“Pak Revan, Ibu Naya enggak boleh terlalu stres. Tekanan darahnya bisa turun drastis seperti sekarang. Kondisinya harus dijaga baik-baik.”
“Memang kondisi dia separah apa, Dok?” tanyanya pelan, hampir seperti bisikan.
“Kondisinya sensitif. Sistem imunnya menyerang tubuhnya sendiri. Kalau terus dipicu stres berat atau kelelahan emosional, dampaknya bisa ke organ vital. Termasuk kemampuan untuk hamil.”
“Kalau ternyata dia hamil?”
“Risikonya tinggi. Sangat tinggi. Bisa memperburuk penyakitnya, bahkan mempercepat komplikasi permanen. Penyakit autoimun bukan cuma soal fisik, tapi juga soal mental. Banyak pasien yang kondisinya memburuk justru karena merasa hidupnya sudah berakhir, merasa gagal sebagai perempuan.”
“Tapi, dia sangat ingin punya anak, Dok.”
“Itulah kenapa saya minta Anda hati-hati. Kalau dia sekarang tau bahwa kehamilan bisa menjadi ancaman untuk nyawanya sendiri, tekanan batinnya bisa jauh lebih berbahaya daripada penyakitnya. Jaga dia dan pastikan dia selalu tenang.”
Setelah dirasa cukup, Revan kembali masuk ke dalam kamar tempat Naya dirawat. Naya sudah terbangun. Matanya menatap langit-langit. Revan meraih tangan Naya, menggenggamnya erat. Namun, Naya segera melepaskannya.
“Apa kata dokter?” tanya Naya tanpa melihat Revan.
“Kamu cuma kecapean dan banyak pikiran.”
“Serius?” Naya menengok dengan sinis. “Akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh sama tubuh aku. Kamu bohong, ‘kan?”
“Enggak, kok. Kamu baik-baik aja.”
Mereka hanya saling diam. Revan mencoba menunggu sampai waktunya tepat untuk bicara. Namun, Naya yang membuka percakapan lebih dulu tanpa melihat Revan sama sekali.
“Apa yang mau kamu jelasin?”
“Nay, itu semua cuma kenangan lama. Aku simpan karena belum sempat aku buang.”
“Kenapa belum sempat? Kita udah bersama selama 2 tahun, loh, Mas? Dan kamu masih simpan semua itu selama ini dengan alasan belum sempat buang?” Jelas terlihat kalau Naya marah.
“Aku minta maaf kalau itu bikin kamu sakit hati.”
Hening menyelimuti mereka sesaat.
“Kamu masih cinta sama dia?” tanya Naya tanpa basa-basi, dengan tatapan tajamnya.
“Nay, dia cuma masa lalu aku. Kamu istri aku. Mana mungkin aku cinta sama orang lain?”
“Kamu bilang kayak itu karena dia enggak ada di sini. Kalau dia tiba-tiba datang, apa jawaban kamu masih sama?”
Revan membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, dia kehabisan kata-kata di depan Naya. Tatapan Naya tidak bergeser sedikit pun darinya, seolah sedang menunggu satu kalimat yang bisa menentukan segalanya.
“Kamu itu istri aku.”
“Itu bukan jawaban.”
Bukannya sulit memilih atau ragu untuk menjawabnya, Revan hanya bingung harus mengatakan apa agar Naya percaya dengan ketulusannya. Dia menunduk sambil memijat pelipisnya. Lalu, mengangkat kepalanya dan menatap Naya dengan lembut.
“Dari semua hal yang pernah terjadi di hidup aku, menikahi kamu adalah satu-satunya keputusan yang aku ambil tanpa ragu, Nay. Aku mau hidup sama kamu. Aku mau kamu percaya sama keputusan aku.”
Naya terdiam. Tatapannya masih dingin, namun rasa kesal di hatinya mulai melemah.
“Kalau wanita itu atau siapa pun dari masa lalu aku datang lagi, aku enggak akan temui dia diam-diam. Aku enggak akan ambil keputusan apa pun tanpa kamu. Apa pun yang terjadi, kamu yang pertama harus tau. Aku janji,” lanjut Revan. Suaranya sedikit bergetar.
“Aku enggak mau ada rahasia lagi, Mas. Sekecil apa pun.”
Revan langsung mengangguk. “Aku janji.”
“Satu lagi. Kalau suatu hari aku merasa kamu mulai goyah, aku berhak pergi tanpa harus ditahan.”
Kalimat itu menusuk, namun Revan justru mengangguk lebih kuat. “Oke.”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Naya. Bukan deras, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa dinding di hatinya mulai runtuh. Perlahan, tangannya terulur menggenggam Revan lebih dulu. “Aku akan coba bertahan kalau kamu jujur. Tapi, aku bakal langsung pergi kalau kamu bohong.”
***
“Terus sekarang Kakak cuma mau diam aja? Kakak cuma akan tunggu sampai Kak Revan datang lagi untuk tes DNA? Sampai kapan, Kak?”
“Emangnya aku harus gimana lagi?” Feli dengan telaten membuat makan malam untuk sang anak, sedangkan Amanda menjaga keponakannya yang sedang bermain di ruang tengah.
“Kalau Kak Revan enggak datang lagi, gimana?”
“Maksud kamu dia enggak percaya kalau Raffa anak dia gitu?”
“Iya, lah. Enggak semudah itu, Kak. Apalagi, Kak Revan udah punya istri. Dia bisa punya anak dari istrinya.”
“Aku enggak mau Raffa dibuang begitu aja. Tapi, aku enggak tau harus gimana, Man.”
Amanda mendekati Feli, meninggalkan keponakannya yang tengah asik bermain. “Langsung aja temui orang tua Kak Revan. Mereka sangat ingin punya cucu, tapi udah 2 kali istrinya Kak Revan keguguran. Kalau Kakak tiba-tiba datang sambil bawa Raffa dan ungkapin semuanya, mungkin Raffa akan di terima?”
Sesaat, Feli terpengaruh dengan rencana itu. Namun, dia langsung menepisnya. “Enggak, Man. Mereka enggak mungkin percaya tanpa bukti.”
“Ya karena itu, mereka pasti bakal minta tes DNA. Orang tua Kak Revan lebih berkuasa daripada Kak Revan sendiri. Kalau mereka yang minta, Kak Revan enggak akan bisa tolak.”
“Aku enggak mau bikin masalah di rumah tangga orang lain. Aku cuma mau Raffa diakui.”
“Jadi, Kakak tetap mau tunggu tanpa kepastian?”
Amanda menunjuk ke arah Raffa yang terlihat fokus menonton televisi dengan kartun kesukaannya. “Lihat, Kak. Sekarang dia masih kecil, belum paham apa pun. Tapi kalau udah besar? Dia bakal tau ibunya adalah mantan penghibur di klub malam dan ayahnya enggak pernah mengakui dia. Apa Kakak enggak kasihan sama Raffa?”
Kalimat yang Amanda ucapkan berhasil membuat Feli menangis. Semua hal yang menyangkut kehidupan anaknya selalu membuatnya merasa bersalah. Feli pun setuju. Dia menuruti rencana sang adik, walau ada ketakutan teramat yang terasa dihatinya.
Mereka pergi dengan taksi online. Selama di perjalanan, Raffa sangat tenang. Rumah yang sudah lama tidak dia datangi, kini berada di hadapannya. Setelah bertahun-tahun, akhirnya dia datang ke sana lagi dengan menggendong seorang anak penerus keluarga tersebut.
Tangannya yang sedang menggendong Raffa terlihat cukup gemetar. Napasnya tidak beraturan. Amanda berdiri di sampingnya dengan tenang.
“Tenang aja, Kak. Ada aku.”
Baru saja berjalan satu langkah, suara mobil terdengar mendekat. Pintu gerbang terbuka otomatis dan mobil hitam itu berhenti di halaman rumah yang sangat luas. Revan turun lebih dulu, lalu bergegas membuka pintu sisi lain. Naya keluar perlahan. Wajahnya pucat dan terlihat lemah.
Waktu seakan berhenti. Revan membeku saat melihat dua wanita berdiri di depan rumahnya. “Feli?”
“Hah? Feli?” Naya terkejut dengan apa yang Revan ucapkan. Wajahnya mengikuti arah pandang suaminya.
***