Fadli tersentak. Ketika dia ingat jika waktu ijinnya keluar sekolah hanya tinggal beberapa menit lagi. Fadli pun tak banyak bicara dengan Wafa. Dia hanya tersenyum dan pamit segera dari anak keduanya itu. “Bapak, tidak bisa lama-lama, nak. Belajar yang rajin ya.” Wafa mengangguk dan menyaksikan lelaki hebatnya itu dengan sangat diam. Kemudian dia harus mengalihkan pandangannya segera. Saat dia ingat akan tugasnya membagikan buku-buku tugas yang ada di tangannya. *** Fadli mengayuh sepedanya dengan cepat. Dia tidak mau mengecewakan amanah yang telah diberikan oleh kepala sekolah kepadanya. Peluh menetes menghiasi tubuhnya yang terpanggang terik siang. Fadli kering tenggorokannya. Ingin rasanya dia membeli air mineral untuk mengobati rasa haus yang kini menggerogoti tenggorokannya. Mele

