Pagi itu aku ke kantor dengan mata berat. Rasa kantuk masih menggelayut di mataku. “Izin sehari seharusnya tidak apa-apa,” kata Arman saat mengantarku. Aku terdiam. Arman tidak tahu kalau Galang pasti akan murka. Dari awal dia sudah mewanti-wantiku tidak mau ada drama rumah tangga dibawa-bawa ke kantor. Makanya ia lebih suka pegawai yang masih single. Apalagi hari ini Pak Wira sudah mengagendakan untuk briefing seluruh karyawan. Setengah perjalanan ke kantor kugunakan untuk tidur. Arman baru membangunkanku ketika sampai. “Jilbabmu terbalik,” katanya ketika aku akan turun. “Hah?” Aku memperhatikan jilbabku. Ya, ampun gara-gara tidur lagi setelah Subuh dan telat bangun, aku berdandan dengan tergesa tadi sehingga jilbabku terbalik tanpa kusadari. Baru aku hendak membuka peniti jilbab, Arm

