Aku berjalan tergesa menuju kamar rumah sakit yang diinfokan Arman saat menelepon tadi. Pak Parlan yang menawarkan diri untuk menunggu sampai urusanku selesai kuminta pulang saja. Sampai di depan kamar, aku malah bertemu Paklik dan Bulik sedang ngobrol dengan Arman. “Bulik, Paklik.” Aku mencium punggung tangan mereka bergantian. “Kami tadi hubungi kamu, Nduk, tapi ndak diangkat. Akhirnya telpon Nak Arman. Malah dapat kabar kalau mertuamu masuk rumah sakit, makanya langsung ke sini,” jelas bulikku. Bulik lantas cerita kalau mereka habis menengok Tiara, sepupuku yang kuliah di Solo. Karena perjalanan pulang menuju desa mereka melewati Semarang, makanya mereka mampir. “Mama gimana, Man?” Aku beralih pada Arman dan menatapnya penuh rasa khawatir. “Mama asmanya kumat, tapi kali ini agak p

