Jujur atau Bohong?

949 Kata
Feli berdiri beberapa langkah di depan gerbang dengan seorang anak laki-laki dalam gendongannya. Amanda berdiri di sampingnya, menatap situasi dengan waspada. “Nay, tunggu di sini dulu,” Revan refleks melangkah maju. Naya segera menarik pergelangan tangan Revan. “Kamu janji sama aku, enggak ada keputusan tanpa aku,” ucap Naya pelan namun tegas. Revan menelan ludah, lalu mengangguk kecil. Naya melepaskan tangannya perlahan. “Siapa kamu?” tanya Naya tanpa ada keramahan pada ekspresi wajahnya. Feli mendekat tanpa izin, berhenti tepat di hadapan mereka. “Saya Feli, mantan Revan.” “Ada perlu apa datang ke sini?” Naya masih terlihat tenang, padahal dalam hatinya rasa takut dan kesal bercampur aduk. “Ada yang mau saya omongin.” Perasaan takut menyelimuti Revan. “Feli ….” Naya kembali menarik Revan agar berdiri tetap di sampingnya. Kali itu genggamannya lebih erat lagi. “Kami enggak punya waktu, maaf.” “Kami mau bertemu nyonya besar rumah ini, bukan kalian,” cetus Amanda yang sedari tadi menahan kesal. “Nyonya besar? Nyonya besar rumah ini ada di hadapan kalian sekarang.” Amanda terkekeh kecil sambil maju selangkah lebih dekat dengan Naya. “Kalau gitu, berarti kami harus ngomong sama kamu.” “Silakan.” “Nayara, biar aku aja yang ngomong sama mereka.” Revan berusaha membujuk Naya yang tengah diselimuti rasa kesal, namun tetap tidak berhasil. “Mas, biar semuanya enggak jadi kebohongan,” sinis Naya. Feli menggigit bibirnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah anak yang masih berada dalam gendongannya. Dia dan Amanda saling pandang, seolah memberi isyarat agar kakaknya mulai bicara. Feli menarik napas panjang, lalu menatap Naya langsung. “Saya datang bukan untuk ambil apa pun dari kamu. Saya cuma mau sesuatu yang seharusnya jadi hak anak saya.” Tatapan Naya jatuh ke arah anak itu sekilas. “Hak?” “Anak saya butuh pengakuan dari ayahnya.” “Feli!” Revan melepaskan tangan Naya, lalu menarik Feli sedikit kasar agar menjauh. “Van, lepas! Sakit!” Feli meringis dan Raffa menangis. “Anak itu … anak suami kamu,” lanjut Amanda. “Cukup!” teriak Revan. Revan berdiri cukup jauh dari Naya dan Amanda. Dadanya naik turun cepat. Tangannya yang tadi mencengkeram lengan Feli, perlahan terlepas. Pandangannya bergeser dari wajah pucat Feli, ke arah Amanda yang berdiri dengan dagu terangkat. “Jangan macam-macam kamu! Ini rumah saya! Jangan asal ngomong dan bikin keributan di sini!” “Kamu yang salah, kenapa kamu yang marah?!” ucap Amanda kesal. “Pergi dari sini!” usir Revan. “Ada apa ini?” Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah dan mendekati mereka yang ada di sana. Matanya langsung tertuju pada Feli. “Kamu? Berani banget kamu datang ke sini?!” Bagi Amanda, itu adalah kesempatan emas. Bukannya takut, dia malah mendekati Revan dan bicara di hadapannya. “Kita tes DNA aja. Kalau dia benar bukan anak kamu, kita benar-benar akan pergi. Tapi kalau sebaliknya, kamu harus tanggung jawab.” “Cih, tes DNA? Berani banget kamu ancam saya atas apa yang enggak pernah saya lakuin?” Revan balas dengan berani juga. “Saya setuju. Kita cek besok.” Kalimat Naya keluar begitu saja. Semua orang menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat tenang, tetapi rahangnya mengeras. “Nayara, jangan gegabah kamu. Ini menyangkut nama baik keluarga. Kamu enggak bisa ambil keputusan begitu aja! Jangan sok berkuasa kamu di rumah ini!” cetus Rani. “Saya cuma berusaha mempertahankan rumah tangga saya. Kalau nama baik keluarga ini hancur, itu karena anak kamu, bukan karena saya.” “Nada bicara kamu itu …. Kamu ingat lagi ngomong sama siapa?” “Saya nyonya besar di rumah ini. Mama ingat, ‘kan?” Naya menatap mertuanya lurus-lurus. Ada luka yang jelas terlihat di matanya, tapi dia menegakkan bahu seolah tidak ingin terlihat lemah. Untuk saat ini, bukan itu yang harus diributkan. Naya masuk dengan cepat ke dalam rumah. Pintu rumah terbuka keras saat dia masuk. Suasana di dalam langsung terasa dingin. Naya berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang, mencoba menahan napas yang mulai tidak teratur. “Nay, kamu enggak boleh asal ambil keputusan kayak gitu! Tes DNA itu bukan hal kecil! Kita enggak boleh main-main!” murka Revan. Langkah Naya terhenti. Dia langsung menoleh dengan wajah yang basah air mata. “Aku enggak main-main, Mas! Aku mau semuanya jelas!” “Kamu enggak percaya sama aku?!” “Justru aku lakuin ini karena mau lindungin kamu!” “Bukan begini caranya!” Suara Revan semakin meninggi. Dia frustrasi, mengusap kasar wajahnya. “Kalau kamu yakin dia bukan anak kamu, kamu enggak usah takut. Kalau kita tolak, mereka bakal terus datang dan bikin drama. Kamu mau hidup kita kayak gitu terus?” “Aku mohon, percaya sama aku, Nay.” Perlahan dan lembut, Revan menggenggam kedua tangan sang istri. “Aku enggak pernah lakuin itu sama siapa pun, kecuali sama kamu. Itu bukan anak aku. Tolong percaya sama aku.” “Besok kita tes DNA. Kita bahas lagi setelah hasilnya keluar.” “Aku bakal buktiin kalau aku benar-benar jujur.” Ponsel disakunya bergetar. Revan melirik Naya sekilas sebelum mengangkatnya. “Halo?” “Halo, Van? Ini gue ada di depan rumah lo. Itu benar Feli? Kenapa dia ada di sana?” Tatapan Revan langsung berpindah ke arah gerbang. Dari celah pagar, terlihat mobil hitam milik Lukas terparkir tidak jauh. “Dari kapan lo pulang?” Jawaban Revan jaga aman karena masih ada Naya di dekatnya. “Van, Naya udah tau semuanya?” “Udah, lah.” “Eh, tunggu. Jangan bilang kalau Feli datang buat minta lo tanggung jawab? Gue liat, dia bawa anak. Lo ….” Tit. Panggilan itu Revan matikan. “Siapa?” tanya Naya datar. “Lukas.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN