Tes DNA

1264 Kata

Lampu kamar diredupkan. Hanya ditemani cahaya temaram dari lampu tidur. Naya sudah berbaring lebih dulu dengan posisi membelakangi Revan. Revan menghela napas pelan, lalu mendekat sedikit. Tangannya bergerak ragu sebelum akhirnya memeluk Naya dari belakang. “Kamu masih marah? Aku enggak bohong sama kamu. Jangan marah, dong?” Salah satu hal yang Naya suka dari Revan adalah dia selalu mencoba untuk mengalah dan memahaminya, menyampingkan rasa gengsi dan amarahnya. Terkadang, hal itu malah yang membuat Naya merasa bersalah padanya. Naya memejamkan mata. Dadanya terasa sesak, tapi pelukan itu entah kenapa tetap terasa nyaman. Naya pelan-pelan membalikkan badannya dan langsung memeluk Revan. Wajah mereka kini saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. “Aku percaya sama kamu.” “Aku sa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN