Kedua mata terbuka. Yanti sama sekali tak menyangka jika dirinya kini berbaring di bed rumah sakit. Matanya menelisik, dia bertanya dengan hatinya sendiri. Namun, seolah tak bisa menjawab. Suasana kamar itu nampak sepi. Tidak asa satu pun orang yang menunggunya. Yanti merasa kepalanya pening. Bahkan tubuhnya pun masih terasa lemas. Dia hanya bisa merintih dalam diamnya. Nyeri pun dirasa di beberapa bagian tubuhnya. Tak lama, seorang suster datang untuk kembali memeriksa kondisinya. Yanti menatap penuh dengan pertanyaan yang masih tersimpan di benaknya itu. “Bu Yanti, apa yang sekarang di rasa?” “Lemas, pusing.” “Dibuat istirahat ya, Bu. Setelah ini saya bantu untuk makan, ya.” “Siapa yang ba-wa sa-ya ke-sini.” “Seorang pemuda, tapi sayangnya dia tidak menyebutkan namanya.” “Di-mana

