Yanti masih saja tak menjawab pertanyaan dari suaminya. Hanya saja dia memberikan sebuah isyarat lewat kedua matanya yang basah, penuh air mata. Pilu terasa di hati Yanti. Hal itu membuat Fadli seakan tak bisa hanya memandang istrinya saja. Fadli terus berusaha mendapatkan sebuah jawaban dari Yanti. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua anaknya, yang kini sangat jauh dari jangkauannya itu. “Yan, tolong bicaralah padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” Yanti mengusap air mata yang jatuh di pipinya. Kemudian dia mencoba menenangkan dirinya dengan menghela napas panjang. “Wafi pergi dari rumah, Mas.” “Pergi? Maksudnya?” “Dia menulis pesan jika dia pergi dan tak mau dicari.” Satu kabar itu membuat pikiran Fadli tak bisa tenang. Justru Fadli mencemaskan keadaan Yanti yang

