“Yangti ingat sekali tadi pagi kamu minta izin untuk mengajak Anin pergi. Lalu kenapa kamu tinggalkan dia sendiri di tengah hujan deras, huh?” Tenggorokan Sagara tercekat kala mendengar kalimat yang muncul dari bibir sang nenek. Sejahat apapun, ia tak mungkin meninggalkan Anindya sendiri di tengah hujan deras. Sagara benar-benar tak bisa memahami ucapan itu. Namun, tiba-tiba saja ia teringat ucapan sang istri pertama. “Dia bilang nggak tahan hidup di rumah ini.” Dalam hati Sagara mengumpat. Jadi, apa yang dikatakan istrinya adalah kebohongan? “Yangti …,” lirih Sagara berusaha menjelaskan yang sebenarnya. Sebab yang Gayatri tahu, Anindya pergi bersamanya sejak tadi pagi. “Apa yang kamu pikirkan sebenarnya, Sagara? Sebegitu bencikah kamu dengan perjodohan ini? Kamu tega membuang Anindy

