Janji Yang Terjadi

1233 Kata
Nayara meringis pelan, menahan nyeri yang langsung menjalar dari punggungnya ke seluruh tubuh. Matanya melebar menahan sakit, tangannya refleks meraih sisi meja untuk bertahan. Terlihat juga kalau Naya seperti sulit bernapas. Revan langsung berlutut di sampingnya. “Nay, napas pelan-pelan.” Namun detik berikutnya, tubuh Naya limbung. Matanya tertutup dan napasnya tertahan. Dia tidak sadarkan diri di pelukan Revan. “Nay? Nayara, bangun!” Dia langsung mengangkat tubuh Naya ke luar kamar, sambil memanggil sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil. Revan turun tangga dengan langkah cepat namun hati-hati. Wajahnya pucat, napasnya terengah-engah antara panik dan takut. Tak butuh waktu lama, mobil hitam meluncur keluar dari halaman rumah. Revan duduk di kursi belakang, memangku Naya sambil terus memeriksa nadinya. “Nay, tolong bangun. Maafin aku.” Revan memeluknya, mencium wajah Naya berkali-kali. Setibanya di rumah sakit, beberapa perawat langsung membawa Naya ke UGD. Dokter dan tim medis menjalani pemeriksaan fisik dan CT scan untuk memastikan tidak ada cedera serius di kepala atau tulang belakang. Napas Revan memburu, kaosnya basah oleh keringat dan detak jantungnya tak terkendali. Dia meremas rambutnya, lalu menjatuhkan diri ke kursi tunggu. Matanya tak lepas menatap pintu ruang perawatan dengan harap-harap cemas. Tak lama kemudian, dokter keluar dengan ekspresi serius. Revan segera mendekatinya. “Dok, bagaimana istri saya?” “Untuk sementara, kami sudah menstabilkan kondisinya. Tapi saya mau Anda ikut saya ke ruang konsultasi. Ada beberapa hal yang harus saya jelaskan lebih lanjut.” Jantung Revan makin berdebar. Dia mengangguk dan mengikuti dokter ke ruangan dengan dinding kaca buram dan aroma antiseptik yang kuat. Dokter membuka folder dan menampilkan hasil CT scan di layar monitor kecil. “Kami sudah lakukan beberapa pemeriksaan cepat, termasuk CT scan d**a dan observasi neurologis awal. Benturan keras yang dialami istri Anda menyebabkan penumpukan darah di rongga pleura. Kami menyebutnya hemotoraks ringan. Itu yang membuat sesak napas mendadak sebelum beliau pingsan. Mungkin, awalnya beliau sudah mengalami benturan keras dan kemudian terbentur lagi di area yang sama. Saat ini, kami telah memasang selang untuk mengalirkan darah yang menekan paru-parunya.” Revan menelan ludah, tangannya terkepal. “Namun ada satu hal lagi. Berdasarkan nyeri yang menjalar dari punggung bawah hingga ke tungkai serta hasil tes awal, kami mencurigai adanya gangguan pada saraf tulang belakang, kemungkinan Radikulopati Lumbal, yaitu gangguan pada akar saraf di tulang belakang bagian bawah.” “Apa itu bahaya, Dok?” “Kalau dibiarkan, bisa menyebabkan kelemahan otot permanen atau gangguan mobilitas. Tapi kami masih dalam tahap observasi. Kami akan lakukan MRI untuk pemeriksaan lanjutan. Sekarang fokus kami adalah menstabilkan pernapasan dan mengurangi risiko pembengkakan saraf lebih lanjut pada pasien.” “Boleh saya temui dia sekarang, Dok?” “Iya, silakan.” Revan berjalan cepat menuju ruangan rawat. Naya terbaring di atas ranjang dengan wajah yang pucat, bibirnya sedikit kering, dan selang infus menempel di tangannya. Meski matanya masih tertutup, dadanya sudah mulai naik turun secara teratur. Revan melangkah pelan, duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Naya yang terasa dingin. “Nay, aku di sini.” Air mata Revan jatuh membasahi tangan Naya. Tak lama kemudian, jemari Naya bergerak. Kelopak matanya terbuka perlahan, menatap samar sosok Revan di sisinya. “Mas?” Naya mengerjap pelan, melihat Revan menangis di hadapannya. “Aku kenapa?” “Tadi kamu pingsan, makannya aku bawa ke sini.” Beberapa detik kemudian, perawat masuk dengan kursi dorong dan membawa lembar persetujuan MRI. “Maaf, kami perlu membawa Ibu Naya untuk MRI sekarang.” “MRI? Memangnya aku kenapa, Mas?” Naya bertanya dengan sedikit takut. “Kita akan tau hasilnya nanti. Tenang, aku temani kamu.” Perawat sempat menatap ragu namun akhirnya mengizinkan Revan menemani sampai batas pintu ruang MRI. Beberapa menit terasa seperti berjam-jam. Hingga akhirnya, sekitar empat puluh menit kemudian, pintu terbuka. Dokter yang sama keluar sambil melepas sarung tangan dan masker medis. Ekspresinya tenang, namiun serius. Revan berdiri cepat. “Bagaimana hasilnya, Dok?” Dokter memberi isyarat agar Revan mengikutinya ke ruang konsultasi. Di sana, layar sudah menampilkan hasil MRI. Dokter menunjuk ke arah tulang belakang Naya di bagian bawah. “Benar dugaan awal kami, Pak. Ada indikasi saraf terjepit, cukup parah. Kalau tidak segera ditangani, pasien bisa mengalami kelemahan otot permanen di kakinya. Bahkan, hal terburuknya bisa kehilangan kemampuan berjalan.” “Apa bisa disembuhkan, Dok?” “Kami akan coba dengan penanganan seperti terapi, obat-obatan, dan observasi lebih dulu. Tapi kalau dalam waktu dua minggu tidak ada kemajuan, tindakan operasi tulang belakang mungkin diperlukan, Pak.” “Operasi?” “Sekarang, pasien harus istirahat total. Untuk sementara, sebaiknya tidak ada kunjungan dulu. Kami akan observasi ketat hari ini.” “Baik, Dok, terima kasih.” Tatapannya kosong. Semuanya terasa campur aduk, antara rasa bersalah dan takut kehilangan. Setelah memastikan Naya tidur nyenyak, Revan keluar ruangan. Ponselnya berdering. Panggilan masuk dengan nama Feli tampil di layar ponselnya. “Halo, Van? Kamu lagi sibuk enggak? Bisa antar aku ke rumah sakit sekarang?” Suara Feli membuat dadanya langsung menegang. Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Tatapannya jatuh ke pintu ruang rawat yang tertutup rapat, seolah ada sesuatu yang menahannya untuk bergerak. “Maaf, Fel. Aku enggak bisa ke sana. Nanti aku pesankan taksi aja, ya?” “Apa kamu sesibuk itu?” “Aku pesan taksinya sekarang. Kamu siap-siap aja.” Telepon terputus. Punggungnya bersandar pada kursi dengan kepala tertunduk lama Jari-jarinya menekan pelipis. Perasaan bersalah itu belum pergi. Justru semakin berat setelah menolak permintaan tadi. Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar sambil membawa catatan medis. “Maaf, Pak. Ibu Naya panggil Bapak. Tapi jangan terlalu lama, ya, Pak? Silakan masuk.” Di dalam, ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Lampu redup menyinari wajah pucat yang terbaring lemah. Mata yang biasanya hangat kini terlihat lelah. Kursi di samping ranjang ditarik mendekat, lalu duduk perlahan. Dengan hati-hati, Revan menggenggam tangan Naya yang dingin. Dia menunggu Naya bicara lebih dulu, sambil terus memperhatikan Naya tanpa berpaling sedikitpun. “Mas, apa kamu masih ingat yang pernah aku ucapkan dulu?” tanya Naya dengan mata yang tetap terpejam. “Yang mana?” “Saat itu aku ngomong ini sambil tertawa, karena aku pikir semuanya mustahil. Tapi ternyata, aku benar alami itu sekarang.” “Apa harus dibahas sekarang, Nay? Kamu harus istirahat dulu.” Revan mengelus lembut kening Naya. “Kalau salah satu dari kita ketahuan punya hubungan dengan orang lain, maka hubungan yang ada di antara kita harus diakhiri.” Mata Naya terbuka sedikit, menampilkan tatapan kosong. “Waktu itu kamu setuju, karena katanya kamu enggak mau jadi orang bodoh untuk aku. Kamu ingat itu?” Genggaman di tangannya menguat dan gemetar. “Nay, aku belum jelaskan apa-apa ke kamu. Kamu jangan kayak gini, dong? Aku enggak mencintai siapa pun selain kamu. Apa pun yang terjadi di masa lalu, itu sudah selesai, Nay.” “Kalau begitu, kamu pilih tetap sama aku atau mau kembali ke dia?” Revan terdiam cukup lama. Rahangnya menegang, sementara jemarinya masih menggenggam tangan Nayara yang dingin. “Aku enggak pernah kembali ke siapa pun. Dari awal sampai sekarang, aku tetap di sini sama kamu.” “Tapi kamu belum bisa lupakan dia. Kamu masih pikirkan dia setiap hari.” Tatapan Nayara perlahan jatuh ke tangan mereka yang masih saling menggenggam. “Mas, aku lebih takut dibohongi daripada ditinggal. Tapi kamu lakukan itu.” “Aku enggak pernah tinggalkan kamu.” “Tapi kamu bohongi aku.” “Aku enggak bohong soal mencintai kamu.” “Tapi cuma untuk tiga tahun, ‘kan?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN