Part 17 - Tetes Air Mata

1954 Kata

Fadli mencoba mengetuk kamar Wafa dan juga Wafi. Meminta agar anak-anaknya itu bisa berbagi tempat tidur dengan Tama. Sayangnya, kedua pintu kamar sang anak terkunci rapat dari dalam. Sepertinya memang keduanya telah tidur. Fadli pun  menghentikan gerak tangannya untuk mengetuk pintu. Dia melangkah kembali menuju ruang tamu, Fadli menatap Tama dengan wajah yang sudah sangat lelah. Fadli kemudian mengambil karpet yang sudah usang. “Tama, lebih baik kamu mandi dulu, ya. Terus tidur.” Tak ada jawaban dari Tama. Dia hanya diam dan mengikuti langkah Fadli menuju ke kamar mandi. Sembari menunggu Tama mandi, Fadli membeberkan karpet di ruang tengah, dengan berhias satu bantal dan satu guling. Setelah Tama keluar dari kamar mandi, Fadli segera mengajak Tama untuk beristirahat melepas penat. Ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN