Kurir Cintaku

1147 Kata

“Kenapa tidak boleh? Saya ingin memberikan sesuatu untuk anak kamu,” ujarnya memaksa. “Besok saja, Pak, di kantor.” Aku menjawab. “Sakitnya sekarang, kok, ngasihnya besok!” gerutunya. “Ya, sudah kalau gitu, Bapak titipin kurir saja, ya. Pokoknya jangan ke sini.” Aku bersikeras menolak dikunjungi karena tidak enak dengan Mama dan Arman. “Jadi kamu lebih suka bertemu kurir daripada bertemu saya?” murkanya, “Memang kalau ke sana kenapa, sih?” “Aduuh, Pak!” Aku bingung mencari alasan. “Gini, Pak. Bapak, kan, artis terkenal.” Sebenarnya aku mual saat mengatakan ini. “Nanti kalau ada tetangga lihat bakalan heboh.Hidup Bapak bakal nggak tenang dikejar pengemar.” “Ah, udah biasa!” Dih, sombong! “Udah, deh, Pak, pokoknya demi keamanan Bapak, jangan ke sini.” Ehem, tentu saja demi keamananku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN