Fanta yang memilih bermain dengan anak semata wayangnya. Menghabiskan waktu di rumah dengan bercanda tawa penuh dengan gurau. Dia bahkan sama sekali tak memperdulikan sang istri yang kini sedang berada di rumah sakit. Tak lama, ponsel Fanta berdering cukup keras. Dia menghentikan langkahnya bermain bola dengan sang anak. Fanta kemudian mengambil ponsel di sakunya. Dia mendapati sang sopir pribadinya itu sedang meneleponnya. “Ada apa?” “Dokter ingin bertemu dengan bapak, katanya penting dan tidak dapat diwakilkan.” “Bodoh, kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu suaminya Yanti.” “Maaf, Pak. Saya tidak berani.” “Merepotkan saja.” Fanta kemudian mengakhiri panggilan itu. Dia begitu geram dengan apa yang disampaikan oleh sopir pribadinya. Hari minggu, Fanta yang ingin menghabiskan wakt

