Pengantin Tanpa Pasangan
“Alessa, kamu sudah siap?”
Suara lembut itu terdengar dari belakang, memecah keheningan yang sejak tadi menguasai ruangan. Alessa Arunika tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terpaku pada pantulan dirinya di cermin besar di hadapannya.
Gaun pengantin putih yang ia kenakan membalut tubuhnya dengan sempurna, menjuntai panjang hingga menyapu lantai marmer yang mengilap. Riasannya tampak flawless, menonjolkan kecantikan alami yang selama ini menjadi kebanggaan keluarganya. Hari ini, ia terlihat seperti wanita yang hidupnya sempurna. Namun entah kenapa, ada sesuatu yang bergetar pelan di dalam dadanya.
“Aku… siap,” jawabnya akhirnya, pelan, nyaris seperti bisikan.
Di luar ruangan, pesta pernikahan telah dipersiapkan dengan sangat megah. Hotel bintang lima milik keluarga Xavier berdiri megah sebagai saksi dari hari besar mereka. Dekorasi bunga segar menghiasi setiap sudut, lampu kristal berkilauan di langit-langit, dan tamu-tamu dari kalangan elit mulai memenuhi aula dengan pakaian terbaik mereka.
Semua orang tersenyum. Semua orang terlihat bahagia. Pernikahan ini bukan hanya penyatuan dua insan, tetapi juga dua keluarga besar yang memiliki pengaruh kuat di J-City.
“Semua tamu sudah mulai datang, Nona. Acaranya akan segera dimulai,” ujar salah satu staf dengan sopan.
Alessa mengangguk pelan, meskipun jari-jarinya terasa dingin. Ia menautkan kedua tangannya di pangkuan, mencoba menenangkan diri. Hari ini adalah hari yang sudah ia tunggu, hari di mana ia akan menikah dengan Xavier Devano Cakrawala.
Nama itu saja sudah cukup membuat hatinya bergetar.
Tanpa sadar, pikirannya melayang kembali ke pertemuan pertama mereka.
“Waktu itu, aku benar-benar panik,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Hari itu, mobilnya berhenti di tengah jalan karena ban bocor. Ia sendirian, tanpa bantuan, dan mulai merasa cemas. Tidak ada satu pun mobil yang berhenti, hingga akhirnya sebuah mobil hitam berhenti beberapa meter darinya.
Seorang pria keluar. Tinggi, rapi, dan memiliki aura dingin yang langsung terasa bahkan dari kejauhan. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung membantu mengganti ban mobilnya dengan gerakan yang tenang dan terlatih.
“Terima kasih…,” ucap Alessa saat itu, masih terkejut dengan kehadiran pria tersebut.
Pria itu hanya mengangguk singkat. Tidak ada senyum, tidak ada basa-basi, namun entah mengapa, sikapnya justru meninggalkan kesan yang dalam.
Sejak hari itu, wajah Xavier seolah menetap di pikirannya dan ketika ia mengetahui bahwa pria itu adalah orang yang dijodohkan dengannya, Alessa merasa seolah takdir benar-benar berpihak padanya.
“Ini pasti bukan kebetulan,” bisiknya pelan, menatap dirinya di cermin.
Waktu terus berjalan. Jarum jam bergerak perlahan, namun terasa semakin berat setiap detiknya. Di luar, suara musik mulai terdengar lembut, menandakan bahwa acara telah dimulai. Para tamu kini telah memenuhi aula, menunggu momen sakral yang akan segera berlangsung.
Namun ada satu hal yang belum terjadi.
“Xavier sudah datang?” tanya Alessa tiba-tiba, menoleh ke arah salah satu staf.
Staf itu terlihat sedikit terkejut, namun segera tersenyum profesional. “Sedang dalam perjalanan, Nona.”
Jawaban itu terdengar wajar, tetapi entah mengapa hati Alessa belum sepenuhnya tenang. Ia kembali menatap cermin, mencoba mencari sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Senyum tipis yang sempat muncul perlahan memudar, digantikan kegelisahan yang merambat diam-diam, mengisi ruang kosong di dalam hatinya.
“Dia pasti akan datang…” gumamnya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Lima belas menit berlalu, lalu dua puluh, hingga tiga puluh menit. Waktu terasa semakin berat, seolah menggantung di udara.
Suasana mulai berubah. Bisikan pelan terdengar di antara para tamu yang saling bertukar pandang, mempertanyakan hal yang sama. Ketidakhadiran pengantin pria.
“Kenapa belum dimulai?” terdengar suara samar dari luar ruangan.
Alessa menelan ludah. Tangannya terasa semakin dingin saat ia mencoba mengatur napas, tetapi detak jantungnya justru makin cepat. Sesuatu terasa tidak beres.
Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah cepat, berusaha tampak tenang, lalu menatap Alessa sejenak sebelum melemparkan senyum.
“Semuanya baik-baik saja,” katanya singkat.
Alessa menatapnya lekat-lekat.
“Xavier benar-benar sedang dalam perjalanan?” tanyanya, kali ini dengan suara yang sedikit bergetar.
Wanita itu terdiam sejenak, hanya sejenak.
Namun cukup untuk membuat hati Alessa semakin tenggelam dalam kegelisahan.
“Ya… tentu,” jawabnya akhirnya.
Jawaban itu terasa kosong, seperti sesuatu yang dipaksakan. Alessa kembali menunduk, merasakan keheningan yang aneh menggantung di sekelilingnya.
Gaun yang ia kenakan tiba-tiba terasa begitu berat, seolah setiap lapis kainnya menyimpan tekanan yang tidak ia pahami. Ia mengeratkan jemarinya, berusaha menahan sesuatu yang mulai muncul di dadanya.
“Tidak mungkin…,” bisiknya lirih.
Waktu terus berjalan, namun kini terasa jauh lebih lambat. Setiap detik seperti menekan dan mengikis harapan yang sejak tadi ia pegang erat.
Di luar, bisikan tidak lagi samar. Suaranya semakin jelas, tidak sepenuhnya tertahan. Semua orang mulai menyadari.
“Ditinggal di hari pernikahan?” terdengar suara seseorang, pelan namun cukup jelas.
Alessa memejamkan mata. Dadanya terasa sesak saat ia mencoba menolak semua kemungkinan yang muncul di pikirannya.
Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Xavier bukan pria seperti itu, bukan pria yang akan mengingkari tanggung jawabnya.
“Dia pasti akan datang…” ucapnya lagi, namun kali ini suaranya terdengar rapuh.
Ia berdiri perlahan. Langkahnya terasa ringan namun kosong saat mendekati pintu, tangannya terangkat untuk membuka, lalu berhenti tepat sebelum menyentuh gagang.
Ada rasa takut, takut pada kenyataan yang mungkin menunggunya di luar sana.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” bisiknya.
Suara langkah kaki terdengar tergesa di luar, disusul bisikan pelan yang tidak mampu menyembunyikan kepanikan. Suasana yang semula penuh kebahagiaan kini berubah tegang dan dipenuhi tanda tanya.
Alessa menarik napas panjang, lalu kembali ke kursinya. Ia duduk dalam diam, menunggu karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, menunggu seseorang yang tidak kunjung datang.
“Alessa…” suara itu terdengar lagi, kali ini lebih pelan.
Ia tidak menjawab. Tatapannya kembali jatuh pada pantulan di cermin, namun wanita yang ia lihat tidak lagi tampak bahagia. Ada sesuatu yang hilang, cahaya di matanya perlahan memudar. Hari yang seharusnya menjadi awal segalanya kini terasa kosong, tidak pasti, dan menyesakkan. Ia menatap pintu itu sekali lagi. Berharap, menunggu namun kali ini tanpa keyakinan.
Dalam keheningan yang semakin dalam, sebuah kenyataan perlahan muncul. Mungkin pria yang ia tunggu tidak akan datang. Jam terus berdetak, tetapi bagi Alessa, waktu seolah berhenti di titik saat harapan dan kenyataan saling menghancurkan. Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa sendiri di hari pernikahannya sendiri.
“Xavier…” bisiknya pelan.
Namun tidak ada jawaban. Tidak ada langkah kaki, tidak ada tanda-tanda kehadiran hanya keheningan yang menggantung.
Dan satu kenyataan yang tidak lagi bisa ia hindari, pengantin pria belum tiba.