Fadli yang terus saja memikirkan kondisi anak dan istrinya. Dia sangat ingin bertemu dengan belahan jiwanya itu. Setiap detik tak ada pikiran yang tak memikirkan dua wanita yang sangat dicintainya itu. Harapan terbesar dalam hidupnya kini adalah ingin segera bebas dan bisa mendampingi anak serta istrinya sampai kapan pun. “Pak Fadli, anda bebas. Tuntutan anda telah dicabut.” Fadli bak mimpi di siang bolong. Dia sama sekali tak mengira jika berita yang didengarnya itu begitu sangat mengejutkan. Tuhan telah mengabulkan harapannya. Fadli merasa sangat bahagia. Tiada yang bisa diucapkannya selain rasa syukur yang tiada terkira. Fadli tak mau membuang waktu lebih lama lagi. Dia akan segera keluar dari tempat yang telah merenggut kebebasannya. Lalu, langkah kakinya akan secara otomatis menuju

