“Kamu, ikut saya!” Sagara menarik tangan wanita yang masih terhubung dengan Cakra. Namun, saat itu pula, Cakra menahan tangan Anindya yang lainnya. “Mas, jangan kasar sama perempuan.” Tatapan Sagara dan Cakra yang saling beradu, menciptakan atmosfer tak menyenangkan. Bukan Sagara namanya jika mudah dikendalikan. Pria itu kini justru mencengkram tangan sepupunya kemudian menghentakkannya dengan kasar. “Jangan ikut campur!” Sagara menatap tajam sampai-sampai tak ada satu pun yang bisa mengintervensinya. Usai lepas dari cengkraman tersebut, Anindya benar-benar dibawa paksa. Padahal tubuh sang wanita masih terlihat lemah. “Mas, pelan-pelan.” Anindya berkata lirih. Bola matanya mencari seseorang yang bisa menolongnya keluar dari situasi sulit itu. Tatapan pun akhirnya jatuh pada Eyang pu

