Naya duduk dengan kedua tangan saling menggenggam kuat di atas lututnya, sambil terus melihat ke arah pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Seno berdiri beberapa langkah di sampingnya. “Tadi banyak kerjaan?” tanya Naya pelan tanpa menoleh. “Tadi?” Seno butuh sepersekian detik untuk menjawab. “Oh, iya, Bu.” Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Dokter Satria keluar lebih dulu dari perawat lainnya. “Gimana, Dok?” Naya langsung berdiri. “Tenang, dia cuma kelelahan. Tubuhnya drop karena kurang istirahat.” “Saya boleh masuk?” “Silakan.” Naya masuk dengan cepat namun tenang, meninggalkan Seno dan dokter Satria yang saling tatap sebagai sebuah kode. Seno mengerti dan langsung mengikuti dokter itu menuju ruangannya. Di dalam ruangan itu, Seno meluapkan rasa cemasnya. Dia duduk sambil mer

