"Seharusnya kita tidak pergi ke sana." Suara ayahnya. Alessa membeku di balik pintu kamar rawat inap yang terbuka setengah. Ia baru saja hendak meminta perawat mengambilkan air minum, untuk pertama kali dalam dua hari ini ia bergerak dari ranjang atas kehendaknya sendiri namun langkahnya berhenti begitu mendengar suara itu dari arah koridor. "Kita sudah melakukan yang benar." Suara ibunya, lebih pelan. "Benar?" Ayahnya tertawa kecil, namun tidak ada humor di dalamnya. "Kita datang ke rumah orang itu seperti pengemis, Sera. Memohon agar anaknya sudi meluangkan waktu untuk menjenguk putri kita yang hampir saja meninggal karena ulahnya. Dan dia tetap menolak." Keheningan. "Aku tidak pernah merasa sehina itu dalam hidupku," lanjut ayahnya, suaranya turun menjadi sesuatu yang lebih sunyi

