Menatap wajah Fadli yang membuat hati terasa tak ingin menatap terlalu lama. Rois yang seketika hampir tak pernah menyangka jika Fadli akan datang menemuinya. Masih tetap berdiri di depan pintu. Fadli tak mau jika harus berada di rumah Rois terlalu lama. Belum lagi dirinya yang juga berusaha keras untuk menggendong buah hatinya itu. “Maaf pak Rois jika saya menganggu waktunya.” “Ada apa?” “Saya kesini untuk melunasi hutang-hutang saya, Pak.” “Sudah punya uang?” “Sudah, di dalma amplop ini berisi semua uang yang telah saya pinjam ke bapak, mulai dari uang pribadi dan juga uang sekolah, semoga pak Rois bisa mengemban amanah dengan baik.” “Maksudmu apa dengan amanah?” “Tidak apa-apa, Pak. Saya tidak bisa lama-lama, saya permisi.” Rois yang sudah meninggikan nada bicaranya. Namun tern

