Bab 2 Menunggu yang Memalukan

1084 Kata
Waktu terus berjalan, melewati batas yang seharusnya menjadi awal dari upacara pernikahan. Aula megah yang sebelumnya dipenuhi tawa dan obrolan ringan kini perlahan berubah menjadi ruang yang dipenuhi kegelisahan yang tidak terucapkan. Lampu kristal tetap berkilau indah, bunga-bunga segar tetap tersusun sempurna, dan musik lembut masih mengalun, namun suasana di dalamnya tidak lagi sama. Ada sesuatu yang bergeser, sesuatu yang tidak bisa ditutupi hanya dengan kemewahan. “Sudah hampir satu jam, kenapa belum dimulai juga?” bisik seorang tamu, cukup pelan namun tetap terdengar. Alessa masih duduk di ruang pengantin dengan tubuh yang terasa semakin kaku. Jemarinya yang sejak tadi saling bertaut kini mulai bergetar halus, seolah tidak mampu lagi menahan tekanan yang perlahan menguat. Ia mencoba mengatur napasnya, menarik dan menghembuskan perlahan, tetapi rasa sesak di dadanya justru semakin terasa nyata. Setiap detik yang berlalu seperti memperjelas sesuatu yang tidak ingin ia akui. Di luar, perhatian para tamu tidak lagi tertuju pada dekorasi atau hidangan mewah. Semua mata mulai mencari satu hal yang sama, pengantin pria yang belum juga muncul. “Ini pernikahan keluarga besar, bagaimana mungkin bisa terlambat seperti ini?” suara lain terdengar, kali ini sedikit lebih jelas. Bisikan itu menyebar perlahan dari satu kelompok ke kelompok lain. Tidak ada yang berbicara terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat suasana menjadi tidak nyaman dan penuh tekanan. Beberapa tamu mulai saling bertukar pandang, bahkan ada yang mulai mengangkat ponsel mereka, mengetik sesuatu dengan cepat sebelum menunjukkan layar pada orang di sampingnya. “Sepertinya sudah mulai ramai dibicarakan,” ujar seorang wanita muda pelan. Alessa menunduk, meskipun ia tidak melihat langsung, ia bisa merasakan perubahan itu. Seolah seluruh ruangan perlahan menjadikannya pusat perhatian, bukan sebagai pengantin, melainkan sebagai bahan pembicaraan. Harga dirinya terasa mulai tergerus, sedikit demi sedikit. “Alessa…” suara lembut itu kembali terdengar. Ibunya berdiri di ambang pintu dengan senyum yang dipaksakan. Biasanya wanita itu selalu terlihat tenang dan elegan, namun kali ini ada garis kekhawatiran yang jelas di wajahnya. Alessa menatapnya, mencari jawaban yang bahkan ibunya mungkin tidak miliki. “Tenang sayang. Papa kamu sedang berbicara dengan keluarga Xavier,” ujar ibunya pelan. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru di situlah letak keganjilannya. Jika semuanya baik-baik saja, tidak seharusnya ada kalimat seperti itu. Alessa merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungnya. “Xavier sudah bisa dihubungi?” tanyanya lirih. Ibunya terdiam sejenak, hanya beberapa detik, tetapi terasa sangat lama. “Masih berusaha dihubungi,” jawabnya akhirnya. Jawaban itu tidak benar-benar menenangkan. Alessa menunduk, jemarinya semakin dingin, sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang saling bertabrakan. Ia mencoba menolak semuanya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi. “Dia pasti akan datang, kan, Ma?” suaranya nyaris tidak terdengar. Ibunya mengangguk cepat, meskipun sorot matanya tidak sepenuhnya meyakinkan. “Tentu saja.” Namun jawaban itu terasa kosong, seolah hanya diucapkan untuk menjaga ketenangan yang mulai retak. Di sisi lain aula, kedua orang tua Xavier telah lebih dulu hadir sejak awal acara, berdiri di antara para tamu dengan sikap elegan sambil berusaha mempertahankan citra keluarga mereka. Meski demikian, ketegangan tetap terlihat jelas. Ayah Xavier beberapa kali melirik jam tangannya, sementara ibunya menggenggam ponsel dengan erat, berharap layar itu berubah setiap saat. “Xavier belum juga datang?” tanya seorang tamu dengan nada hati-hati. Ibu Xavier tersenyum tipis. “Dia sedang dalam perjalanan.” Namun begitu tamu itu menjauh, senyum itu langsung menghilang. Ia kembali menatap layar ponselnya. Sudah berkali-kali ia mencoba menghubungi putranya, tetapi tidak pernah diangkat. Ayah Xavier mendekat, suaranya ditahan rendah. “Masih tidak bisa dihubungi?” Ibu Xavier menggeleng pelan, wajahnya mulai kehilangan ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan. “Ponselnya aktif, tapi tidak diangkat,” bisiknya. Kalimat itu membuat suasana di antara mereka berubah. Untuk pertama kalinya, rasa cemas itu tidak lagi bisa disembunyikan. Bukan hanya tentang keterlambatan, tapi tentang sesuatu yang jauh lebih buruk. “Ini tidak seperti Xavier,” gumam ayahnya pelan. Namun tak ada yang bisa menjawab. Kembali ke ruang pengantin, fokus Alessa mulai goyah. Ia menatap pintu sekali lagi, berharap semuanya berubah, berharap seseorang masuk dan mengatakan ini hanya kesalahpahaman. Namun pintu itu tetap tertutup. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada langkah kaki hanya keheningan yang semakin menekan. “Sudah terlalu lama…” bisiknya pelan. Kata-kata itu terasa berat, seolah mengandung sesuatu yang selama ini ia coba hindari. Sebuah kemungkinan yang kini mulai terlihat semakin jelas. Bagaimana jika… Ia tidak datang? “Tidak… tidak mungkin,” ucap Alessa cepat, seolah menolak pikirannya sendiri. Ia berdiri perlahan. Langkahnya sedikit goyah, namun ia tetap berjalan mendekati pintu. Tangannya terangkat, hampir menyentuh gagang, lalu berhenti tepat sebelum menyentuhnya. Ia tidak siap. Belum siap menghadapi apa pun yang ada di luar sana. “Alessa, duduk dulu,” suara ibunya terdengar lagi, kali ini lebih tegas. Alessa menoleh. Ada sesuatu di mata ibunya, kekhawatiran dan ketakutan yang membuatnya terdiam. Ia perlahan kembali duduk, namun kali ini tidak lagi merasa tenang. Waktu terus berjalan, lebih dari satu jam, dan setiap detik mengikis harapan yang tersisa hingga nyaris habis. Di luar, bisikan semakin tajam, tidak lagi berusaha disembunyikan. “Sepertinya… dia tidak datang.” Kalimat itu menghantam sesuatu di dalam diri Alessa. Ia memejamkan mata rapat, dadanya sesak seolah ada yang runtuh perlahan di dalamnya. Untuk pertama kalinya, kemungkinan itu tak lagi bisa ia tolak. Saat ia membuka mata, dunia di sekitarnya terasa berbeda. Lebih sunyi, lebih dingin, dan jauh lebih menyakitkan. “Xavier…” bisiknya pelan. Namun tidak ada jawaban. Tidak ada langkah kaki, tidak ada tanda kehadiran hanya keheningan yang semakin menegaskan sesuatu. Bahwa pria yang ia tunggu mungkin benar-benar tidak akan datang. “Ini sudah terlalu lama, kita tidak bisa terus menunggu seperti ini.” Suara itu terdengar dari luar ruangan, cukup jelas hingga sampai ke telinga Alessa. Ia tidak tahu siapa yang mengatakannya, namun kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menusuk hatinya. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi bisa berpura-pura tidak mendengar. Di luar sana, keadaan benar-benar mulai keluar dari kendali. Beberapa tamu berdiri, sebagian lain mulai meninggalkan kursi mereka, sementara bisikan yang tadi hanya terdengar samar kini berubah menjadi percakapan terbuka. Tidak ada lagi yang berusaha menutupi situasi memalukan ini. “Kasihan sekali pengantin wanitanya…” Alessa memejamkan mata. Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari yang lain. Bukan karena ia tidak menyadari keadaannya, tetapi karena mendengarnya dari orang lain membuat semuanya terasa jauh lebih nyata. Tangannya menggenggam gaun pengantin itu semakin erat, seolah mencoba menahan dirinya agar tidak benar-benar runtuh di tempat. Napasnya mulai tidak teratur, dadanya naik turun dengan cepat. “Tidak… ini belum berakhir…” bisiknya lirih. Namun bahkan ia sendiri tidak lagi yakin dengan kata-katanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN