Part 1 - Wedding Anniversary
Senyum penuh ketulusan terpancar dari Alana. Putri satu-satunya dari pasangan harmonis Maria Christine dan Adiwira Pandhega. Hidup dalam keluarga harmonis, begitu Alana syukuri. Hari-hari Alana selalu ceria. Penuh warna. Wira, ayahnya selalu membelikannya buku dan cat warna. Entah mengapa dua benda itu pula yang membuat masa remaja Alana berwarna.
Ketika Alana kecil akan tidur, Maria—Ibunya Alana selalu membacakan dongeng untuknya. Begitu penyabar dan amat penyayangnya ia. Bahkan, suatu saat Alana tak bisa tidur. Dengan penuh kesabaran, Maria terus membacakan cerita pengantar tidur untuknya. Maria, Ibu yang lembut, sabar, dan amat menyayangi Alana.
Meski hari ini tak ada lagi dongeng yang dibacakan oleh Ibunya, Alana tetap menyayanginya. Memang bukan saatnya lagi dibacakan dongeng. Alana kini menginjak dewasa. Ia berumur enam belas tahun.
"Sebentar lagi kamu sweet seventeen, sayang. Kamu pengin kado apa?" Tanya Maria.
"Alana gak pengin kado apa-apa, Mah"
"Buku? Juga tak mau?"
"Kalau boleh, Alana kangen didongengin Mamah."
"Ouh... Alana kangen dongeng Mamah? Hihihi." Ibunya setengah tertawa.
"Pah... lihat anak kita. Sudah besar tapi penginnya didongengin. Ini karena siapa si?" Tanyanya setengah meledek.
"Alana suka sekali dengan cerita Rapunzel. Alana pengin diceritain lagi, Mah. Boleh, yah?"
Maria melirik Wira, suaminya. Ia tersenyum.
"Iya, sayang. Boleh. Nanti malam Mamah ceritain."
"Yeeey!! Asiik!"
"Gemesin aja si. Sudah besar juga."
"Gapapa dong."
"Iya... iya."
"Makasih, Mah." Alana beranjak ke kamarnya.
"Alana..." Papahnya memanggilnya.
"Iya, Pah? Ada apa?"
"Alana mau ikut Mamah dan Papah malam ini?"
"Memang ada apa, Pah?"
"Lupa, yah? Ini hari spesial."
"Ehm... apa yah. Kok Alana lupa. Emang apa, Pah?"
"Nanti malam adalah wedding anniversary Mamah dan Papah. Alana ikut yah?"
"Waaah... maaau. Emang mau kemana, Pah?"
"Kita ke Villa di puncak. Alana masih ingat Villa yang pernah kita datengin pas Alana SD? Sudah lama banget, si. Tapi tenang aja. Papah sudah suruh orang bersihin."
"Yakin, Pah?"
"Iya, dong?"
"Maah?"
"Iya, sayang?"
"Mamah ikut juga 'kan?"
"Iya, dong."
"Yeey!! Yaudah, Alana mau siap-siap dulu yah."
"Iya, sayang. Istirahat dulu. Tidur siang. Biar nanti fit. Ok?"
"Ok, Pah."
"Makasih ya, Sayang. Sudah menemaniku selama ini." Ucap lembut Maria pada suaminya.
"Iya, Sayang. Papah juga ya. Terima kasih sudah tulus menyayangi Papah dan anak kita, Alana."
***
Sore menjelang malam, Alana sudah siap akan pergi ke Villa yang dijanjikan Papahnya. Begitupun juga dengan Mamahnya. Dress warna biru dan outer kimono kesukaanya pun melekat sempuran di tubuh Alana. Senyum Maria memandangnya penuh kasih.
"Kamu cantik sekali, Nak." Ucap Maria.
"Makasih, Mah. Kan Mamah juga cantik. Iya kan, Pah?"
"Iya nggak yah?" Ledek Wira.
"Ih, Papah."
"Iya-iya. Ayuk berangkat. Keburu malem ntar. Gelap. Di sana sepi."
"Emang sesepi, Pah? Tapi masih aman 'kan?"
"InsyaAllah aman. Ayuk buruan. Mah, Alana. Kita masuk ke mobil."
"Siap, Pah!"
Alana berlarian menuju mobil. Menaruh koper kecil untuk beberapa hari menginap di sana. Kebetulan, berdekatan dengan hari Natal. Wira memutuskan merayakan Natal disana.
Dress berwarna burgundy melekat indah pada Maria. Polesan lipstik yang natural, kian menambah keanggunannya.
"Pah, di Villa ada tetangga sih?"
"Ada supermarket ndak? Atau minimarket? Toko buku?"
"Sayang... ini bukan Mall. Tapi Villa. Masak ada toko buku?"
"Ya... kan nanya, Mah. Siapa tau deket sama toko buku. Jadi kalau boring kan keluar ke toko bukunya. Iya gak, Pah?"
"Iya, Nak. Ide bagus. Tapi disana gak ada toko buku. Ada sih... "
"Waah apa, Pah?"
"Kalau kamu bikin sendiri! Hehe."
"Ih, gak lucu ah."
"Lagian, kamu ada-ada aja nanyanya, Nak. Villa itu dulu dibuat Papah buat menyendiri. Menikmati udara alam yang sejuk. Biar tenang. Makanya jauh dari keramaian."
"Uhmm gitu. Iya, sih. Kebanyakan juga kegitu. Cuman kalau bosen gimana? Buku di rumah udah tak baca semua. Gak ada hiburan lagi."
"Tenang. Sebentar..."Wira mengambil sesuatu dibalik plastik di samping kursinya.
"Naaah, ini dia!"
"Waaah buku baru! Yey! Makasih, Pah."
"Papah tahu kamu nanti bakal nanya ini. Tapi Papah seneng banget kamu jadi jatuh cinta sama buku."
"Yaiyalah Papahnya aja suka baca." Sindir istrinya.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki area pegunungan. Deretan rumah-rumah warga yang amat sederhana mulai nampak. Terlihat beberapa warganya tersenyum ramah, saat Alana membuka kaca jendela sambil melihat sekitarnya.
"Mah, sejuk sekali suasananya. Orang-orangnya juga kayaknya ramah-ramah. Lihat deh, mereka tersenyum ke Alana, Mah."
"Iya, di sini kan masih kental kulturnya. Orangnya pun biasanya ramah-ramah. Jadi nanti kalau Alana mau pergi dulu, tetep harus pamit yah?"
"Ok, Mah. Sudah sampe kah?"
"Belum, kita masih memasuki sekitar sepuluh menitan lagi, Sayang."
Langit berawan abu gelap mulai menyelimuti sore itu. Gerimis mulai datang. Kabut pekat menumpuk di udara kala itu.
"Waah... indah sekali. Kabutnya tebal. Tapi dingin." Celetuk Alana.
"Pake jaketnya, sayang. Sebentar lagi kita sampai." Perintah Wira.
"Nah... akhirnya sampai."
Tibalah Alana dan Ibunya di suatu Villa. Dindingnya berawarna putih perpaduan biru. Bangunannya didesain seperi kombinasi khas Belanda dan Jawa.
Selesai mengambil koper di bagasi, Wira mengajak anak dan istrinya masuk.
"Assalamualaikum..."
Diikuti salam juga dari Alana dan Wira.
"Assalamualaikum.... Subhanallah... indah sekali pemandangannya."
"Oh ya, Pah. Berarti kalau mau ke tetangga di yang Alana temui tadi yah, Pah?"
"Iya, Nak."
"Wahh lumayan jauh juga."
"Ehmm beneran aman, Pah?" Alana memerhatikan ke sekitar Villa. Pepohonan tinggi besar dan aneka flora tumbuh subur di sekitar Villa. Mata Alana seolah memerhatikan tiap detail sekitarnya.
"Ayuk, masuk. Nungguin siapa, Alana?"
"Eh, enggak, Pah. Iya, Alana masuk."
Mereka bertiga mulai masuk di Villa itu. Cat warna putih dan perpaduan khas retro, turut menambah nilai estetik bangunan itu.
Kebahagiaan menyelimuti wajah Alana. Ibunya menemani ia melihat kembali suasana di Villa itu. Tak ada raut sedih sedikitpun. Sampai suatu peristiwa membalikan semua bahagia hari itu.
"Pah, Mamah siapin dulu yah buat malam nanti."
"Iya, Mah."
"Pah... Alana penasaran dengan pemandangan di luar. Boleh nggak Alana keluar sebentar?"
"Tapi masih kejangkau Villa aja ya, Nak? Papah kawatir kamu tersesat."
"Iya, Pah. Alana deketan ko. Sambil...baca buku yang dikasih Papah." Alana menunjukkan buku yang diberikannya.
"Hati-hati, Nak"
"Iya, Pah. Assalamualaikum."
"Sama Mamah?"
"Sebentar yah, Pah. Alana mau ijin Mamah dulu."
"Mah..."
"Iya, Alana? Ada yang bisa Mamah bantu?"
"Ehmm...."
"Kenapa, Alana?"
"Ehmm... Alana mau pamit bentar, Mah."
"Kemana? Cuma diteras deket Villa ko. Alana penasaran pemandangan di sekitar Vila."
"Yaudah, Nak. Hati-hati, yah. Mau bikinin Mamah juice?"
"Boleh, Mah."
"Alpukat?"
"Iyes. Mamahku sayang."
Alana pun keluar Villa itu dengan membawa buku hadiah dari Papahnya. Tidak ada satu rumah atau Villa yang berdekatan. Satu Villa dan lainnya jaraknya cukup jauh. Meski tak sejauh dari warga sekitar yang seperti dilihat Alana dalam perjalanan.
Sebuah Ayunan masih kokoh di halaman Villa itu. Alana pun duduk dengan tenang disana. Kabut mulai sedikit memudar. Bersamaan dengan gerimis yang mulai tak terasa. Namun, karena Villa ini berada jauh dari kerumunan warga atau Villa lainnya, nuansa pekat cukup bisa terasa.
Wira merebahkan tubuhnya di sofa tamu. Maria yang baru saja membuat minuman menuju ke dekatnya.
"Ini sayang. Kopinya."
"Makasih, yah."
"Alana masih di luar?"
"Iya. Tadi pamit mau baca buku keknya. Biarin lah. Kangen mungkin dia."
"Duduk dulu, Sayang."
"Kenapa, sih Pah?"
"Kangen gak sama Villa ini?"
"Ehm, kangen."
"Papah juga. Ini seperti prasasti tersendiri bagi Papah. Kalau Papah pergi duluan, tetep rawat Villa ini baik-baik yah?"
"Apaan sih, Pah."
"Ini kan Annniversary pernikahan kita. Gapapalah sedikit mengingat hakikat hidup bukankah kembali pada Tuhan 'kan?"
"Iya, Pah. Mamah juga tahu. Tapi jangan bahas gitu ah."
"Yaudah... yaudah."
"Oh iya, lupa. Jus Alpukat punya Alana. Sebentar yah, Pah." Maria beralih ke dapur mengambil jus alpukatnya.
Alana masih asyik membaca buku. Tak disangka, dua orang tak dikenal mengintainya dari belakang. Salah satu dari orang itu semakin mendekat, dan secepat kilat membius mulut Alana. Alana sempat kaget dan ingin meminta tolong. Namun, ia mulai lemas dan tak sadarkan diri.
"Ehmm.. Maaah... Paah... tolong." Suaranya mengecil dan tak terdengar lagi.
"Mah? Denger sesuatu minta tolong gak si?"
"Ehm gak, Pah."
"Seperti suara Alana. Papah keluar dulu, yah."
Saat melihat keluar rumah, di sana hanya ada buku Alana yang tergeletak di atas rerumputan.
"Alana? Alanaaa!! Kamu dimana, Nak?" Teriak Wira.
"Ada apa, Pah?" Maria menyusulnya dengan jus alpukat di tangannya.
"Alana, Mah. Alana ndak ada. Lihat, hanya bukunya yang tergeletak."
"Alana? Kamu dimana, sayang?" Cemas mulai menggelayuti wajah mereka.