Bis menuju Ittahari terasa sesak. Karena musim liburan dan juga terbatasnya armada yang menuju ke desa itu dalam sehari. Suhu udara Khatmandu yang dingin mulai berganti dengan udara Ittahari yang hangat.
Lebih dari lima bulan Salman telah meninggalkan desa ini. Kali pertama baginya jauh dari keluarga. Selama ini Salman hanya tahu tentang Ittahari dan sekitarnya. Ponsel itu telah membuka dunia bagi Salman. Sekaligus membuatnya keluar dari wilayah nyaman yang selama dua puluh tiga tahun telah dia tempati.
Dari Tia, Salman belajar bahwa luka dan sakit akibat penolakan Miranha sekarang justru menjadi anugrah yang dia syukuri. Karena penolakan itu, Salman berani mengambil langkah besar. membuatnya tidak ragu untuk mewujudkan mimpi dan keluar dari desanya.
Dan, membuatnya bertemu dengan wanita luar biasa. Tia, yang telah menjadi bagian baru bagi kekuatan dan hidupnya di masa depan.
“Hey! Anak muda, jangan melamun saja. Lihatlah pemandangan di luar sana begitu indah!”
Seorang pria yang duduk disamping Salman tiba-tiba menegurnya. Dia melihat mata Salman yang ‘melayang’ jauh meski arahnya keluar jendela.
“Ah, bagaimana kau tahu aku melamun?”
“Sejak tadi kau hanya diam. Dan pandanganmu itu kosong. Aku juga pernah muda! Kau pasti sedang memikirkan cinta kan? Ha … ha … ha ….!” Seloroh pria tua itu.
Membuat Salman tersenyum dengan semua kebenaran kata-katanya. Dia memang sedang memikirkan Tia. Meski Salman hampir yakin itu adalah cinta, namun dia tidak punya keberanian untuk mengungkapkan.
Tia terlalu hebat bagi Salman. Dia bagai Dewi yang di turunkan langsung dari langit. Jika Salman mengutarakan perasaannya, besar kemungkinan akan memperburuk hubungan mereka.
“Apakah cinta selalu rumit?” tanya Salman pada pria tua disampingnya.
Pembicaraan ini akan membunuh bosan karena perjalanan masih panjang menuju Ittahari.
“Ya, cinta selalu rumit. Dan memahami wanita juga sesuatu yang rumit. Sangat rumit! Kau bahkan tidak mampu menebaknya.”
“Aku bertemu wanita yang sangat luar biasa. Pemikiran, wajah, penampilannya semua memukauku luar biasa. Tapi dia lebih dewasa secara usia dan juga dalam segalanya. Aku tidak punya nyali untuk menyatakan cinta padanya.”
Pria tua itu mengangguk-angguk seolah memahami masalah yang Salman hadapi.
“Cinta itu rasa yang tidak mengenal batasan. Dia bisa menghampiri siapa pun tanpa tahu usia dan kelebihan. Serta tidak peduli dengan kekurangan. Kau akan bahagia jika rasa itu sama. Namun kau akan terluka jika rasa itu berbeda. Sebaiknya kau pastikan sebelum pergi terlalu dalam.”
Perkataan pria tua itu benar, tapi Salman belum memiliki kekuatan untuk menyatakan pada Tia. dan Salman tidak mau mengambil resiko untuk kehilangan rasa indah itu nantinya.
Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran dari sebelah Salman, rupanya pria tua itu telah tertidur. Begitu cepat!
Perjalan Khatmandu ke Ittahari memerlukan waktu dua belas jam dengan bus. Sebelumnya Salman menuju Khatmandu dari Biratnagar dengan pesawat. Kali ini dia ingin lebih berhemat. Biaya yang besar untuk keberangkatannya ke luar negeri sudah menunggu.
Sore menjelang malam, Salman tiba di depan rumahnya. Sekitar telah sunyi, semua penduduk telah masuk ke dalam rumah. Hanya ada beberapa pemuda yang sedang duduk di sebuah masjid. Mereka menegur Salman dengan sopan.
Dia berdiri sejenak memandang rumahnya yang sederhana. Rumah tempatnya tumbuh dan dibesarkan dengan pnuh kasih sayang oleh orang tuanya. Rumah yang menjadi saksi hidup mereka yang serba kekurangan di masa lalu. Namun berlimpah bahagia dan cinta.
Gerimis menyerang hati Salman. Setelah ini dia akan pergi lebih jauh lagi untuk mengejar mimpi. Mewujudkan doa setiap orang yang sekarang ada di dalam rumah ini. Dua butir air mata berhasil mengalir. Setahun lalu, Salman bahkan tidak pernah berani bermimpi. Dan sekarang dia telah tiba disini. Di tempat dimana harapan itu akan dia kejar bukan lagi sekedar bayangan.
Salman mengusap air mata dan bergegas membuka pintu. Kepulangannya adalah sebuah kejutan. Dia tidak memberi informasi pada semua orang sebelumnya. Saat dia membuka pintu, semua orang sedang duduk di meja makan dan menoleh terkejut.
“Kakak!”
Nitish spontan berteriak dan berlari. Bergegas menghambur ke pelukan Salman. Dan Dia memeluk adiknya erat. Mencium ujung kepalanya.
“Kau rindu padaku?” Salman bertanya pada Nitish dengan memegang kedua pundak Nitish. Menghadapkan ke wajahnya. Nitish mengangguk dengan senyuman.
“Kau bawa coklat untukku?”
Salman menepuk dahinya dengan ekspresi sedih.
“Maaf, aku lupa. Maaf ya,….”
Nitish melototkan mata ke arah kakaknya. Sementara ibunya mendekat untuk menyambut putra pertamanya.
“Nitish, Kakak belum punya uang sendiri. Nanti kalau Kakak sudah kerja dan memiliki uang, dia pasti memberikan semua untukmu.”
Ibunya merangkul Salman. Dia rindu pada putranya. Selama ini mereka tidak pernah berjauhan. Kekhawatiran melanda hatinya setiap saat. Namun selalu berusaha dia sembunyikan untuk memberikan ketenangan pada Salman.
“Besok kita pergi ke pasar untuk membeli coklat, ok!”
Nitish tersenyum lebar dan mengangguk. Salman memeluk erat ibunya.
“Ibu sehat?”
Ibunya mengangguk dan mengusap air mata. Putranya sekarang telah dewasa dan siap untuk pergi jauh mengejar mimpinya sendiri.
Salman melihat ke arah Usman dan Mehta. Mendekat untuk merangkul kedua adiknya. Selama dia pergi, Usman telah mengambil alih tugas yang seharusnya Khan dan Salman lakukan.
“Kalian sehat?” tanya Salman pada kedua adiknya.
Keduanya mengangguk, sementara mata Salman melirik meja makan. sepanjang perjalanan, dia sibuk dengan pikirannya dan tidak terpikir untuk makan ketika bus yang dia tumpangi berhenti.
“Bu, perutku ini sudah sangat rindu dengan makanan di rumah ini. Bahkan dari jarak sejauh ini, aku bisa mencium aroma masakan Ibu.”
“Kak! Aku yang memasak hari ini. Ibu sibuk bekerja di sawah, jadi dapur hari ini dalam kekuasaanku!” ujar Mehta gusar.
“Wow! Berarti hidangan malam ini akan sangat spesial. Apakah cukup untuk kita semua makan?”
“Biasanya aku memasak sedikit. Tapi tadi ketika di dapur seolah sebuah bisikan datang untuk memasak lebih banyak, ternyata si tukang makan datang malam ini.”
Mehta berkata sambil tertawa dan diiring seisi rumah. Dan mereka kembali menuju meja makan. Mehta menyiapkan satu piring tambahan untuk Salman.
“Jadi Kak, kau akan pergi keluar negeri?” tanya Nitish.
“Ya, aku akan menjadi dokter.”
“Apa aku bisa jadi dokter juga nanti?”
“Tentu ...”
Belum selesai Salman berkata ibunya telah memotong pembicaraan.
“Tidak Nitish, anak perempuan tidak boleh pergi jauh dari rumah.”
Mehta dan Nitish serentak melotot ke arah ibunya.
“Kenapa?!” tanya mereka serentak.
“Karena, anak perempuan itu harus …”
“Bu, ini adalah zaman dimana semua orang boleh mengejar mimpi mereka. Termasuk Nitish dan Mehta. Jika aku berhasil menjadi dokter nanti, aku akan mengizinkan dan membiayai mereka meraih cita-citanya.”
Mata kedua adik Salman berbinar bahagia. Perubahan kakaknya kelak akan menjadi awal dari perubahan mereka semua.