PAGI DI DESA

1084 Kata
Merebahkan diri di kasur yang telah lama dia tinggalkan. Seperti kedamaian menyentuh kembali setelah kerasnya kehidupan yang dia alami di Khatmandu. Kembali menjadi Salman, pemuda desa yang tinggal di Ittahari. Dia memejamkan mata dan merasakan setiap hembusan nafasnya. Rumah ini nantinya akan menjadi hal yang paling dia rindukan dari sebuah Nepal. Kenyataannya hari ini dia bukan lagi Salman yang beberapa bulan lalu masih tergulung dalam rasa frustasi. “Tia, aku sudah sampai di Ittahari. Aku akan menghubungimu besok.” Meski Tia tidak meminta Salman untuk memberinya informasi, namun Salman ingin memberi Tia informasi tentang dirinya. Berkali-kali sudah Salman mencoba menepis rasa yang seharusnya tidak ada. Namun semakin dia menolak rasa itu justru semakin kuat bercokol dihatinya. Dengan penuh rasa beruntung karena keluarga yang penuh cinta, dan Tia yang dekat di hatinya, Salman memejamkan mata. Tidur dengan nyenyak dan terlelap hingga pagi. “Kakak! Kakak!” teriakan Nitish membangunkan Salman dari tidurnya. Dia masih ingin menambah beberapa jam lagi. Selain karena perjalanan yang melelahkan, juga dia sangat rindu dengan tidur nyenyak di dalam rumah ini. “Kak…! Bangun Kak!” Nitish mulai mengguncang badan Salman yang masih meringkuk di dalam selimut. Ittahari tidak bersalju seperti sebagain besar wilayah Khatmandu. Tapi di musim dingin, udara di Ittahari suhunya pun turun menurun. “Nitish … kenapa kau berisik sekali. Berikan aku kedamaian sebentar saja,…” ujar Salman malas sambil berpaling membelakangi Nitish. Gadis kecil itu dengan wajah cemberut menarik selimut Salman. Terlihat kakaknya meringkuk dengan memeluk guling di sebaliknya. “Kakak!” kali ini Nitish berteriak keras. Membuat ibunya yang sedang di dapur datang untuk melihat keributan yang terjadi. “Nitish, sedang apa di kamar Salman?” “Bu, Kakak janji akan membawaku membeli coklat pagi ini. Aku sedang mencoba membangunkannya. Tapi lihat dia!” Nitish berkata ketus pada ibunya. “Kakak masih lelah, biarkan dia beristirahat. Lagi pula kau ini tidak sabar sekali. Kan masih ada waktu nanti jika kakak sudah bangun.” “Tapi, aku ingin Kakak memberiku sekarang. Sebelum aku pergi main dengan temanku. Aku bisa pamerkan pada mereka, bahwa Kakakku dari kota dan memberiku coklat!” raut wajah Nitish nyaris bisa dipastikan dia akan menangis beberapa saat lagi. Suara perbincangan Nitish dan ibuya membuat Salman mendapatkan kesadaran penuh dan mengusir kantuk yang sejak tadi masih memeluknya. “Bu, ibu malah membuat semakin bising,…” ujar Salman bergumam. Salman mulai menggeliat dan duduk di ranjangnya. “Yeay! Kakak bangun! Ayo, Kak! Kita pergi sekarang!” Ibunya melotot ke arah Nitish dan Salman tersenyum melihat tingkah adiknya. Di mengacak rambut Nitish yang membuat gadis itu memonyongkan bibirnya. “Biarkan aku mandi dan sarapan dulu. Perutku sekarang berteriak meminta pertolongan. Boleh?” Nitish tersenyum dan mengangguk pada Salman. “Baiklah, aku akan bermain dengan temanku. Jika Kakak sudah siap, panggil aku ya!” Tanpa menunggu jawaban, Nitish lari keluar kamar dan menuruni tangga. Beep! Beep! Beep! Sebuah panggilan suara masuk terlihat di ponsel Salman. Ibunya melihat ke arah ponsel yang terletak di meja. Sesosok photo wanita cantik muncul sebagai notifikasi dan sebuah nama. Tia! Dengan rasa canggung, Salman mengambil ponsel itu dari meja dan mencoba menyamarkan dari ibunya. Dia tidak mengangkat dan hanya mematikan suara deringnya. “Jam berapa sekarang bu?” “Sembilan, kau tidur sangat nyenyak. Karenanya, Nitish mulai tidak sabar untuk janjimu.” Salman tersenyum, “Aku akan bersiap segera.” Ibunya keluar kamar Salman, menutup pintu dan kembali ke ruang bawah rumah mereka. Namun dia mulai memikirkan gambar wanita cantik yang terlihat di ponsel anaknya. “Seorang gadis, wajahnya terlihat berbeda. Mungkin yang dia kenal selama di Khatmandu. Kota sebesar itu tentulah orang dari berbagai penjuru akan datang,” batin ibu Salman. Dia lalu kembali sibuk dengan aktivitas di dapurnya. Sementara Salman membuat panggilan balik ke Tia. Nampaknya Tia tengah menunggu panggilan telepon darinya. “Selamat pagi, Tia” “Hi, Salman!” “Maaf aku tidak mengangkat panggilanmu tadi. Ibuku ada disini dan dia akan bertanya jika aku mengangkat panggilan itu.” “Oh, iya. Its ok. Bagaimana kabarmu? Lelah setelah perjalanan?” “Sedikit, tapi aku senang kembali ke rumah. Ternyata aku sangat merindukan rumahku. Meski tiak semewah bangunan di Khatmandu, tapi rumah ini adalah tempat aku telah tumbuh dan dibesarkan.” Sambil berkata, Salman beranjak membuka jendela kamarnya. Pemandangan sawah dengan bulir padi yang mulai menguning langsung memenuhi indera pengelihatannya. “Tempat yang bagiku akan selalu terlihat sempurna.” Tia tersenyum dari bagian lain. Membayangkan wajah Salman yang bahagia. “Oh, Baiklah. Nikmati waktumu dengan keluarga sebanyak mungkin. Ittahari dan rumah adalah tempat yang aman. Hubungi aku kapan pun kamu ingin ya.” “Tia, maukah suatu hari kau datang kemari? Ke rumahku yang sederhana? Berkenalan dengan keluargaku?” “Hey! Kenapa harus menunggu? Kalau kamu mau perkenalkan aku pada keluargamu dengan video call. Ketika aku datang kesana nanti, aku tidah asing lagi bagi mereka.” Membayangkan untuk memperkenalkan Tia pada keluarganya membuat Salman sedikit gugup. Tia wanita yang sangat baik, dia pasti sopan dan menerima keluarganya dengan tulus. Tapi bagaimana menjelaskan pada keluarganya yang masih kental dengan adat dan tradisi. Hubungan mereka akan dianggap tabu. Dan sulit untuk mempercayai perkenalan dengan wanita dari dunia maya. Salman butuh waktu untuk menjelaskan pada keluarganya agar tidak terjadi kesalah pahaman. “Tia, semalam aku tidur sangat nyenyak. Dan saat kau menelponku tadi, aku baru saja terbangun. Sekarang aku minta izin untuk mandi dan sarapan. Nitish sudah menungguku, menagih janji untuk membeli coklat.” “Ah … manisnya. Baiklah, nikmati waktumu bersama keluarga. Aku tidak akan mengganggu.” “Jangan berkata begitu, Tia. Aku akan menghubungimu nanti siang, akan kuperlihatkan desaku yang indah. Desa yang telah memberiku sebuah luka. Desa yang sama yang akan menjadi saksi keberhasilanku di masa depan!” Suara Salman terdengar bergetar saat menyampaikan pada Tia. Kenangan buruk dengan penolakan Miranha, lalu pandnagan warga desa pada keluarganya membuat Salman tercabik. Tia yang mendengar itu memahami bahwa Salman sedang berhadapan dengan sebuah luka. Instict-nya begitu saja bekerja untuk menangkap perasaan Salman yang sedang bergelombang. “Salman, aku selalu katakan padamu. Tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masa lalu. Selain menerimanya sebagai pondasi terbaik dalam kehidupan. Fokuslah pada masa depan dan sembuhkan lukamu. Atau luka itu akan berakhir sebagai infeksi yang bisa membunuhmu. Jalan kehidupan memang bukan milik kita, namun dengan cara apa kita melaluinya tentu saja kita yang tentukan.” Perkataan Tia selalu berhasil meredakan badai yang menggulung Salman. Dipertemukan dengannya seperti sebuah senjata untuk menghadapi hidup dengan cara yang lebih berani dibanding meratapi. Karena masa depan masih menanti dengan berbagai kerikil tajam di sepanjang jalannya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN