Menjauh

1630 Kata

Anindya terbangun dengan kondisi tubuh yang remuk. Belum lagi ketika ia melihat keadaan sekitar ranjang berserakan baju-bajunya. Mencoba duduk dengan sisa tenaga yang ia punya, Anindya mendapati tubuhnya polos tanpa sehelai benang. Bagusnya, tertutup oleh selimut disana. Tiba-tiba saja, memori otaknya memutar adegan panas yang terjadi semalam. Ah! Tepatnya bagaimana Sagara selalu mendominasi permainan. Anindya bahkan tak pernah tahu, apakah pria itu menikmati pergumulan mereka atau tidak. Entah mengapa, perasaannya mendadak jadi tak bisa ditebak. Anindya tak yakin dengan apa yang ia rasakan. Bahagia atau kecewa? Tok … tok … tok …! Suara ketukan membuyarkan lamunan Anindya. Ia menoleh ke ambang pintu yang tertutup. Biasanya pelayan tak akan masuk sebelum dipersilakan. “Nona, sarapan su

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN