PENGAJUAN VISA

1109 Kata
Kantor tinggi dan megah itu terlihat rapi dengan tatanan bunga dan pepohonan di sepanjang area. Sejak tepian jalan hingga ke pintu masuk. Dua pemuda desa itu sedang berdiri menatap megahnya bangunan kantor kedutaan UK. Mereka disana untuk melakukan serangkaian interview pengajuan visa. Hari itu keduanya nampak berbeda. Salman dengan baju resmi berwarna biru pekat dan Selo dengan baju resmi berwarna kuning pucat. Memakai sepatu hitam mengkilat juga beberapa berkas di tangan. Dua pmuda tampan dari Nepal yang siap menyongsong masa depan, meraih mimpi dengan banyak harapan. Setelah mengisi buku tamu, satu per satu mereka masuk ke ruang interview. Semua berjalan lancar sampai mereka tiba di meja informasi untuk biaya pengajuan visa. Keduanya nampak gugup melihat angka yang disodorkan oleh wanita yang bertugas memberi informasi. Namun, mereka diberi waktu membayar setelah visa dipastikan lolos dan sebelum pengambilan. Salman dan Selo melengkapi semua berkas dan sekarang mereka harus menunggu paling lama dua minggu ke depan setelah proses verifikasi. Keduanya lantas berhenti untuk duduk di taman kota dekat kantor kedutaan itu berada. Menikmati dua piring makanan serta dua gelas minuman dingin. “Kau punya uang? Ayahmu sudah menyiapkan?” tanya Selo langsung ke pusat masalah. Karena sejak tadi dia melihat Salman hanya terdiam. Tanpa pertanyaan atau komentar, bahkan saat mereka masih di kantor kedutaan. “Aku belum bertanya pada ayah. Bulan lalu, Usman baru mendaftar sekolah. Visa itu akan berlaku tiga bulan, sepertinya di bulan terakhir baru aku bisa pergi.” Salman mengatakan sambil menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya. “Jadi, aku akan pergi bersamamu,” Selo menambahkan. “Kau bisa pergi lebih dulu. Semua sudah tersedia. Lebih cepat lebih baik.” Selo menggeleng, menggoda gadis adalah kelebihannya. Namun hidup di tempat asing tanpa Salman, tidak bisa Selo bayangkan! Dia lalu berdiri membayar makanan mereka, dan kembali duduk untuk menikmati sisa minumannya yang masih beberapa teguk lagi. “Kau sudah memeriksa harga tiket ke UK?” tanya Salman. “Ya, aku sudah menghitung semuanya. Untuk visa, tiket, tempat tinggal dan biaya hidup kita satu bulan pertama. Kita akan membutuhkan masing-masing seratus ribu rupee.” “Jumlah yang sangat besar,” ucap Salman tertunduk lesu. Kembalinya mereka ke asrama, Salman hanya diam. Sementara Selo sibuk dengan pikirannya. Jika Salman tidak pergi maka dia pun tidak akan pergi. Mereka telah memulai semua bersama. Dan dia tidak ingin meninggalkan Salman sendiri. Selo berharap Salman lekas mendapat jalan keluar masalahnya. Ayah Selo telah menyiapkan segalanya untuk Selo. Sejak awal keberangkatan. Selo adalah putra terakhir keluarganya. Dari lima bersaudara, tidak banyak kesulitan yang Selo hadapi. Meski semua juga tidak terlalu mudah. Sementara Salman masuk ke kamar dan bergelut dengan pikirannya sendiri. Suasana kamar asrama yang menjadi saksi perjuangan Salman selama di Khatmandu untuk mendapatkan beasiswa. Namun setelah beasiswa itu datang ternyata bukan begitu saja masalah usai. Beep! Beep! Beep! Ponsel Salman berbunyi. Ayah! “Halo, Ayah!” “Halo, Salman! Kau sudah pergi ke kedutaan dan mengajukan visa?” terdengar suara Khan yang ceria menyapa putra kebanggaannya. Lima tahun lagi, Khan akan memiliki seorang dokter bedah pribadi di rumahnya. “Ya, kami hanya tinggal menunggu proses persetujuan. Dan sembilan puluh persen disetujui karena menggunakan surat referensi beasiswa dari kampus.” “Dan biaya untuk visa serta tiket. Semua sudah kau periksa?” “Ya, ayah.” Salman terdiam. Tidak sanggup mengatakan pada ayahnya jumlah uang yang harus disiapkan. Ayahnya baru beberapa bulan bekerja di luar negeri. Masa sulit tentu belum lagi selesai dia lewati. “Kenapa tidak kau katakan padaku? Aku perlu waktu untuk menyiapkan semuanya. Karena ujian telah usai tentu kau tidak mengajar Anil lagi kan? Tidak ada gaji yang kau dapatkan.” “Iya, Ayah.” “Berapa jumlah uang yang kau butuhkan untuk visa, tiket dan lain-lain hingga kau tiba di UK?” Salman terdiam, dia tidak ingin membebani ayahnya. Namun kini dia tidak punya pilihan selain meminta pada ayahnya. “Seratus ribu rupee.” Salman menunggu reaksi terkejut atau keberatan dari ayahnya namun ternyata tidak dia dengar. Ayahnya diam, “Baik, fokus saja untuk menyiapkan semua dokumen yang dibutuhkan dan saat tiba waktunya pembayaran visa. Semua uang itu akan siap ku kirim ke rekeningmu.” Suara Khan terdengar tenang. Dan membuat hati Salman sedikit ringan. Mungkin ayahnya sudah memperkirakan biaya yang akan timbul karena lulus ujian beasiswa. Dalam hati Salman berjanji, bahwa semua yang telah orang tuanya korbankan tidak akan berakhir sia-sia. Salman akan kembali ke Nepal dan berhasil untuk mengangkat derajat keluarganya yang selalu diremehkan oleh masyarakat desa. Dan Selo, masih terbaring gelisah di kamarnya. Jika Salman gagal pergi, maka artinya Selo juga akan gagal pergi. Tapi ayah Selo tentu tidak akan diam begitu saja. Dengan semua yang sudah dilalui dan disipakan, ayahnya akan memaksa Selo untuk pergi meski seorang diri. Selo menggesek ponselnya dengan ibu jari. Meski begitu pikirannya mencari jalan keluar untuk membuat Salman juga bisa berangkat segera bersamanya. Sampai kemudian tangan Selo menemukan sebuah postingan promosi dari Bless. Selo ingat, waktu itu Tia pernah mengatakan, jika ada kesulitan terutama tentang Salman dia ingin Selo memberitahunya. Tapi jika Salman tahu mungkin dia akan marah padanya. Selo mengusap wajah. Biarkan Salman marah, dia hanya fokus satu hal. Salman harus berangkat dengannya! Selo lalu menuju pesan w******p dan mengirim pesan pada Tia. “Tia, kapan pun kau membaca pesanku, hubungi aku segera.” Selo hampir yakin bahwa Tia pasti akan membantu Salman. Dan Selo tidak tahu bahwa sebelumnya Tia juga sudah membantu Salman dalam menyelesaikan masalah dengan ayah Anil. Sebuah jalan keluar membuat Selo bahagia. Mereka pasti berangkat. Hatinya bersenandung riang. Dia menuju kamar Salman dan berpapasan dengan beberapa orang teman satu asrama. “Salman! Kita pasti berangkat!” “Ya, aku sudah mengatakan pada ayahku tentang biaya yang kita butuhkan.” “Benarkah?” “Ya, dan ayahku bilang dalam dua minggu seratus ribu rupee akan dikirimkan untuk pembayaran visa dan tiket.” Salman yakin dengan kata-kata ayahnya. Ayahnya pasti menyediakan, namun dari mana uang itu berasal yang dia takutkan. Mereka memiliki sejumlah kecil sawah di desa. Yang menjadi satu-satunya penghasilan ibunya. Salman tidak ingin ayah atau ibunya menjual sawah itu untuk kepentingannya. Adik-adiknya masih perlu banyak biaya di masa depan. Saat kembali ke desa, Salman harus memastikan bahwa penjualan sawah bukan solusi yang diambil orang tuanya demi sekolah Salman. “Aku akan kembali ke Ittahari besok. Dan kau?” “Ya, aku juga akan kembali ke desaku besok. Mereka bilang dalam dua minggu informasi visa itu akan kita dapatkan. Aku rasa kita punya banyak waktu untuk berkumpul dengan keluarga sebelum pergi ke UK.” Keluarga, ah … hati Salman mendadak dingin. Pergi ke Khatmandu pun rasanya setiap malam dia merindukan mereka semua. Dan kini dia akan pergi untuk waktu lama ke UK. Menggapai mimpi selalu melewati jalan seterjal ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN