“You’re … mine.” Ucapan itu terlontar saat kedua tangannya terkunci diatas kepala. Hanya dinding di belakangnya yang tahu seberapa menyeramkan tatapan Sagara kala itu. Tentu saja Anindya sempat merasa bahagia ketika mendengar kata yang tak terduga dari bibir suaminya. Namun, kebahagiaan itu ternyata tak berlangsung lama. Anindya lupa bahwa suaminya adalah sosok yang sulit ditebak. “Setidaknya sampai pewaris lahir dari rahim kamu.” That’s all. Anindya seharusnya sadar dan tak perlu berekspektasi. Hati Anindya benar-benar teriris. Ia pun tersenyum miris. Ah! Sepertinya ia terlalu bermimpi bisa mengacaukan Sagara saat ini. Ia pikir pria itu tengah terbakar api cemburu karena Cakra mendekati. Tapi ternyata, sang suami hanya tak ingin egonya terluka. Pria dominan sepertinya mana mau kalah d

