Bab 3 Hari yang Hancur

1077 Kata
Setelah lebih dari satu jam berlalu tanpa kabar, kenyataan yang sejak tadi berusaha dihindari kini mulai terasa semakin nyata. Aula megah yang sebelumnya tampak indah kini justru terasa menyesakkan, seolah setiap sudutnya menyimpan tekanan yang perlahan menghimpit. Bisikan para tamu semakin tajam, tidak lagi tertahan. Mereka tidak lagi hanya bertanya, tetapi mulai menyimpulkan. Sorotan mata yang mengarah pada satu titik kini terasa semakin jelas. “Ini benar-benar memalukan…” Alessa duduk dalam diam, namun kini air matanya tidak lagi bisa ditahan. Setetes demi setetes jatuh tanpa suara, merusak riasan sempurna yang sejak tadi ia pertahankan. Ia tidak lagi mencoba menahan. Karena ia tahu, semuanya sudah berubah. “Alessa…” suara ibunya terdengar pelan, penuh kekhawatiran. Wanita itu segera mendekat dan berlutut di hadapan putrinya, menggenggam tangan Alessa yang dingin, berusaha memberi ketenangan yang bahkan ia sendiri tak miliki. Namun Alessa tidak menjawab. Tatapannya kosong, seolah ia tengah berusaha menerima sesuatu yang terlalu berat untuk dipahami. “Ma… kenapa dia belum datang?” suaranya bergetar. Ibunya terdiam. Tak ada jawaban yang bisa ia berikan, karena semua yang terjadi sudah jauh di luar kendali mereka. Di sisi lain aula, ayah Alessa berdiri dengan wajah tegang. Rahangnya mengeras, tatapannya dingin, namun di balik itu tersimpan luka dan kecewa yang tidak bisa disembunyikan. “Kita tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut,” ucapnya dengan suara rendah. Seorang anggota keluarga mendekat, mencoba berbicara dengan hati-hati. “Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Ayah Alessa terdiam sejenak. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, menangkap setiap bisikan, tatapan, dan ekspresi yang mulai berubah. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Keluarganya sedang dipermalukan di depan semua orang. “Kita tunggu sebentar lagi,” jawabnya akhirnya, meskipun suaranya terdengar berat. Namun bahkan dirinya sendiri tidak yakin dengan keputusan itu. Di sisi lain, orang tua Xavier semakin terlihat gelisah. Ponsel di tangan ibunya tidak pernah lepas, sementara ayahnya mulai kehilangan kesabaran. “Hubungi lagi,” perintahnya tegas. Ibunya langsung menekan nomor itu sekali lagi, menunggu dengan napas tertahan. Namun hasilnya tetap sama. Tidak diangkat. “Kenapa dia tidak menjawab?” suaranya mulai bergetar. Ayah Xavier mengepalkan tangannya. “Ini sudah keterlaluan.” Situasi yang awalnya masih bisa ditutupi kini semakin sulit dikendalikan. Nama besar keluarga mereka mulai dipertanyakan dan itu bukan sesuatu yang bisa diabaikan. Kembali di ruang pengantin, Alessa mulai kehilangan kendali. Air matanya mengalir tanpa henti, sementara setiap detik perlahan menghancurkan harapan, kepercayaan, dan cinta. “Dia tidak akan datang…” bisiknya lirih. Kalimat itu keluar tanpa ia sadari. Namun begitu terucap, semuanya terasa semakin nyata. Ibunya langsung menggenggam tangannya lebih erat. “Jangan berpikir seperti itu.” Namun Alessa hanya tersenyum pahit. Untuk pertama kalinya, ia tak lagi bisa berbohong pada dirinya sendiri. Di luar, beberapa tamu mulai berdiri dan meninggalkan aula sambil menggeleng pelan, berbisik tanpa berusaha menyembunyikan kenyataan. Situasi ini sudah terlalu jelas, tidak ada lagi yang perlu ditunggu. “Ini benar-benar kacau…” terdengar suara seseorang. Alessa menutup matanya. Setiap kata itu terasa seperti luka baru yang terus ditorehkan. Ia tidak hanya kehilangan pernikahannya. Ia juga kehilangan harga dirinya. “Ma…” suaranya kembali terdengar, pelan namun penuh luka. Ibunya langsung menatapnya. “Ya, sayang?” Alessa membuka matanya perlahan. Tatapannya berbeda, tidak lagi penuh harapan. Ia tidak lagi menunggu. “Aku ingin tahu alasannya.” Ibunya terdiam. Kata-kata itu sederhana, namun mengandung sesuatu yang jauh lebih dalam. Keputusan. “Alessa…” ibunya mencoba menahan. Namun Alessa menggeleng pelan. Air matanya masih mengalir, tetapi kini ada sesuatu yang lain di matanya. Tekad. “Aku tidak bisa terus duduk di sini seperti ini,” lanjutnya lirih. Ibunya menggenggam tangannya erat. “Kita bisa menyelesaikan ini nanti.” Namun Alessa menggeleng lagi. “Tidak,” suaranya lebih tegas, meskipun masih bergetar. Ia perlahan berdiri. Gaun pengantin menjuntai mengikuti gerakannya, berat, namun tidak lagi ia pedulikan. Ia sudah terlalu hancur untuk memikirkan hal lain. “Aku harus bertemu dengannya,” ucapnya. Ibunya mencoba menahannya. “Alessa, tunggu dulu….” Namun Alessa sudah melangkah. Langkahnya tidak sepenuhnya stabil, tetapi ia terus berjalan menuju pintu, menuju jawaban. Di luar ruangan, semua mata tertuju padanya saat ia muncul dengan gaun pengantin dan wajah penuh air mata. Bisikan berhenti, digantikan keheningan. Semua orang menatap. “Alessa…” suara ayahnya terdengar. Pria itu langsung mendekat, berusaha menahan langkah putrinya. Namun Alessa menatapnya, dan untuk pertama kalinya ayahnya melihat sesuatu yang berbeda di mata anaknya bukan hanya luka, tapi juga keberanian. “Aku harus pergi, Pa,” ucapnya pelan. Ayahnya terdiam. Ia ingin menahan, ingin melindungi. Namun ia tahu, ini bukan sesuatu yang bisa dihentikan. “Kamu yakin?” tanyanya akhirnya. Alessa mengangguk. Air matanya kembali jatuh, namun kali ini ia tidak mencoba menyembunyikannya. “Aku tidak bisa terus menunggu seseorang yang bahkan tidak akan pernah datang,” ucapnya. Kalimat itu terasa seperti garis penutup dari semua harapan yang ia miliki. Ayahnya menghela napas panjang, lalu perlahan mengangguk. “Pergilah,” katanya pelan. Alessa menatapnya sebentar, lalu berbalik. Ia melangkah pergi dari aula yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya, namun kini berubah menjadi tempat kehancurannya. “Xavier…” bisiknya pelan. Namun kali ini, bukan lagi panggilan penuh harapan melainkan awal dari sebuah keputusan untuk mencari jawaban, apa pun yang harus ia hadapi. Mobil Alessa berhenti tepat di depan gerbang kediaman Xavier. Jarinya menggenggam setir erat, buku-buku tangannya memutih. "Aku harus melakukan ini sendiri." gumamnya. Alessa turun dari mobil. Gaun pengantinnya menyapu aspal, namun ia tidak peduli. Langkahnya goyah, namun terus maju. Ia menekan bel. Satu kali. Dua kali. Pintu terbuka. Seorang asisten rumah tangga menatapnya dengan ekspresi terkejut, pandangannya jatuh pada gaun putih yang kini sedikit kusut. "Saya ingin bertemu dengan Xavier," ucap Alessa. Suaranya lebih tenang dari yang ia kira. "Tuan Muda Xavier sedang…." "Tolong bilang Alessa ada di sini." Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang berat, lalu terdengar suara langkah dari dalam dan sosok itu muncul. Xavier berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja putih tanpa dasi, pakaian yang seharusnya hari ini menjadi jas pengantin. Matanya bertemu dengan mata Alessa. Dan untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. "Kenapa?" suara Alessa pecah di udara. Xavier tidak menjawab. Rahangnya mengeras. "Kenapa kamu tidak datang?" ulangnya, kali ini lebih pelan. Lebih sakit. Xavier menghela napas panjang, lalu membuka pintu lebih lebar. "Silahkan masuk dulu." "Aku tidak butuh masuk." Alessa menggeleng. "Aku hanya butuh jawaban." Hening. Xavier akhirnya menatapnya langsung dan di situlah Alessa melihatnya. Bukan penyesalan, bukan rasa bersalah. Tapi jarak. "Aku tidak bisa menikahimu, Alessa," ucapnya pelan. "Maaf." Kata maaf itu jatuh begitu ringan. Terlalu ringan untuk semua yang telah hancur hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN