Hujan Sore Itu

1123 Kata

“Lima belas menit lagi, ya!” Sutradara berteriak pada kru dan pemain ketika aku dan Galang baru kembali dari musala. Aku lalu teringat kalau Galang belum makan. “Makan dulu, Pak!” Kuserahkan satu kotak nasi padanya. Ia malah membuka mulutnya tanpa menerima kotak itu. “Hah? Gimana, Pak?” tanyaku tak mengerti. “Kamu nggak lihat apa, saya sedang baca naskah? Suapi!” perintahnya. Dengan setengah hati aku pun menyuapinya makan. “Dasar bayi tua, manja!” sungutku lirih. Galang nampak tidak peduli, tetap fokus melihat lembar naskah yang ada di tangannya. Setelah beberapa suapan, tiba-tiba Malya datang dan memberi kode agar aku menyingkir. Ia pun mengambil kotak nasi yang kupegang. Aku menurut, lalu mundur ke belakang diam-diam. Ketika Galang menoleh, ia tampak terkejut melihat Malya dan men

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN