Pagi di J-City terasa berbeda bagi Alessa. Udara yang dulu terasa menyesakkan kini justru terasa ringan saat ia berdiri di depan cermin kamar lamanya, mengenakan setelan formal berwarna krem dengan potongan tegas yang mencerminkan siapa dirinya sekarang. Tidak ada lagi gadis yang runtuh di altar. Yang berdiri di sana adalah seorang perempuan yang telah melewati kehancuran dan memilih bangkit. “Kamu sudah siap?” suara Stefan terdengar dari pintu. Alessa menoleh, lalu tersenyum kecil. “Sangat siap, Pa.” Stefan mengangguk pelan, tatapannya menilai bukan hanya sebagai ayah, tetapi sebagai profesional yang melihat calon pemimpin di hadapannya. Tanpa banyak kata, mereka berjalan berdampingan menuju mobil, keheningan di antara mereka kini terasa penuh pengertian. Mobil hitam itu melaju menu

