Titik Lelah

1150 Kata
Di dalam ruang meeting lantai tiga, suasana terasa sedikit menegang. Tumpukan dokumen berserakan di atas meja, sementara layar proyektor menampilkan angka-angka yang tidak sesuai ekspektasi. Beberapa eksekutif duduk dengan ekspresi serius, menunggu keputusan yang akan diambil. “Kenapa laporan proyek perumahan di Bekasi Kota belum ada progres signifikan?” Tatapan tajam mengarah pada tim di seberang meja. “Sudah hampir dua minggu, tapi angka yang saya lihat di sini enggak banyak berubah!” Amanda, office manager yang bertanggung jawab atas koordinasi internal perusahaan, segera menyela sebelum suasana semakin menegang. “Kami masih menunggu beberapa dokumen perizinan dari pemerintah daerah, Pak. Tim legal sedang mengurusnya, tapi ada beberapa kendala administrasi.” “Kenapa saya baru tau sekarang? Seharusnya laporan seperti ini sudah masuk ke saya sejak beberapa hari lalu!” “Saya sudah mencoba menghubungi tim lapangan. Tapi, Pak Seno tidak ada di kantor sejak beberapa hari ini. Jadi saya pikir lebih baik menunggu beliau pulang untuk menyampaikan semua informasi secara langsung.” “Kenapa enggak langsung menghubungi saya?” Nada bicara Revan terdengar tegas. Amanda menarik napas dalam sebelum menjawab. “Saya pikir ini bukan sesuatu yang mendesak, Pak.” Sudut bibirnya terangkat sedikit, tapi bukan dalam ekspresi ramah. “Jangan buat keputusan berdasarkan asumsi. Ke depannya, saya mau semua laporan yang berkaitan dengan proyek strategis masuk langsung ke saya, tidak peduli apakah asisten saya ada di tempat atau tidak. Paham?” Anggukan cepat menjadi satu-satunya respons yang berani diberikan. Suasana dalam ruangan kembali sunyi. Beberapa orang saling bertukar pandang, enggan menjadi orang berikutnya yang mendapat teguran. Revan menggeser map di depannya, menutupnya dengan satu gerakan tenang. Tatapannya berkeliling, memastikan setiap orang di ruangan itu benar-benar memperhatikannya. “Percepat urusan izin itu. Tim lapangan kirim laporan harian, bukan mingguan. Sebelum jam delapan malam ini, saya mau pembaruan lengkap sampai ke saya, termasuk status revisi kontrak dari investor. Proyek Bekasi ini prioritas utama. Kalau ada yang merasa enggak sanggup ikuti prosesnya, bilang sekarang. Karena saya enggak mau semua proses terkendala.” “Baik, Pak,” jawab mereka serentak. “Rapat selesai.” Tanpa menunggu respons, Revan melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan ruangan yang dipenuhi keheningan dan tekanan pekerjaan. Dia masuk ke ruang kerjanya, duduk melamun dengan tatapan kosong. Karena terlalu banyak yang dia pikirkan, sampai-sampai dia bingung menyusun mana yang harus lebih dulu diselesaikan. Tok. Tok. Tok. "Masuk," ucap Revan singkat yang langsung tersadar dari lamunannya. Pintu terbuka dan Amanda melangkah masuk dengan beberapa dokumen di tangannya. "Pak Revan, ini ada satu laporan lagi yang harus Anda periksa.” “Taruh aja, nanti saya periksa.” Bukannya pergi, Amanda malah tengok kanan kiri untuk memastikan keadaan, kemudian berdiri di samping Revan. “Kak, lagi ada masalah, ya?” “Saya baik-baik aja.” “Kak Revan enggak marah kan, sama aku?” Tangan Amanda mulai menyentuh pelan lengan Revan. “Soal Kak Feli, dia benar-benar paksa aku untuk rahasiakan semuanya, Kak. Kak Revan masih enggak percaya sama aku?” Revan menutup matanya, tangannya bergerak perlahan melepaskan sentuhan Amanda. “Feli sudah jelaskan semuanya berkali-kali. Dan sekarang kamu juga ulangi hal yang sama.” Dia menghela napas panjang, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak tapi tak punya tenaga untuk keluar. “Setelah tau semua ini, Kakak cuma diam, enggak marah sama sekali. Itu malah bikin aku takut.” “Mulai sekarang, saya mau kamu bersikap profesional. Kamu office manager dan saya atasan kamu. Itu aja.” “M-maksudnya?” “Jangan panggil saya ‘kak’ lagi di kantor. Jangan bahas hal pribadi yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Paham?” Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan daripada amarah. “Tapi tolong dengarkan penjelasan aku dulu. Aku harus jelaskan semuanya dengan detail.” “Itu enggak akan mengubah apa pun, Amanda.” “Kak Revan tau sendiri kalau aku dan Kak Feli sudah pisah setelah orang tua kita pisah. Tiba-tiba, dia datang ke aku dalam kondisi hamil. Dia panik, ketakuan. Dia bilang keluarga Kak Revan enggak akan pernah terima dia. Apalagi dengan masa lalunya. Awalnya dia cuma pinta aku untuk sembunyikan dia beberapa hari. Tapi ternyata dia benar-benar pergi dan minta aku bilang ke semua orang kalau dia meninggal bunuh diri, tanpa jejak.” “Sudah?” “Kak ….” “Jujur, saya enggak pernah percaya kalau Feli meninggal. Makannya saya terus cari dia bertahun-tahun. Sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk bersama Nayara.” “Tapi, Kakak masih cinta kan, sama Kak Feli?” “Amanda, saya terlalu cape untuk marah. Saya kesal sama kalian. Saya juga kesal sama diri saya sendiri. Saya enggak tau harus bereaksi seperti apa. Saya bingung. Jadi, tolong lupakan. Semuanya selesai sampai di sini. Jangan bahas hal ini lagi. Silakan keluar.” Setelah Amanda pergi, Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya terpejam, berniat mengistirahatkan diri. Nara berhasil menjadi prioritas di pikirannya. Dia mengusap wajahnya pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran. Lehernya terasa kaku, pelipisnya masih berdenyut. Dia mengambil jasnya. Langkahnya cepat keluar dari ruang kerja, melewati koridor kantor yang masih ramai karena para karyawan harus menyelesaikan tugasnya hari itu juga. Mobil melaju keluar dari gedung kantor dengan cukup kencang. Ketika sampai, kaki panjangnya membawanya bisa dengan cepat melangkah menuju ruang rawat Naya. Aroma antiseptik memenuhi ruangan. Nayara masih terbaring di ranjang. Dia menarik kursi perlahan, duduk di samping ranjang tanpa suara. Naya terbangun, terkejut melihat Revan yang pucat dan lesu. Mata mereka bertemu. Tangan Naya yang masih lemah terangkat perlahan, menyentuh rambut Revan, mengusapnya pelan. Napas berat terdengar jelas. Revan malah menangis. Tangisannya terdengar berat, seperti menyesakkan dadanya. Kepalanya tertunduk, dahinya menempel di tangan Naya. “Kamu kenapa?” tanya Naya. “Maafkan aku, Nay. Aku benar-benar minta maaf.” Kepala itu akhirnya terangkat. Mata merahnya menatap Naya sekilas. “Aku enggak mau pisah sama kamu. Tolong maafkan aku.” Nayara terdiam beberapa detik, seperti menimbang sesuatu yang berat di dalam pikirannya. Tangannya masih berada di rambut Revan, namun sorot matanya berubah. Ada ragu, ada luka yang belum selesai. Dia menarik tangannya perlahan. “Aku marah, aku kesal, aku kecewa sama kamu. Tapi, aku enggak mau lihat kamu seberantakan ini.” “Kamu mau tau apa? Aku akan jawab jujur.” “Tentang kamu dan Feli. Tentang perjanjian kamu soal pernikahan. Tentang perasaan kamu ke aku selama ini. Aku mau tau semua itu.” “Tapi janji jangan tinggalkan aku, ya?” “Kalau aku enggak bisa jalan dan enggak bisa lakukan apa pun lagi, kayaknya kamu yang akan lebih dulu tinggalkan aku?” “Nay, kamu … sudah tau?” “Iya, aku enggak akan bisa jalan lagi, ‘kan?” Naya mulai menangis, dengan mata yang masih menatap Revan. “Aku bisa masak buat kamu, enggak bisa siapkan baju buat kamu, enggak bisa ….” “Nay, Nay, cukup.” Revan memeluk Naya dengan sangat erat. Bahkan, dia juga menangis, merasa bersalah padanya. “Aku enggak akan pergi, kok. Aku akan temani kamu.” “Aku takut, Mas.” “Aku di sini, Nay.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN