bc

Alesya (Antara Cinta dan Kepedihan)

book_age18+
107
IKUTI
1K
BACA
mate
goodgirl
dare to love and hate
CEO
drama
city
coming of age
lies
virgin
passionate
like
intro-logo
Uraian

KONTEN 21++

dibawah umur harap bijak !!!

Akan banyak adegan yang tidak boleh dibaca dibawah 18tahun !!!!!

Belum lama semenjak kepergian Alvi kekasihnya, Alesya atau sering dipanggil Asya harus berhadapan dg lelaki kaya raya yang terus menerus mendekatinya, ya Samuel Artabima pemilik perusahaan ternama dikota besar tersebut. Belum lagi kakak kandung mantan kekasihnya yang baru saja meninggalkannya mengutarakan perasaan yang selama ini dia pendam begitu lama.

Bagaimanakah kisah perjalan hidup Asya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Eps 1
*Drttt ….. drrttt…… drrttt…..  bunyi ponsel Asya yang begitu nyaring dan membuat Asya terperanjat dari kasurnya. “Aissshhh… aku terkejuutt!! Jam berapa sekarang? ” sentak Asya dengan wajah bantalnya dan rambut Panjang sebahunya yang tengah berantakan sembari mengambil ponselnya yang menunjukkan pukul 5 pagi. Asya turun dari kasurnya dan segera menuju dapur. Asya akhir akhir ini tidur hingga larut malam dan harus bangun sepagi mungkin. Rutinisnya menjadi sangat berantakan setelah kekasih yang amat dicintainya, Alvi Hari Harjanta yang sudah ditemaninya selama 5 tahun harus dirawat intensif di Rumah Sakit karena mengalami kanker darah. “hari ini aku akan memasak sup ayam kesukaan Alvi saja, dan beberapa cemilan favoritnya” gumam Asya sembari mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat sup ayam yang sudah dia persiapkan semalam dari kulkasnya. Setengah jam berlalu dan makanan yang Asya buat sudah siap. Asya mulai memasukkan makanannya yg sedikit mengeluarkan asap ke wadah yang akan dia bawa menuju rumah sakit dan satu wadah lagi untuk bekalnya bekerja. Selesai mempacking makannya, Asha berlari kecil menuju kamar mandi, melucuti piyama tidurnya dan bergegas menghidupkan showernya. Waktu menunjukkan pukul 06.30 asha terlihat sedang memoles bibirnya dengan liptint berwarna peach kesukaannya lalu merapikan seragamnya. Asya bekerja di salah satu Bank Swasta terbesar Negara Asya tinggal dan menjadi salah satu teller terbaik di Bank tersebut. Asya memandangi tubuhnya didepan cermin besar di kamar kecilnya dan tersenyum cantik dan mulai mengagumi tubuhnya sendiri “hmmm…. Kenapa aku cantik sekali hari ini? Hihihi” pekik Asya sambal menertawai dirinya sendiri. Asha memang begitu cantik dan menawan, Asya berwajah anggun, matanya bulat sepurna, dagunya runcing dan pipinya tirus, memiliki pinggang yang ramping, payudaranya padat proporsional, kulit yg kuning langsat dan juga tingginya yang proporsional bak model catwalk. Tak diragukan lagi banyak pria di tempat ia bekerja sampai membeku saat dirinya harus berhadapan dengan Asya. Asya bergegas mengambil bekal yang akan ia bawa ke Rumah Sakit dan segera menuju tempat motornya diparkir dan sesegera mungkin meninggalkan apartemen kecilnya itu. Asya melajukan motornya dengan kecepatan sedang, tak sampai 10 menit Asya sudah berada di basement Rumah Sakit tempat kekasihnya berada. Asya membuka pintu dengan perlahan seraya menyapa Alvi sang kekasih yang berbaring lemah di kasurnya “Sayang, Selamat pagi,,, apa kau sudah bangun?” katanya. Alvi yang sedang berbaring menoleh pada suara yang lembut yang amat dia rindukan “Asya, aku sudah bangun sayang.. kenapa kau datang siang sekali? Kalau kamu telat bagaimana?” tanya Alvi. “Aku tidak akan telat sayang, ini baru pukul 7, tempat kerjaku cukup dekat kok. Kamu tidak perlu khawatir” Senyum Asha sembari duduk disamping kekasihnya. “Tebak aku bawa apa?” asya menagkupkan wajah sayu alvi dengan kedua tangan kecilnya. “hhmmm.. aku tau, kamu pasti membawakan makanan enak kan?” Jawab Alvi dan mengambil tangan kanan Asya dan mencium punggung tangan Asya “iiihh kamu mah gitu, yang spesifik doongg” jawab asya dengan nada manja “Soto Ayam? Soto Daging? Sup Udang?” jawab Alvi “Saa Laah !!, Aku membawakan Sup Ayam kesukaanmu dan beberapa cemilan sehat lainnya, lihat aku bawa..” belum selesai mendengarkan ocehan Asya tangan Alvi meraih pipi Asya sembari tersenyum kecil “Aku mencintaimu Asya, Sungguh…” Ucap Alvi dengan wajah berkaca kaca Asyapun mulai meneteskan air matanya, dan mletakkan makanan Alvi dimeja. Asya mendekatkan wajahnya pada alvi dan mengelus pipi Alvi. “Aku sangat merindukanmu sayang, cepatlah pulih, aku ingin terus bersamamu” ucap Asya lalu mendaratkan bibirnya pada bibir pucat Alvi. Keduanya hanyut dalam sentuhan yang sudah lama mereka rindukan. Tak lama Alvi melepaskan cium hangat mereka dan kembali mengusap pipi ASya yg sedikit basah, “berangkatlah bekerja, ini sudah siang, besok hari liburmu kan? berjanjilah untuk menjengukku lebih lama” Ucap Alvi Asya tersenyum seraya berkata “Iyah, aku pamit berangkat dulu, jangan lupa cepat sarapan ya, dan minum obatmu, aku akan kesini besok sepagi mungkin, Aku Mencintaimu Alvi” Ucap Asya dan mencium kening Alvi. “Aku juga sngat sangat mencitaimu” Jawab Alvi seraya menagkupkan wajah Asya dikedua tangannya. Asya meninggalkan ruangan Alvi dan tanpa sadar menabrak sesorang “Astaga, maafkan saya,,,, Kak Sabian?” tanya Asya sedikit terkejut dan lega.  Dilihatnya orang yang ia tabrak adalah kakak kandung  Alvi, kekasihnya. Ya Sabian Hari Harjanta, pria tampan berwajah sedikit mirip dengan Alvi itu yang ia tabrak, Sabian dan Alvi adalah dua bersaudara yang sangat akur setau Asya. Sudah lama Asya tidak melihat sabian karena kesibukan Sabian mengurus perusahaan milik mendiang Ayah dan Ibu mereka. Keluarga Harjanta adalah keluarga yang terbilang kaya hingga membuat keturunan Hatrjanta memiliki asisten dan bodyguard pribadi. Asya sudah mengenal seluruh keluarga Alvi kekasihnya mengingat kisah cintanya yang menyentuh angka 5 tahun. Seluruh keluarga Alvipun mengenal Asya dengan baik dan sangat menyukai kepribadian Asya yang sederhana. “Asya baru dari ruangan Alvi ya? Sudah mau pulang?” tanya Sabian tersenyum ramah “eh, iya kak Sabian, Asya baru saja menjenguk Alvi, Asya pamit berangkat kerja dulu ya kak” jawab Asya ramah “Baik, hati hati dijalan ya Asya” Sabian menyeringai kecil. Asya tersenyum dan meninggalkan Sabian tanpa menyadari Sabian terus menatap kepergiannya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, perut Asya sudah mulai kereoncongan dan reflek Asya memegang perut datarnya. “Laper ya Sya?” Sahut Icha. Icha adalah sahabat dekat Asya yang sudah menjalin pertemanan kurang lebih 2 tahun lamanya, bertepatan dengan hari pertama Asya diterima bekerja di Bank tersebut. Kudua nya menjalin hubungan pertemanan dari awal mula training hingga menjadi semakin akrab dan bersahabat. Walaupun mereka di divisi yang berbeda, Icha kebetulan adalah seorang Teller Asuransi namun keduanya sangat dekat, bahkan selalu makan siang bersama, saking akrabnya orang sekitar menyangka mereka adalah saudara. “iya, aku lapar sekali cha” jawab Asya memelas “makan yuk, ini udh jam makan lo, kamu bawa bekal kan?” tanya Icha “bawa doonggg… yukss” Asya menarik tangan icha dan mereka bergandengan menuju kantin. Sebenarnya di sana sudah disediakan Kantin dengan banyak jenis makanan tersedia, walaupun harganya sedikit lebih mahal dari makanan diluar karyawan lain tetap saja mau makan disana karena selain menghemat waktu, rasa makanannya tidak kalah enak dari yg dijual di luaran. Namun tetap saja Asya lebih memilih membawa bekal sendiri untuk menghemat uang makannya. Asya yang hidup sendiri lebih memilih untuk berhemat agar kebutuhan hidupnya tercukupi. Asya memang memiliki kekasih kaya raya, namun tidak serta merta Asya bergantung pada kekasihnya, Asya yg mandiri itulah yang dapat membuat Alvian Hari Harjanta sangat mencintainya.  Dan begitupun dengan Icha, melihat kemandirian sahabatnya itu, icha menjadi sangat bangga menjadi temannya. “Eh, HP Kamu Sya, ada yg telfon” Ucap Icha sambal menunjuk Ponsel Asya yang sedang berkedip karena panggilan. Asya sengaja men-silent Ponselnya saat bekerja agar konsentrasi penuh pada pekerjaannya. Asya mengernyitkan dahi melihat nomor tak dikenal menelfonnya. “Halo? Siapa ya?” Tanya Asya penasaran. Asya tersenyum dan kernyitan di dahinya hilang “Sayang? Ini nomor siapa?” Suara Asya terdengar lebih nyaring dari sebelumnya dan membuat Icha tersenyum Bahagia *ini nomor kak Bastian, aku meminjamnya karena ingin menelfonmu, simpanlah nomor kakak ku ya, agar aku setiap siang hari bisa menelfonmu* sahut suara lelaki yang Asya cintai dari balik telfonnya “Iya sayang, akan kusimpan nanti, kamu sudah makan Supku? Bagaimana rasanya sayang? Kau menyukainya?” Tanya Asya bersemangat *aku sudah memakannya untuk sarapan tadi, dan sisanya baru saja kumakan untuk siang ini sebelum minum obat, rasanya enak sekali sayang, rasanya tidak ingin makan yang lain* jawab Alvi “iihh kamu berlebihan, kalau begitu besok kubuatkan lagi ya, bagaimana?” tanyanya *boleh, tapi bolehkah aku memintamu membuatkan ku semangkuk sup jagung buatanmu saja sayang? Aku sangat ingin makan sup jagung* pinta Alvi “Ahh sup jagung ya, baik sepulang kantor aku akan embeli jagung dan menyiapkannya besok untukmu” Asya mengiyakan permintaan Alvi dengan senyum manis di bibirnya *terimakasih sayang, aku tidak sabar menunggumu besok, kembalilah bekerja sayang, Aku mencintaimu…* ucap alvian “okey,, see you sayang, aku mencintaimu” Asya mematikan telfonnya dan tersenyum.                 Icha tersenyum bahagia dan memandangi wajah Asya dengan haru, ia tau sahabatnya sangat menghawatirkan kekasihnya.                 “yuk kita balik” ajakan Asya mengejutkan Icha. Icha tersenyum mengiyakan dan mereka kembali ke tempat masing masing dan kembali bekerja   ******** Mobil Alphard berwarna putih berhenti di depan Lobby Bank ternama di Negara tersebut. Keluarlah seorang yang membuat seluruh pegawai dan nasabah wanita disana terpana dengan ketampanannya. Seseorang tersebut memakai jas yang rapih dan sepatu yang terlihat mahal sekali. Samuel Artabima, pria blasteran yang wajahnya hamper mirip artis luar negeri yang terkenal. Samuel adalah salah satu nasabah yang loyal pada Bank tersebut bahkan di gadang gadang memiliki hampir setengah dari saham milik Bank tersebut. “Selamat Sore pak, ada yang bisa kami bantu?” Ucap salah seorang apparat penjaga Bank tersebut dengan ramah. Tak lama Samuel menunjukkan kartu yang menunjukkan bahwa dia adalah orang penting di Bank tersebut. Tak butuh waktu lama Samuel diantar menuju Lantai 3 dimana aktivitas per-Bank-an dilakukan. Samuel diantar oleh 2 aparat penjaga dan didampingi asisten pribadinya. Belum sampai ketempat yang dituju, Samuel berhenti mendadak, wajahnya seperti habis melihat hantu, bibirnya bergeming *Taniaa* ucapnya yang membuat asistennya, Farhan, mengernyitkan dahi dan langsung bertanya pada Bos nya “Pak Sam, ada apa?” tanya Farhan bingung.                 “Taniaa” Ucap Samuel sambil tersenyum haru.                 Farhan menatap atasannya dengan wajah bingung. Lamunan Samuel buyar seketika saat seseorang wanita menyapanya                 “Pak Sam, Selamat Sore, tumben sekali pak jam segini ada disini, bapak butuh bantuan?” kata wanita tersebut                 “Ah, iya Natalie, sorry, saya hanya ingin upgrade asuransi saya” ucap Samuel sedikit terkejut Samuel dipersilahkan oleh Natalie, Manager Operasional Bank tersebut untuk menuju tempat yang harus di lalui Samuel. Samuel berjalan tetap dengan melihat wajah yang tidak asing baginya. Sesampainya di kursi yang dia tuju, Samuel terus menatap gadis itu dari jarak yg tidak terlalu jauh dengan penasaran, ya gadis yang dia lihat adalah Asya, Asya sedang sibuk berkutat dengan uang dan nasabah dihadapannya. Asya benar benar terlihat ramah kepada setiap nasabah yang dilayani, senyum cantiknya mereka dikala sedang berbincang dengan nasabah nasabahnya. “Farhan, kemarilah” pinta Samuel. Farhan mendekat dan membungkukkan badannya karena tau atasannya sedang ingin berbicara dengan berbisik “Kau lihat wanita disana? Dia berambut lurus, dia mirip sekali dengan Tania kan?” ucap Samuel. Farhan yang mencari wajah yang disebut atasannya terkejut sekali saat melihat wajah Asya. “i..iya pak Sam,, mirip sekali” jawab Farhan gugup “Aku mau kau cari tau segala sesuatu yang berhubungan dengan wanita itu. Hari ini kau harus menemukan identitasnya” ucap Samuel sekali lagi dengan disambut anggukan dari asistennya. Sadar sedaritadi diperhatikan, tak sengaja Asya menoleh kearah Samuel berada. Mata mereka saling bertatapan dari kejauhan, Asya yang terkejut karena Samuel mentap matanya hanya bisa meringis tersenyum pada Samuel, Asya selalu menarapkan senyumnya pada semua nasabahnya. Samuel yang mendapati Asya tersenyum kearahnya langsung terdiam. Jantungnya berdegup amat kencang, merasakan gejolak rindunya pada kekasihnya, Tania yang sudah lama meninggalkannya begitu saja entah kemana. Ya, Tania adalah satu satunya wanita yang dapat meluluhkan hati bagai batu milik Samuel, Tania adalah kekasih Samuel yang pertama dan dianggap satu satunya oleh Samuel, tidak ada yang bisa menggantikan Tania dihatinya walaupun Samuel tidak tau kenapa Tania meninggalkannya begitu saja tanpa pamit. Samuel sudah mencarinya ke penghujung dunia namun tidak menemukan jejaknya. Samuel dengan tatapan tegasnya terus menatap Asya dengan penuh harapan yang dilihatnya adalah Tania, kekasihnya. Tatapan seriusnya buyar ketika Natalie menyapanya kembali. Samuel kembali fokus pada hal yang dikerjakannya.   ********                 “Asya, pulang yukk,, kamu kenapa lembur lagi?” ucap Icha pada Asya dengan nada sedikit kesal sambil melihat jam tangannya yg mengarah pada pukul 5 sore. Sudah satu jam setelah jam kantor mereka usai namun Asya tidak usai meninggalkan mejanya.                 “Sebentar, sebentar,,, total delapaaann,,, ratuss, tujuh puluh lima jutaaa… Oke selesai” Senyum lebar Asya pada Icha yang menbuat Icha memutar bola matanya.                 “Ayo cepat, ambil tasmu dan pulang” Ajak Icha memohon                 “oke okeeee” Jawab Asya seraya mengambil tasnya dan menggandeng sahabat baiknya itu.                 “aku duluan ya Asya, see you on Monday my best friend” Icha sambil melambai serta masuk ke dalam mobil Agya miliknya,                 “See you Icha…” Asya melambaikan tangannya lagi dan bergegas menuju tempat dimana motornya diparkir.                 Asya melajukan motor kesayangannya dan menuju supermarket yang tidak terlalu besar untuk membeli beberpa bahan yang akan dimasaknya untuk kekasihnya besok. Asya memarkirkan motornya di tempat yang telah disendiakan pemilik Appartemen kecil tempatnya tinggal, merogoh tasnya untuk mencari kunci appartemennya.                 Sesampainya didalam Appartemen, Asya menaruh barang belanjaannya ke dapur mininya. Tubuhnya sudah sangat pegal, hari ini Asya merasa sangat letih sekali karena banyaknya nasabah yang dilayaninya. Asya merebahkan badannya di sofa ruang tamunya yang kecil dan tidak sengaja memejamkan matanya.                 “emmhh…” Asya membuka matanya, meregangkan otot otot kakunya dan terkejut saat melihat jam dindingnya menunjukkan pukul 8 malam.                 “astagaaa,!! ,, sudah malam saja” Asya berdiri dan berlari kecil menuju kamar mandinya. Ia segera melucuti pakaiannya dan menaruhnya di tempat pakaian kotor. Asya mengguyur tubuhnya yang ramping dan sexy itu. Selesai mandi dan berganti pakaian asya makan malam dengan sup sia tadi pagi yang ia masukkan kedalam pendingin dan memanaskannya. Dengan lahap Asya makan supnya hingga habis tak tersisa. Setelah mencuci semua piring dan perabot dapur yang kotor, Asya menuju kamarnya. Kamar Asya cukup luas untuk dirinya sendiri yang memiliki Kasur berukuran double, lemari lumayan besar dan meja rias cantik di ujung kamarnya. Alasan Asya menyukai Appartemennya walaupun kecil ialah jendela yang cukup besar dikamarnya, kamar Asya berada di lantai 3 dan ia dapat melihat sebagia jalanan dengan leluasa. Jam malam ini dia gunakan untuk merenung dijendelanya tersebut. Melihat jalanan yang agak sepi karena sudah hampir tengah malam. Asya menatap jalanan dan memikirkan kekasihnya. Asya merasa amat rindu pada Alvian. Biasanya Alvi an akan selalu bersamanya dikamarnya, menghabiskan malam untuk menonton Film kesukaan mereka, memasak bersama dan bermesraan. Alvian belum pernah menyentuhnya lebih lagi, terlebih karena komitmen Asya yang memang hanya akan memberikan Tubuhnya hanya pada Suaminya membuat Alvian yang bangga pada Asya dan tidak pernah mau melakukan lebih, Alvian hanya sebatas berani mencium bibir manis Asya. Alvian tidak tinggal bersama Asya karena Alvian merasa jika ia menginap hal yang lebih akan terjadi pada mereka berdua. Lamunan Asya buyar saat Asya merasa dirinya sangat mengantuk. Asya menutup jendelanya dan membaringkan badannya.                   ********                 Disisi Lain                 “pak Sam?” Farhan mengetuk pintu ruangan kerja Samuel                 “Masuk saja Farhan” jawab Samuel                 Farhan masuk kedalam ruangan luas milik atasannya tersebut. Farhan menjulurkan map yang ternyata berisi data milik Asya dan mulai menjelaskan pada Samuel.                 “Namanya Alesya pak, biasanya orang orang memanggilnya Asya. Dia berusia sama dengan Ibu Tania, 26 Tahun, dia tinggal di daerah Subburban, hanya seorang diri. Ibunya meninggal saat ia berusia 17 tahun dan Ayah nya meninggal 2 tahun lalu” Jelas Farhan. Ingin melanjutkan penjelasannya lagi, Samuel kemudian berdiri. “Apakah dia memiliki kekasih?” Tanya Samuel intens “Benar pak, dan kekasihnya… itu.. Anak ke 2 keluarga Hari Harjanta” Farhan menundukkan kepalanya. Samuel terdiam, mulai mengernyitkan dahinya “Hari Harjanta? Anak ke dua? Alvian? Adik Sabian?” dengan lengkap Samuel bertanya pada Farhan yang disambut anggukan gugup Farhan. “Ahhh,, Adiknya Sabian, berapa lama mereka menjalin kasih?” tanya Samuel lagi. “yang saya dengar kurang lebih 5 tahun pak, dan kabarnya Alvian sedang dirawat intens di Rumah Sakit Harapan karena kanker darah” Jawab Farhan dengan wajah yg sedikit diangkat. Sedikit terkejut mendengar kabar Alvian, Samuel langsung memerintah asistennya untuk meninggalkannya. Samuel ingat betul Sabian, temannya saat kuliah di Eropa dulu, keluarga Sabian juga adalah kerabat keluarganya dulu. Samuel juga mengenal Alvian dengan baik karena sering sekali Sabian mengajak adiknya meeting bersama dengannya dulu. Hubungannya dengan Sabian sudah lama tidak terjalin sejak Ayah Samuel memecah saham perusahaannya dengan perusahaan Keluarga Sabian. Samuel yang sedari tadi berdiri terus menerus melihat foto Asya yang dibawa Farhan di amplop tadi, mengeluarkan ponselnya dan segera mencari foto Tania, sang kekasih. Foto mereka hampir mirip, perbedaanya tidak begitu mecolok. Tania memiliki tahi lalat di dekat bibirnya sedangkan Asya tidak. Asya memiliki kulit yang kuning langsat, Tania sangat putih. Bibir cantik Asya sangat khas, tipis dan manis, sedangkan Tania memiliki bibir yg Bold atau tebal sesuai kepribadiannya yang sexy dan menggoda. *Asya sangat cantik* batin Samuel.     ********                 Pagi Hari di kediaman Asya                 Sabtu pagi yang cerah, Asya sudah bersiap siap merapihkan kotak bekalnya yang akan dibawa menuju Rumah Sakit tempat Alvian dirawat. Apartemen kecilnya di penuhi dengan wangi sup jagung yang ia masak.                 “Sudah siap, saatnya berangkat” Asya bergeming dan merasa sangat Bahagia                 Dibawanya motor menuju Rumah Sakit dengan hati hati. Dan tidak sampai 10 menit Asya sampai di Rumah Sakit dan segera menuju kamar Alvian kekasihnya. Seperti biasa didepan pintu Alvian sudah ada dua orang bodyguards Alvian yang diutus oleh Sabian untuk menjaganya. Dua bodyguards tersebut menyapa Asya dengan ramah dan mempersilahkan Asya masuk.                 “Selamat pagi Alvi sayaa ngg…” Suara Asya yang tadinya nyaring langsung hilang karena sedikit terkejut. Didalam kamar Alvian terdapat Sabian yang tengah duduk di sofa yang disediakan Rumah Sakit sembari membaca majalahnya.                 “oh, maaf kak Sabian, Selamat pagi kak,” sapa Asya sembari menundukkan kepalanya menghadap Sabian lalu menghampiri Alvian di ranjangnya.                 Sabian hanya tersenyum ramah pada Asya tanpa mengatakan satu patah katapun. Alvian memandangi Asya lembut hingga Asya sampai di sampingnya.                 “Kamu bilang akan datang pagi, kenapa baru sampai?” tanya Alvian                 “hah? Ini masih jam 8 loh, ini masih pagi sayang” jawab Asya melongo, kedua tangan kecilnya menangkupkan wajah Alvian yang sedikit pucat dan mengelus pipinya.                 “hhmmm… aku maunya amu kesini sepagi mungkin,, subuh kalau bisa” ejek Alvian, tangannya mengambil tangan kecil Asya dipipinya dan menciumi punggung tangan Asya.                 “iihh kamu mah,, kalau boleh di jenguk pas tengah malam juga aku akan kesini, bilang aja kamu kangen aku kaan..??” Ucap Asya sedikit mengejek, dia seakan lupa masih ada Sabian disana yang sedikit memperhatikan mereka berdua.                 “kak, apakah aku boleh hanya berdua dengan Asya hari ini?” tanya Alvian pada Sabian kakaknya yang sedang duduk membaca majalah sedari tadi. Asya sedikit kaget saat Alvian menyuruh kakaknya dengan sopan untuk meninggalkan mereka. Sabian beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Alvian. Tangannya mengelus kepala Alvian seraya berkata                 “baiklah, aku akan pulang dulu, kau disni baik-baik jika butuh sesuatu kabari aku. Dan kau Asya, jaga adikku disini” Ucap Sabian dengan suara gagah miliknya yang membuat bulu kuduk Asya naik. Asya memang jarang sekali berbicara dengan Sabian, hanya sepatah dua patah kata saja yang biasa dilontarkan seorang Sabian padanya, kecuali saat bertabrakan waktu lalu.                 “baik kak” anggukan kecil kepala Asya mengiringi jawabannya                 “terimakasih kak” Kata Alvi                 Setiap hari Sabtu dan Minggu, Asya selalu meluangkan waktunya untuk menemani Alvian hampir seharian. Asya biasa datang pukul 8 pagi dan pulang pada pukul 6 sore. Dokter dan suster Rumah sakit tersebut tidak pernah melarang Asya untuk lama berkunjung dihari tersebut dikarenakan permintaan dari keluarga Harjanta sendiri. Setelah jam pulangnya tiba, Asya akan berpamitan pada Alvi untuk pulang dan akan bertemu dengannya besok pagi.                 ******** Esokpun tiba Hari Minggu di kota Asya tinggal sedang mendung, setelah mandi, Asya bergegas mengganti pakaian dan berdandan untuk bertemu Alvian. Ponsel Asya berdering, mendapatkan panggilan dari nomor yang sama saat Alvian menelfon. Ya, nomor Sabian. Asya sangat sumringah dan membatin *tidak bisa tunggu sebentar lagi, dia sudah rindu padaku, dasar Alvi* batinnya. “halo Al…..” suara Asya berhenti. Ia mendengar suara Sabian cemas dan menyuruhnya untuk segera ke Rumah Sakit. Rasanya hati Asya perih, semua pikiran buruk tentang Alvian hadir dikepalanya. Rasanya kepalanya berat. ********

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
190.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.6K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.6K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
72.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook