********
Di Rumah Sakit
4 jam berlalu, dan waktu menunjukkan pukul 12 siang. Asya duduk termenung lantai depan ruangan dimana Alvian di tindaklanjuti. Kakinya ditekuk agar dapat menenggelamkan wajahnya yang rapuh. Ia ingat betul 4 jam lalu dirinya ambruk kelantai dan kepalanya menghantam ujung meja riasnya yang membuat luka dipelipisnya. Ia hancur saat mengetahui bahwa kondisi Alvian kritis dan harus segera ditindak.
“berdirilah Asya, duduk diatas” ucap seseorang lelaki yang ia kenal. Asya merasakan rambut Panjang sebahunya di elus. Sambil mengangkat sedikit kepalanya, Asya menggeleng.
“semuanya akan baik baik saja, percayalah Alvi adalah pria Tangguh” ucap leleaki yang sama tadi, sekarang tangannya berada dilengan Asya dan segera mengangkat Asya yang terduduk di lantai sejak 3 jam lalu. Asya yang tidak memiliki kekuatan lagi untuk menolak akhirnya terangkat oleh pria gagah disampingnya.
“kak Bian, aku tidak mau kehilangan Alvi” tangis Asya pecah lagi. Pipinya Kembali basah, wajahnya memerah dan mulai sesegukan. Sabian dengan cepat membenamkan kepala asya di dadanya dan membelai lembut rambut Asya. Asya tidak menolak. Di pikirannya Sabian peduli dengannya karena ia adalah kekasih adiknya
“tidak akan terjadi hal apapun Sya” ucap Sabian. Jantung Sabian berdegub kencang, bukan karena kondisi adiknya, melainkan karena tangan dan tubuhnya bisa merasakan menyentuh lawan jenisnya.
Sabian memang selama ini tidak pernah dekat dengan Wanita manapun. Ia hanya sibuk mengurus perusahaan Ayahnya yang makin maju. Sabian adalah pewaris 2H Group milik keluarga Hari Harjanta sang Ayah. Ayah Sabian sedang berada di Negara berbeda dengannya untuk menjalakan bisnis di sana, sedangkan ibunya sudah meninggal saat adiknya, Alvi berusia 15 tahun. Ayah Alvian dan Sabian akan tiba sore ini ke negara Alvian dan Sabian tinggal, berita kritisnya Alvian membuat Ayahnya harus segera dating menemuni putra ke duanya.
“pelipismu terluka, ayo kita obati” Ajak alvian melepaskan pelukannya pada Asya.
“tidak usah kak, aku hanya ingin disini, aku tidak mau kemana mana, ijinkan aku disini” jawab Asya memohon dan disambut anggukan kecil Sabian.
Pukul 2 siang Terlihat dokter dan perawat keluar membawa serta alvian yang terbaring lemah keluar dari ruangan dan membawanya pergi.
“dok ,, bagaimana..” kata kata yg ingin Asya ajukan seketika terhenti saat sang Dokter memotongnya.
“Saudara Alvian sudah ditangani, sekarang akan kami bawa ke ruangannya Kembali” Dokter paruh baya tersebut tersenyum pada mereka berdua. Mendengar hal tersebut membuat Asya sangat senang sampai kembali menitikkan airmata. Asya dan Sabian mengikuti sang dokter menuju ruangan Alvian semula.
“belum boleh ada yang masuk selama perawatan intens, Bapak Alvian tidak boleh dikunjungi dulu bu” ucap salah satu perawat dengan tersenyum pada Asya. Asya sangat kecewa karena belum boleh menemui Alvian, ia sudah rindu dan ingin sekali mengelus pipi Alvian seperti yang sering ia lakukan. Asya tersenyum mengangguk pada perawat tadi.
“Asya, kita makan dulu, sudah hampir sore dan aku lihat kamu belum makan” ajak Sabian. Asya menggelengkan kepalanya.
“Asya belum lapar kak” jawab Asya berdiri membelakangi Sabian. Dirinya terus sibuk memandangi kekasihnya dibalik jendela kecil yang memisahkan mereka. Sabian menghela nafas Panjang.
“kamu mau makan atau tidak boleh menjenguk Alvian lagi?” kata Sabian sedikit menaikkan nada suaranya yang membuat Asya tertegun. Sabian tidak menyangka Asya akan membatu setelah apa yang dikatakannya tadi. Ada sedikit rasa bersalah, namun tidak ada pilihan lain.
“iya kak baik” angguk Asya.
“maafkan aku Sya, aku tidak bermaksud, aku hanya ingin kau makan dulu agaarr…” Sabian menghentikan pembicaraannya sendiri.
*astagaaa, kenapa aku berbicara sangat Panjang* batin Sabian.
“Ayo Sya” ajak Sabian mengajak Asya. Asya pun mengikuti sabian dari belakang.
Asya dan Sabian makan Bersama dikantin besar dan Klasik milik Rumah Sakit itu, Asya duduk berhadapan dengan Sabian. Asya hanya mengambil sup sayur, selera makannya sedang tidak ada walaupun Rumah Sakit itu banyak terdapat makanan yang sangat menggugah selera. Di depan sabian sudah tersedia beef steak kesukaannya.
“Sya, kamu hanya makan itu?” tanya Sabian
“iya kak, ini cukup, aku sedang tidak berselera” Jawabnya.
Sabian makan dengan memperhatikan Asya. Asya dilihatnya begitu cantik, wajahnya yg bengkak setelah menangis menambah keimutan Asya dimata Sabian. Semakin diperhatikan wajah cantik Asya membuat jantung Sabian berdegub kencang. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 3 soreSabian dan Asya Kembali menuju ruangan Alvian dan duduk dikursi tunggu.
“Sabian, Asya?” suara lelaki tua terdengar di penjuru Lorong tempat Asya dan Sabian duduk. Ya itu Ayah Sabian dan Alvian, Hari Harjanta. Asya terbangun dari duduknya. Sabian segera memeluk Ayahnya.
“papa baru sampai?” tanya alvian rindu
“yeah, papa langsung dari bandara kesini, Asya? Kau baik baik saja?” Ayah sabian melepas pelukan Sabian dan memeluk Asya penuh kasih sayang. Asya hanya mengangguk kecil dan menitikkan air mata.
“sudah sudah, semua baik baik saja” ucap Ayah Sabian dan mengelus rambut Asya dan melepaskan pelukannya. Mereka duduk Bersama, Sabian menceritakan yang sudah terjadi pada Alvian ke Ayahnya. Raut wajah tua ayah Sabian menunjukkan kesedihan. Tak lama berselang, jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Ayah Sabian sudah pulang, Sabian meminta Ayahnya untuk istirahat dirumah karena tidak mau Ayahnya sakit mengingat kondisinya yang sudah tua. Dilorong itu hanya terdapat Sabian dan Asya.
“Asya, mari kuantar pulang, ini sudah hampir malam, besok pagi sebelum bekerja berkunjunglah” ucap Sabian
“tidak perlu kak, aku membawa motorku kesini. Aku akan disini beberapa menit lagi” jawab Asya enggan meninggalkan Alvian
“Sya, kamu juga belum bisa masuk kesana, pulanglah, besok pagi kau harus menemuinya kan?” sahut Sabian. Asya mengangguk kecil dan berdiri menghampiri jendela untuk melihat Alvian.
*aku akan segera menemuimu besok sayang* bantin Asya.
Asya pulang dan sesampainya di apartemen kecilnya, ia merebahkan diri di Kasurnya. Airmatanya menetes semakin deras dan tak sadar tertidur.
********
Esok Pagi
Asya buru buru melajukan motornya menuju Rumah Sakit dan menemui Alvian diruangannya. Tak terlihat siapapun disana, hanya ada Alvian yang berbaring tidur.
“Sayang? Kau bisa mendengarku?” tanya Asya sedih. Ya saat dirinya masuk memasng suster sudah memberitahunya Alvian belum siuman, namun Asya tetap ingin mengajakknya berbincang dengan harapan Alvian bangun.
“sepulang kerja nanti aku ingin kau membuka matamu dan melihatku ya, berjanjilah” kata Asya lirih. Asya mencium kening Alvian dan meninggalkannya. Asya Kembali melajukan motornya ke tempat ia bekerja.
Di Bank tempat Asya bekerja, Asya tetap profesional dan mengerjakan pekerjaannya sebaik mungkin. Sampai pukul 12 siang saat Asya sedang makan Bersama Icha, ia mendapati ponselnya berdering dan terdapat panggilan masuk dari Sabian. Jantungnya berdegub kencang dan nafasnya memburu. Benar saja, ponsel yang dipegangnya jatuh, air matanya menetes. Icha panik dan segera duduk disamping Asya. Icha mengambil ponsel Asya yang terjatuh dan bertanya pada Sabian apa yang terjadi. Icha sangat terkejut dan segera mematikan telfonnya. Asya berlari mengambil tasnya. Icha dengan sigap melaporkan pada Natalie, Manager Operasional di Bank itu apa yang terjadi pada Asya dan meminta Natalie untuk mengijinkannya pulang. Tak butuh waktu lama Natalie mengiyakan permintaan Icha.
*Bruukkk* tubuh Asya menabrak seseorang tak lain ialah Samuel yang sedang akan berkunjung ke Bank tersebut, alih alih hanya ingin melihat Asya lagi.
“maaf tuan” ucap Asya Gugup dan lari meningalkan Samuel.
Samuel mengernyitkan dahinya dan bertanya pada asistennya kenapa Asya berlari dan menangis. Farhan yang bingung hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Selamat Siang Pak Samuel, anda Kembali lagi, Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Natalie menghampiri.
“aah,, iya saya mau itu, cek, oh tidak saya hanya mau menambahkan Deposito tabungan saya” jawab Samuel berbohong.
“gadis itu, yang berlari, mau kemana dia?” tanya Samuel Kembali. Natalie menjelaskan bahwa salah satu karyawatinya tengah berduka. Samuel hanya mengernyitkan dahinya dan mengangguk.
********
Di Rumah Sakit
Asya berlari secepat mungkin menuju ruangan Alvian, airmatanya semakin deras membasahi pipinya didorongnya pintu kamar yang menghalangi jalannya untuk bertemu kekasihnya. Matanya terbelalak tak kala melihat Alvian yang ditengah ditutupi kain putih sampai menutup wajahnya. Ayah Alvian yg tengah menangis terkejut melihat Asya yang mematung, Sabian yang terlihat habis menangispun langsung dibuat berlari menangkap tubuh Asya yang akan terjatuh. Asya terhuyung mendekati kekasihnya, membuka kain putih yang menutupi wajah tampan kekasihnya.
“Sayang…” panggil Asya lirih, ruangan yang Asya lihat gelap, kepalanya berat dan dadanya terasa sesak. Asya terjatuh dan pingsan.
“eemmhhhh…” Asya terbangun, kepalanya terasa sakit, dia melihat wajah khawatir Sabian disampingnya.
“Aku dimana kak..” Asya bergumam lemas.
“Asya, kamu masih di Rumah Sakit, tadi kamu pingsan. Sekarang jangan banyak bergerak” jawab Sabian penuh perhatian. Dilihatnya seksama Asya menangis lagi, menangis seraya menyebut nama kekasihnya. Sabian menangkupkan wajah Asya dan menenggelamkan wajah Asya dalam dekapannya
“sudah sudah, ikhlaskan dia Asya, dia sudah tenang dan tidak merasa sakit lagi, dia akan Bahagia disurga nanti” Sabian menenangkan Asya yang padahal dirinya sendiri sedang kalut karena kepergian adiknya. Ya, Alvian pergi tak hanya meninggalkan Asya, namun meninggalkan Ayah dan juga dirinya.
Asya tetap terus menangis. Asya merasakan kehilangan yang mendalam, rasa marah Asya pada hidupnya menjadi jadi. Ia mengutuk dirinya sendirim mengutuk kenapa semua orang yang bersamanya harus pergi dg cepat, muai dari ayahnya, ibunya, dan sekarang kekasihnya. Asya benar benar kalut. Asya meminta turun dari ranjangnya untuk beretemu Alvian lagi yang sudah tiada.
“kak, antar aku menemui Alvi, aku ingin menyentuhnya untuk yang terakhir kalinya kak” ucap Asya memohon. Sabian menuntun Asya untuk bertemu Alvian yg terakhir kalinya. Didalam ruangan khusus dimana Alvian masih ditutupi kain putih, Asya menghampirinya. Langkah kakinya berat sekali, Air mata terus menetes dipipinya. Saat sudah ada dihadapan tubuh Alvian, Asya membuka penutup kainnya dan mengelus pipi Alvian. Mencium kening Alvian dalam.
*kenapa kau tinggalkan aku sendiri? Apakau tak mencintaiku? Bangunlah.. maafkan aku sayang, aku amat mencintaimu* batin Asya.
Pundak Asya diraih seorang lelaki tua tak lain Ayah Alvian. Asyah Alvian merasa iba pada Asya. Ditangkupkan wajah Aysa dengan tangannya yang sudah keriput serta mengatakan hal hal yang membuat Asya makin menangis begitupun leleaki tua itu.
Tak berselang lama, Asya dan lelaki tua itu keluar dari uangan, Sabian lanntas berdiri. Asya melihat sosok yang tak asing baginya, ya, Icha sudah sampai di Rumah Sakit. Icha buru buru mendekap Asya dan menenangkannya. Icha terus berada di samping Asya dan enggan beranjak dari duduknya untuk menenangkan sahabatnya itu.
“Asya, ayo kuantar pulang,” ucap sabian dan disambut gelengan Asya.
“Sya, ini sudah malam, besok pemakaman akan dilaksanakan, akan ku jemput dirimu besok pagi” kata Sabian. Asya baru ingin menolak, icha memotongnya.
“Asyakuuuu, dengarkanlah kata kak Sabian, apa kau mau Alvi sedih melihatmu seperti ini?” ujar Icha membuat Asya langsung menuruti kemauan Sabian.
Icha dan Asya berpamitan pada Ayah Alvian yang masih ada disana, setelah memeluk Asya, Ayah Alvian tersenyum sedih dan menyuruh Asya untuk beristirahat. Icha berpamitan pada Asya dan berjanji akan menemaninya besok di pemakaman.
Dimobil yang dikendarai Sabian, Asya hanya terdiam dan menatap ke jalanan. Sabian juga tidak mauberkata hal apapun karena ia tau apa yang sedang dirasakan kekasih adiknya itu.
“sudah sampai, ayo kuantarkan” ucap Sabian sambal membuka seatbeltnya.
“tidak perlu kak, aku bisa sendiri” jawab Asya pelan.
“Baiklah, beristirahatlah dengan baik, besok akan ku jemput” ucap Sabian saat tangannya Kembali memasang seatbeltnya. Asya hanya mengangguk dan meninggalkannya.
********
Pagi Hari
Asya sudah berada dipemakaman kekasihnya, ditemani Icha. Upacar pemakaman di gelar tertutup. Dihadiri beberapa kolega perusahaan dan juga keluarga dekat. Asya tak kuasa menahan tangisnya saat peti dimana tubuh kekasihnya diletakkan harus di timbun dibawah sana dengan tanah.
Acara pemakamanpun selesai dan menyisakan Sabian, Asya dan Icha.
“Sya, ayo pergi” ucap Icha pelan. Asya tak menggubrisnya. 5 menit berselang Sabian mengangkat tubuh Asya dengan memegang kedua lengan Asya hingga membuat gadis itu berdiri. Tidak menolak, Asya dibawa oleh Sabian meninggalkan pemakaman Alvian.
*Selamat tinggal sayang, aku akan merindukanmu* batin Asya.
“Sya, duduklah, aku akan mengambilkan air” Sabian merebahkan tubuh Asya pelan di sofa kecil apartemen Asya. Asya diantar oleh Sabian pulang karena Icha harus kembali bekerja.
“ini, minumlah” Sabian menyodorkan segelas air putih. Asya mengambilnya dan meminumnya sedikit.
“Kak, pulanglah, aku ingin tidur” pinta Asya lirih
“Baik, akau akan pulang, beristirahatlah” Sabian menepuk pundak Asya dan meninggalkan Asya sendiri. Asya menuju kamarnya dan menaiki kasurnya. Asya berbaring, memegang lututnyadan Kembali menangis hingga tertidur.
Tokk Tokk Tokk .. Suara pintu apartemen Asya membangungkan tidur lelapnya. Asya memicingkan mata dan meraih ponselnya untuk melihat jam.
“Jam berapa ini? Ponselku mati? Siapa yang mengetuk pintu jam segini?” Asya bangun dari tidurnya dan membuka pintunya. Sabian, ya dialah yang mengetuk pintu Asya
“oh Kak Bian, silahkan masuk, kenapa malam malam kesini?” tanya Asya mempersilahkannya masuk
“aku menelfonmu tadi, namun ponselmu tidak aktif, aku takut terjadi sesuatu padamu, aku juga membawakanmu makanan” jawab Sabian sembari menaruh bingkisan makanan yang dibawanya. Asya terdiam sejenak, ia teringat akan kekasihnya, biasanya Alvian akan berkata hal yang sama jika ponselnya mati.
“ah, anu ponselku lowbat kak, aku tertidur dan baru bangun, terimakasih atas makanannya, aku akan makan nanti” jawab Asya.
“okey, kalau begitu aku pulang dulu ya” Sabian berdiri dan berjalan menuju pintu. Asya yang tak enak hati karena Sabian sudah membawakannya makanan langsung menawari Sabian.
“eh, kak Bian sudah makan?”
“belum” jawab Sabian menggeleng
“Kalau begitu makanlah disini kak, bingkisan yang kaka bawa terlalu bnyak untukku” ajak Asya
“apakah tidak merepotkanmu Sya?” tanya Sabian
“tidak kak, duduklah, aku akan bawakan piring dan air” Asya menjawab dan langsung menuju dapur.
Asya dan Sabian makan diruang tamu. Aysa merasa lapar dan menghabiska satu piring nasi ayam yang dibeli oleh Sabian. Sabian tersenyum simpul melihat Asya yang lahap makan.
“terimakasih Sya atas tumpangannya untuk makan”ujar Sabian sambal berjalan menuju pintu.
“sama sama ka, terimakasih makanannya ya” jawab Asya.
“aku akan pulang, Jaga dirimu baik baik” tangan Sabian mendarat di atas rambut Asya dan menepukknya pelan. Asya mengangguk, menutup pintu dan Kembali ke kamarnya untuk tidur.
********
Seminggu berlalu
Asya sudah mulai Kembali bekerja. Asya meminta ijin pada atasannya untuk tidak bekerja selama seminggu full untuk memulihkan kondisi psikisnya. Saat di tempat bekerja Asya disambut oleh Icha yang sangat merindukannya dan juga mendapatkan banyak sekali doa dan dukungan dari rekan kerjanya. Asya mulai membiasakan diri dengan keadaannya sekarang. Memulai aktivitasnya Kembali walaupun hatinya masih sakit.
********
“apa Wanita itu sudah mulai Kembali bekerja?” tanya Samuel yang sedang merapikan jasnya. Samuel tau bahwa Alvian sudah tiada. Samuel mendengar kabar itu dari asistennya, dan mendengar bahwa Asya sudah mulai bekerja.
“Good, aku punya suatu rencana Farhan” Samuel membisikkan sesuatu ditelinga asistennya itu dan disambut anggukan olehnya.
*sebentar lagi aku akan mendapatkanmu* batin Samuel.
“Asya? Ini untukmu” pekik salah satu security menghampiri Asya membawakan buket bunga mawar berwana merah dan menjulurkannya pada Asya
“hah? Aku? Dari siapa?”
“Aku tidak tau Sya, tadi seorang kurir menitipkannya untuk diberikan padamu” jawab security yang dikenal Asya itu sambal meninggalkan Asya.
“tidak ada nama pengirimnya? Issshh, iseng sekali” Asya membawa bunga itu dan membiarkan bunga tersebut dimeja dan tak digubrisnya.
********
Semenjak hari dimana Asya mendapatkan bunga mawar pertama dari orang yang tak dikenalnya, Asya terus menerus mendapatkan kiriman bunga lagi dan lagi. Hamper 1 bulan lamanya setiap hari Asya akan mendapatkan bunga. Entah di depan kamarnya, di meja kerjanya, bahkan saat Asya pergi ke mini market seorang kurir mmembawakan bunga untuk dirinya.
“creepy bgt sih” ujar Asya yg sedikit dirundung ketakutan. Asya sempat berpikir bahwa itu adalah ulah Sabian karena disetiap bunga yang diberikan ada inisial S yang tertera. Namun semua itu bukan dilakukan oleh Sabian karena Asya sudah bertanya, namun Sabian mengaku tidak melakukan hal tersebut.
********
Hari Sabtu
Hari sabtu pun tiba, hari ini Asya pergi ke makam mantan kekasihnya. Sekarang Asya mulai sedikit bisa menahan airmatanya. Kali ini ia lebih kuat dari biasanya. Sambal tersenyum simpul, Asya meletakkan buket bunga mawar putih diatas makan tersebut.
“hai…” ada suara yang tidak dikenal oleh Asya. Asya menoleh dan berdiri
“ya, tuan, ada yang bisa saya bantu?” tanya Asya
“Asya ya, perkenalkan, saya Samuel” senyum Samuel menyeringai
“tuan tau nama Saya?”
“Kamu Alesya kan, yang bekerja diBank di Jalan Bouklgen?”
“Tuan siapa? Bagaimana tuan bisa mengenal saya?” tanya Asya bingung
“saya pria yang kamu tabrak bulan lalu” jawab Samuel senang “saat itu kamu berlari dan menangis, tak sengaja kamu menabrak saya” .
Asya mencoba mengingat ingat kejadian dimana ia menabrak seseorang. Sedikit lama berpikir Asya baru mengingat kejadiannya.
“Ahh,, astaga tuan, saya minta maaf. Saya benar benar tidak sengaja” Asya meminta maaf seraya menundukkan kepalanya.
“tidak mengapa Asya, oh ya, suka dengan bunga yang saya kirim?” tanya Samuel yang membuat Asya terkejut.
“tuan yang mengirimkannya? Untuk apa?” tanya Asya terkejut
“Saya suka padamu” jelas Samuel dengan menyeringai. Bola mata Asya membulat terkejut atas pernyataan pria didepannya yang jelas jelas tidak dikenalnya itu.
“Sepertinya kau hendak pulang, mau kuantar?” tanya Samuel.
“tidak terimakasih tuan, saya bawa kendaraan sendiri, permisi… dan.. tuan, apakah kau bisa berhenti mengirimkan bunga untukku lagi? Saya rasa itu berlebihan,.. permisi….” ucap Asya sedikit menundukkan kepalanya dan terlihat sedikit risih lalu berjalan meninggalkan Samuel.
*Sial, ternyata tidak mudah mendekatinya* batin Samuel kesal.
********
Asya membuka pintu kamarnya, meletakkan tas dan syalnya di gantungan dekat pintu apartemennya. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa kecilnya. Dipandanginya seluruh isi apartemennya itu. ia mulai mengingat hal hal manis bersama Alvian disana.
“sayaaang,,,,” ucap Acap Asya manja sembari mengalungkan kedua tangannya dileher Alvian
“aku mau eskriimm,, boleh yaa makan eskriimmm” pinta Asya manja.
“kamu ini baru saja sembuh dari batuk… tunggu seminggu lagi ya, aku akan membelikanmu es krim Sundays kesukaanmu, bagaimana?” tangan Alvian memengang pinggang ramping Asya dan langsung menggendongnya manja.
“Aaah,, kamu pelit” rengek Asya manja. Rengekan Asya membuat Alvian sedikit mulai b*******h. Dibawanya Asya menju kamar dan membantingnya ke Kasur. Alvian memperhatikan Asya mendetail, rok span yang dipakai Asya sedikit terbuka keatas menampakkan paha mulusnya. Kemeja putih yang dipakainya sedikit ketat dan kncing yang tak sengaja terbuka membuat Alvian b*******h. Ia mulai mendekati Asya dan menindih Asya dengan tubuh gagahnya. Wajah mereka saling berdekatan tidak ada jarak yang memisahkan keduanya. Anafas Asya memburu, ia merasakan sesuatu dibawah sana milik Alvian mulai mengeras. Alvian mulai mengecup bibir indah kekasihnya itu, Asya membalas ciuman hangat Alvian. Keduanya sangat b*******h, dengan sadar tangan Alvian sedikit meremas d**a Asya dari balik kemejanya. Ciumannya turun ke leher jenjang Asya.
“aah, sayangggg” lirih Asya merasakan gelinya bibir Alvian menyentuh lehernya. Tangan Alvian mulaimembuka kancing baju milik Asya satu persatu hingga terbuka dan menamppakkan p******a padat Asya yang masih tertutup bra hitamnya. Alvian berhalih menciumi p******a indah Asya. Asya menggeliat tak kala setiap sentuhan Alvian membuatnya geli keenakan. Alvian Kembali mencium bibir Asya yang saat itu terlihat sayu menikmati sentuhannya.
“kau menyukainya?” Ujar Alvian dengan tatapan b*******h yang membuat Asya hanya mengangguk. “Apaka aku boleh melakukannya?” tanya Alvian berbisik ditelinga Asha
“nooo.. kau tidak boleh sayang, tunggu nnti jika kita sudah menikah” jawab Asya menangkupkan wajah Alvian yang terlihat masih sayu b*******h. Alvian tersenyum
“aku akan segera menikahimu dan memiliki semua tubuhmu” ujar Alvian sembari menyisir rambut Asya. Wajah Asya memerah malu. Alvian Kembali menciumin kekasihnya, Asya.