Makam itu sunyi. Hanya suara angin pelan yang menggesek dedaunan kering. Langkah mereka berhenti di depan batu nisan dengan ukiran nama yang masih terlihat baru padalah sudah 3 tahun Aldi meninggal. “Selamat ulang tahun, Kak,” ucap Revan sambil meletakkan buket bunga yang dibawanya. “Selamat ulang tahun, Mas.” Naya duduk diatas rumput yang rapi dan bersih, sangat terawat. Beberapa saat, Revan memperhatikan Naya yang terus tersenyum sambil melihat batu nisan yang masih terlihat seperti baru padalah sudah 3 tahun Aldi meninggal. Tidak bicara, hanya tersenyum. Revan hanya diam, tidak mau mengganggu. Begitu pun dengan Lukas. Mereka hanya saling diam, sangat tenang. Setelah berdoa, Revan langsung mengajak Naya untuk pulang. “Ayo, pulang? Udah sore,” ucapnya akhirnya sambil berdiri pelan.

