Fadli nampak sangat bahagia. Hari ini dia mendapatkan panggilan wawancara di salah satu Sekolah Dasar favorit. Dengan semangat baja, pagi yang masih berhiaskan embun, Fadli telah bersiap dengan kemeja putih dan celana hitam. Kemudian dia nampak menata rambutnya sebegitu rapi. Senyum merekah sangat indah, seperti bunga seteman semerbak dengan segala keelokannya. Fadli yang ingin berpamitan dengan istrinya, hanya saja, Yanti masih berhiaskan selimut dan tertidur lelap. Fadli tak mau mengganggu wanita yang dicintainya itu. Dia membiarkan Yanti yang sedang dalam balutan mimpi. Bersiap lebih awal, karena tak mau terlambat. Mengayuh sepeda roda duanya itu dengan penuh harapan. Fadli meninggalkan rumahnya, dia berharap akan mendapatkan kebahagiaan yang sudah beberapa waktu menyita kesabarannya

