Part 5 - Hal Tak Terduga

1037 Kata
"Mama!!" panggil Alana pada mamanya di rumah sakit. Namun, wajah Ibunya terdiam. Sedih. Marah. Bercampur emosi negatif. Alana yang semula memanggilnya pun kini terdiam. Alana memanggilnya lagi. "Mama... Alana sudah pulang. Ayo kita kembali ke Villa. Ayah mana, Ma?" tanya Alana. Plaakk!! Sebuah tamparan Mamanya pada Alana. Mendapati perilaku mamanya, Alana kaget. Ia melihat sosok mamanya sungguh sangat berbeda. Seperti sebuah monster yang siap memangsa di depannya. "Mama, Alana salah apa?" tanya Alana lagi bersedih. Ia menangis menahan sakit di pipi. "Semuanya gara-gara kau! Anak sialan! Haaah!!! Pergi kau!!! Pergi!!" teriak Maria. "Ma, mana Ayah, Ma? Alana kangen," ucapnya. Namun, sebuah pukulan malah kembali mengenai wajahnya. Bugg!! "Itu sebuah hal yang pantas untuk anak sialan seperti kau! Pergi jauh!! Pergi!!" Maria kembali berteriak. Suster yang kebetulan lewat pun panik. Lantas menanyakannya. "Ada apa ini? Jangan ribut. Takut mengganggu pasien lainnya," ucap suster itu. "Dia! Dia pergi!!" teriak Maria. "Ada apa sebenarnya? Kenapa Ibu ini marah? Kamu anaknya kan?" Alana mengangguk. Ia tak lagi mampu menjawabnya. "Suster... ayah saya dimana? Suster tau kan?" tanya Alana. "Ayah kamu siapa namanya?" "Pak Wira. Adiwira Pandhega Saskara, Sus." "Yang sabar, ya. Pak Wira baru saja meninggal dunia." "Ibumu mungkin trauma. Sebaiknya kamu tenangkan dulu Ibunya. Jangan ditemui dulu." Ucap Suster itu. "Tapi... saya sama siapa?" "Beneran itu Pak Wira? Suster yakin?" "Iya. Itu memang Pak Adiwira." Begitu Alana mau masuk ke ruangan ayahnya, Ibunya mencegahnya. "Pergi!!! Pergi anak sialan! Gara-gara kamu, ayahmu meninggal. Puas?! Haaaa.... pergi!!!" teriak Maria. Suasana ramai bercampir tegang kembali menakutkan rumah sakit. Beberapa kerabat pasien yang lewat, mungkin akan mengira Maria adalah orang gila. "Tidak mungkin suami saya mati!! Tidak mungkin!!" teriak Maria. "Usir anak sialan itu!! Usir dia!!" teriaknya lagi. Riuh suaranya memenuhi lorong rumah sakit. Alana masih terdiam di tempat duduk. "Satpam!! Tolong!!" teriak suster yang lewat memanggil satpam rumah sakit. "Tolong, panggilkan tim keamanan. Ibu ini trauma dan melukai anaknya. Itu dia anaknya. Tolong, ya. Biar saya yang menenangkan anaknya," ucap suster itu. Beberapa saat kemudian, satpam bersama tim keamanan datang. Dengan sangat terpaksa, Maria dibawa ke ruangan terpisah. Meskipun Maria memberontak dan menolaknya. "Mau apa kalian, hah?! Mau bawa aku kemana?" berontak Maria. "Tenang, Bu. Ibu hanya akan dibawah ke ruangan terpisah. Ibu perlu ketenangan." Jawab satpam dan suster di sana. "Kalian pikir saya gila? Hahahah!!" ucap Maria sambil tertawa. "Yang gila itu dia!!" Ucap Maria sambil menunjuk anaknya sendiri, Alana. Melihat mamanya bersikap trauma dan sangat marah, Alana ketakutan. Ia makin duduk menjauh dari mamanya. "Kamu yang sabar, yah. Ibumu hanya perlu lebih tenang. Maklum, bapakmu baru saja pergi. Jadi, kamu yang sabar, yah," ucap Suster itu. "Iya, Suster. Saya akan sabar menuruti semua perintah Ibu asal dia bisa sembuh." Jawab Alana. "Suster, apa bisa saya bertemu ayah saya?" tanya Alana. "Tentu. Mari saya antar." Suster itu mengantar Alana ke sebuah ruangan tak jauh dari Alana duduk. Di sana, seorang laki-laki terbujur kain biru. Saat dibukanya, Alana menangis seketika. Tak disangka, ayahnya meninggal dunia begitu cepat. "Ayah... ayah kenapa ninggalin Alana? Alana sama siapa lagi di dunia ini, yah?" ucap Alana. "Ayah... bangun ayah. Jangan tinggalin Alana. Jangan tinggalin Alana sendirian. Bangun, Ayah," ucap Alana. Alana masih memeluk tubuh ayahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Namun, tak kan mengubah takdir ayahnya. Ayahnya memang harus meninggalkannya secepat itu. "Sudah ya... Ayahmu akan diurus dulu ke ruangan berbeda. Biarkan kami yang mengurunya." Kata salah seroang suster. Alana keluar ruangan dengan letih. Ia kembali duduk di kursi yang disediakan di sana. Memegangi kepala. Menunduk sedih. Tak berapa lama kemudian, Ibunya datang menemuinya. Namun, dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. Maria tersenyum pada anaknya. Maria berjalan semakin dekat. Suara sepatunya semakin membuat Alana berdebar ketakutan. Akankah Ibunya akan menghukumnya? Menamparnya lagi seribu kali? Alana sangat takut. "Sedang apa kamu anak manis? Kenapa sedih?" ucap Maria dengan lembutnya. "Ibu? Ibu sudah tenang? Serius?" jawab Alana kaget. Maria agak menunduk. Tepat wajah mereka bertemu lebih dekat. "Apa saya terlihat sedang bercanda? Ayo kita pulang sayang." Ucap Maria. Maria mengulurkan tangannya pada Alana. Awalnya, Alana masih tak percaya. Apakah benar Ibunya berubah secepat itu? Hanya dalam belasan menit? Apakah yang di depannya benar-benar Ibunya? Alana meraih uluran tangan itu. Ia pun berjalan bersama Ibunya seperti keluarga yang sangat bahagia. Seolah lupa akan kesedihan paling mendalam dalam hidupnya. Kehilangan ayah tercinta. Maria dan Alana menunggu di depan rumah sakit beberapa saat. Tak lama kemudian, sebuah taxi online berhenti. "Dengan Ibu Maria?" tanya supir taxi online tersebut. "Ya. Benar. Antara saya dan putri saya, ya. Jangan ngebut! Saya tak mau putri saya celaka gara-gara Anda!" ucap Maria pada supir itu. "Silakan masuk, putriku sayang." Maria menyuruh Alan masuk. Saat itu, Alana merasa sedikit baik-baik saja. Ia memang begitu heran. Masih belum sepenuhnya percaya. "Mama... kita pulang kembali ke Villa kan?" tanya Alana pada Ibunya yang duduk di sampingnya. "Iya, putriku sayang. Kita akan kembali ke Villa. Kamu pasti kangen kan?" jawab Maria dengan senyum yang begitu lembut. Tak ada tanda-tanda aneh seperti yang dikawatirkan Alana. Bahkan, sepanjang perjalanan Maria sangat menjaga dan memperhatikan Alana. "Mau minum, putriku? Ini, minumlah. Pasti kau sangat haus sudah menghilang beberapa hari," ucap Maria sambil menyerahkan minuman pada Alana. "Terima kasih, Mom." Jawab Alana meraih minuman itu. Beberapa saat kemudian, taxi online itu tepat berhenti di villa. Sebuah villa yang jauh bahkan sangat jauh dari keramaian. Ia lebih dekat dengan hutan. "Terima kasih sudah mengantar kami dengan selamat, Pak," ucap Maria sopan. "Sama-sama, Ibu. Saya permisi." Jawab Supir taxi online itu. "Akhirnya... Alana bisa kembali ke Villa. Meskipun sekarang sudah sangat berbeda," ucap Alana. "Iya. Sangat berbeda. Kau harus merasakan perbedaan itu lebih lama!" ucap Maria dengan suara berat. Seperti orang yang hendak menerkamnya. "Ya! Kau harus merasakannya putriku! Kau seorang pembunuh ayahmu sendiri! Kau pembunuh!" Ucap Maria dengan sorot mata yang sangat tajam. "Mom... Alana bukan pembunuhnya. Ayah tertembak perampok itu, Mom. Bukan Alana pembunuhnya," jawab Alana ketakutan. "Semua itu tak akan terjadi kalau kau bisa menjaga diri. Kau penyebnya!! Kau pembunuhnya! Masuklah ke neraka!!" ucap Maria sambil menarik tangan Alana dengan sangat kasar. Maria menyeret Alana masuk ke villa itu. Alana sangat ketakuan. Alana takut ibunya akan berbuat sesuatu yang lebih kejam dari sekadar tamparan yang dilakukan di rumah sakit sebelumnya. "Mama.... aku bukan pembunuh!!" Alana terus mengucapkannya. Sementara, Maria terus menyeretnya. Menuju suatu ruangan rahasia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN