Yanti terlihat sangat panik. Ketika dia mendapati sang ibu mertua dalam kondisi napas terengah-engah itu. Sedangkan Razka berlari dari kamar, Yanti tak bisa mengejar kembali Razka. Dia memilih untuk berada di samping sang ibu. Yanti tak bisa berpikir dengan jernih ketika dia melihat sang ibu memegang dadanya yang mungkin sedang terasa sakit. Yanti tak mau tinggal diam. Kemudian dia mengambil ponsel dan menelepon Fanta. “Ada apa?” “Ibu... ibu...” “Ada apa dengan ibu?” “Dia kesakitan.” “Cepat telepon ambulan dan bawa ibu ke rumah sakit.” “Iya.” Yanti dengan diselimuti rasa panik segera menelepon ambulan. Agar sang ibu bisa dibawa ke rumah sakit segera. Yanti tetap berada di samping ibu mertuanya itu. Dia memanggil-manggil ibu mertuanya itu berkali-kali. Hanya saja, sang ibu tak berda

