Luka Yang Kembali

924 Kata
“Kamu … ini benar kamu?” “Aku kira kamu enggak bakal datang?” “Kamu hilang bertahun-tahun, terus tiba-tiba minta aku datang. Iya, harusnya aku enggak datang,” ucap Revan pelan dengan suara dingin, namun sedikit bergetar. Feli menatapnya lekat beberapa saat. “Masuk dulu, Van? Kita ngobrol di dalam.” Revan diam beberapa detik dengan tatapan yang belum lepas dari wajah Feli. Ada banyak pertanyaan di kepalanya, namun semuanya terasa campur aduk. Begitu masuk, suasana rumah itu terasa aneh. Revan melihat sekeliling dan hidungnya terasa seperti mencium aroma lembut. “Kenapa kamu pergi? Bertahun-tahun aku cari kamu. Ke mana aja kamu selama ini?” Revan berusaha untuk tenang, ekspresinya dan nada suaranya. “Aku pikir, aku bisa hidup tanpa kamu. Bahkan aku udah janji sama diri aku sendiri untuk enggak temui kamu lagi, sampai kapan pun. Tapi nyatanya, aku masih butuh kamu.” Revan menarik napas dalam-dalam. Hidungnya terus menangkap aroma lembut itu. Feli menyadarinya, jadi dia meraih tangan Revan dan membawanya ke sebuah kamar. Pintu kamar itu terbuka perlahan dan wangi bayi semakin terasa jelas di sana. Selimut tipis menutupi tubuh mungil seorang anak laki-laki yang sedang tidur pulas. Rambutnya hitam lembut, pipinya bulat, dan terlihat tampan. Pandangan Revan masih terpaku pada wajah kecil yang terlelap tenang di atas ranjang. “Itu … anak kamu?” “Kamu mau tau kenapa aku pergi?” Feli menatap Revan. Air matanya berhasil tumpah. “Mama kamu enggak akan diam aja saat tau kamu punya anak dari aku. Aku takut, Van.” “Itu anak kamu?” ulang Revan. “Anak kita.” Tentu saja Revan tidak mempercayainya. Dia hanya tertawa pahit. Tatapannya berubah menjadi sinis. “Fel, tolong jangan cari masalah. Aku udah nikah.” “Aku tau.” “Terus kenapa kamu tiba-tiba datang kayak gini?!” Suara Revan terdengar sedikit tegas, ada penekanan di akhir. “Demi Raffa.” “Kamu punya bukti?!” “Kita bisa tes DNA.” “Kalau saat itu keluarga aku tau kamu hamil anak aku, mungkin aja mereka bisa terima kamu karena kami butuh penerus. Tapi, kamu malah pergi? Enggak masuk akal.” “Aku belum jelasin apa pun ke kamu, Van!” “Setelah kamu memutuskan untuk pergi, mulai saat itulah hubungan kita berakhir! Jangan coba-coba untuk balik lagi ke aku, paham?!” “Aku datang demi Raffa, bukan demi diri aku sendiri.” “Kenapa datang ke aku?! Kamu itu wanita malam. Banyak pria yang mungkin ayah dari anak itu! Kamu ….” “Cukup, Revan!” Pertengkaran mereka membuat anak kecil yang tertidur itu terbangun dan menangis, merasa tidurnya terganggu. “Semua ini terjadi karena keputusan yang kamu buat sendiri!” “Aku penasaran. Kalau istri kamu tau, gimana reaksi dia, ya?” *** Walau statusnya adalah istri dari direktur utama, penampilan Naya selalu sederhana. Terlihat cantik, bersih, dan wangi. Orang-orang menyukai kesederhanaan dan keramahannya itu. Sambil membawa makan siang dan obat Revan yang tertinggal, Naya dengan santainya berjalan memasuki gedung kantor. Dia lebih dulu menemui resepsionis. “Permisi? Apa Pak Revan lagi sibuk?” tanya Naya dengan ramah. “Oh, Bu Naya? Tadi, saya lihat Pak Revan pergi, Bu. Kayaknya ada urusan mendesak karena beliau terlihat buru-buru.” “Oh, begitu, ya?” “Ibu mau menunggu di ruangan Pak Revan? Mari saya antar, Bu?” “Enggak perlu, saya bisa sendiri. Terima kasih.” Naya melangkah menuju ruang kerja suaminya. Beberapa kali dia menyapa dan membalas sapaan para karyawan dengan senyum ramahnya. Dia berpapasan dengan Seno, asisten pribadi Revan. “Bu Naya? Ada perlu apa datang ke sini, Bu?” “Saya mau tunggu Pak Revan di ruangannya boleh?” “Silakan masuk aja, Bu.” Tidak mungkin Seno melarangnya. Jadi, dia mempersilakan Naya masuk sendiri ke ruangan tersebut. Di dalam ruangan itu, ada sebuah ruangan lagi yang terkunci dengan pin. Jujur saja, Naya baru mengetahuinya. Dia mencoba segala kemungkinan angka, namun tidak ada yang berhasil. 23323. Ceklek. Pintu terbuka. “Oh, tanggal pacaran?” Terlihat senyum di bibir Naya setelah mengetahuinya. Ruangan itu sangat dingin, bersih, dan wangi parfum Revan. Jemarinya menyusuri beberapa laci kecil. Sebuah laci paling bawah terlihat berbeda. Ada panel kecil dengan angka digital yang menyala redup. “Pakai pin juga?” gumamnya. Naya pun memasukkan angka yang sama seperti sebelumnya. Beep. Salah. Dia mencoba beberapa angka lain. Tetap tidak ada yang berhasil. Sampai akhirnya, sebuah ingatan kecil muncul. Dia pernah tanpa sengaja melihat Revan membuka pin di ponselnya. 22222. Ceklek. Laci terbuka. Naya membeku. Dia tidak tau apa arti dibalik angka tersebut. Mungkin saja hanya angka acak? Itu yang terlintas dipikirannya. Ada sebuah kotak hitam di dalam laci itu. Ketika dibuka, tumpukan surat, foto-foto lama, tiket bioskop, pita rambut, dan barang lainnya. Semua tentang wanita yang pernah begitu dia cintai. Air mata mengalir deras karena sesak di hatinya. “Nayara?” Revan berlari kecil mendekat, lalu berjongkok di hadapan Naya yang terduduk lemas di lantai. “Nay, aku bisa jelasin semuanya.” “Apa ini, Mas? Kamu masih simpan semuanya?” “Niatnya aku mau buang. Makannya aku kumpulin di sini.” “Bohong! Kamu bahkan masih tulis surat tentang dia dua hari lalu!” Nayara melempar sebuah surat tulisan tangan Revan ke wajah suaminya itu. “Kamu masih penasaran ke mana dia pergi. Kamu masih cinta kan, sama dia?!” “Enggak, Nay. Tolong tenang dulu.” “Apa arti pin kamu ini, hah?! Tanggal jadian kamu sama dia?! Iya?!” Napasnya memburu. Tubuh Naya tiba-tiba lemas sepenuhnya. Kotak hitam itu terlepas dari genggamannya. Kepalanya terkulai ke samping. Pingsan. “Naya!!” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN