelasnya. Namun, ia hanya bertemu dengan Erik. "Rik! Sorry ... kamu lihat Alex nggak?" tanya Ana. "Emh, sorry An. Gue nggak liat," jawab Erik terlihat ragu-ragu. "Oh ... ya udah. Kalau nanti ketemu, tolong bilang aku nyariin, ya." "Iya, An ...." "Oke, makasih. Aku ke kelas dulu," pamit Ana. "Sama-sama, An ...." Setelah Ana pergi, Alex terlihat masuk dengan menggandeng pinggang salah satu teman sekelasnya. Ia duduk di samping Erik. "Ana nyariin lo. Tadi dia ke sini," ucap Erik. "Oh," jawab Alex cuek. "Kok cuma oh?! Tobat, Lex! Tobat! Gue yakin, lo udah makan dia, dan sekarang lo mencampakkan dia?!" "Udahlah Rik ... lo kaya nggak tahu gue. Dan lo tahu? Ini rekor pertama gue. Gue jadian sama dia sampe berbulan-bulan." "Dan seharusnya lo nggak mutusin cewek-cewek lo setelah apa yang lo lakuin ke mereka." "Ayolah Rik, mereka aja pasrah-pasrah aja pas ngelakuinnya." "Ck," decak Erik. Ia sudah tidak tahu lagi apa yang ada di otak Alex. *** Tidak bisa menemui Alex di sekolah, akhirnya Ana datangi rumah Alex. "Selamat siang, Bik," sapa Ana kepada Bik Asih yang membukakan pintu. "Eh, Non Ana. Selamat siang, Non ...." "Alex-nya ada, Bik?" "Ada Non, di kamarnya." "Boleh aku ketemu dia, Bik?" "Oh, iya Non ... silakan." "Makasih, Bik." Ana masuk ke rumah Alex, kemudian berjalan menuju kamar Alex. Di depan kamar Alex, Ana langsung membuka pintu. Tampaklah laki-laki itu yang sedang duduk di sofa. Pandangan Alex teralih pada Ana. "Kamu?" Ana tak menjawab, ia berjalan mendekat kemudian duduk di samping Alex. Tanpa bicara apa pun, Ana merebahkan kepalanya di paha Alex. Ia memejamkan mata dua bulir air mata keluar begitu saja. Tangan Alex terulur mengusapnya. "Kamu ke mana saja?" tanya Ana dengan suara berbisik. "Apa salahku? Kenapa kamu harus menghindariku?" "Aku tidak menghindar. Aku hanya ingin kita fokus pada ujian dulu. Satu minggu lagi kita ujian, kan?" "Apa harus menjauhiku? Kamu yang mengatakan akan menghapus kesepianku. Kamu yang mendekatiku. Bukan aku yang ngejar-ngejar kamu," keluh Ana. "Maaf," ucap Alex. Wajahnya menunduk, kemudian mengecup kening Ana. "Harusnya kita saling menyemangati. Kita bisa belajar bersama. Bukannya malah menjadikan ujian sebagai alasan untuk menjauh." "Iya ... iya ... aku minta maaf." Setelah adegan itu, hubungan mereka kembali mencair. Mereka kembali bercanda. Dan seperti biasa, perbuatan terlarang pun kembali mereka lakukan. *** Hubungan Alex dan Ana mulai hambar kembali. Satu minggu setelah ujian, Alex kembali menghindari Ana. Apalagi karena sudah tidak ada lagi kegiatan di sekolah, Alex memilih untuk membolos. Ponsel Alex pun, susah sekali dihubungi. Pagi ini, Ana melihat mobil Alex terparkir di parkiran sekolah mereka. Dengan semangat 45, ia berjalan cepat menuju kelas Alex. Di pintu kelas Alex, Ana melihat Alex sedang duduk bersisian dengan temannya yang seorang wanita. Namun, Ana hanya bisa melihat punggung orang itu. Tawa terlihat jelas mengembang di bibir Alex. Melihat penampakan Ana di pintu kelasnya, Alex menghentikan tawa. Kemudian berdiri lalu berjalan mendekati Ana. "Ada apa?" tanya Alex begitu sampai di depan Ana. "Tidak ada apa-apa. Aku mengganggu, ya?" Ana balik bertanya. "Sedikit. Aku ingin menghabiskan saat-saat terakhirku di sekolah ini bersama teman-teman sekelasku," jawab Alex dengan menunjukkan wajah tidak minatnya pada Ana. "Kalau begitu, aku minta maaf. Apa nanti pulang sekolah kita bisa bertemu?" tanya Ana ragu-ragu. "Aku nggak janji. Aku ada janji sama Erik," ucap Alex bohong. "Oh ... ehm, nomor kamu kenapa? Kenapa susah sekali dihubungi?" "Hp-ku rusak." "Baiklah. Kalau begitu, aku ke kelas dulu ya," pamit Ana. Alex mengangguk tanpa sedikit pun berniat mengatakan apa pun. Erik yang melihat dari tempatnya duduk, merasa iba pada Ana. Tega sekali Alex memperlakukan Ana demikian. Setelah Ana pergi, Alex kembali ke tempat duduknya. "Ana tidak melihatku, kan?" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN