Gelegar jeritan dalam nestapa. Mengarungi setiap langkah kaki Tama, yang baru saja berada di depan pintu rumahnya. Dia tak kuasa membendung rasa yang kini sangat menghantam hatinya itu. berlari dengan cepat. Terlihat sosok jenazah yang tak berdaya. Terbaring kaku dengan dibungkus kain berwarna putih. Tama menggoyahkan tubuh jenazah itu dengan keras. Dia tak peduli lagi dengan tangisan yang mengirinya. Memanggil nama sang ayah tanpa jeda. Harap tak bisa diwujudkan kembali. Hari bersama-sama dalam suka dan duka kini telah berakhir. Tama seperti tertampar guntur maha dahsyat. Dia sama sekali tak mengira apa yang dikatakan ayahnya semalam adalah sebuah kenyataan. Teriakan itu terus saja mengaung. Tama tak mau keghilangn ayahnya. Dia histeris dan sama sekali tak bisa menerima kondisi yang se

