TEMAN KECIL

1172 Kata
Selo telah duduk santai di teras rumahnya. Menunggu waktu yang seolah berjalan dengan lambat. Dia ingin segera berangkat ke UK. Memulai hidup baru di negara Eropa. Memandangi gadis-gadis cantik sepanjang hari. Kata ‘cantik’ membuat ingatan Selo melayang pada Tia. Meski Selo sering menggoda banyak wanita, namun tidak satu pun yang menjalin ikatan dengannya. Selo memuja kebebasan. Status ‘pacar’ baginya hanya akn menjadi batu sandungan untuk melangkah cepat. “Selo, bagaimana kabarmu?” Sebuah pesan masuk Selo terima. Dari Tia! seindah itukah semesta mengabulkan apa yang ada di pikirannya?! Selo dengan segera melakukan panggilan ke nomor Tia. “Tia! Aku sangat merindukanmu. Berhari-hari kau tidak mengirimku pesan!” serbu Selo dengan rentetan pertanyaan SAAT mendengar suara Tia di seberang sana. Tia tersenyum mendengar suara Selo yang berapi-api. Sungguh berbeda ketika dia menelpon Salman, sapaan sopan selalu menjadi ciri khas Salman. Dan Selo, selalu memulai dengan cara yang agresif. “Kau menunggu pesan dariku?” “Ya, aku merinduankmu,…” meski lirih namun terdengar jelas di telinga Tia. “Apa Selo? Aku tidak jelas mendengar suaramu,” Tia memaksa Selo untuk menegaskan apa yang baru saja Selo sampaikan. “Ah, tidak. Aku menunggumu karena ingin menyampaikan sesuatu tentang Salman.” “Ok, katakan!” “Sepertinya, Salman sedang dalam kesulitan untuk pembayaran visa. Paling lama dua minggu lagi kami harus menyediakan uang untuk membayar visa dan pembelian tiket. Salman bilang ayahnya akan menyediakan. Tapi jujur aku tidak yakin. Karena, kau tahu Salman punya banyak adik yang juga masih membutuhkan biaya. Dan itu akan menjadi masalah buatku.” “Menjadi masalah buatmu? Kenapa?” “Karena aku tidak bisa pergi tanpa Salman.” “Kenapa?” “Kami telah mulai berjuang bersama sejak awal. Dan sekarang pintu itu telah terbuka lebar untuk kami. Aku tidak ingin masuk sendiri dan meninggalkan Salman. Kau tahu? Dia mendapatkan nilai terbaik dan sebuah tawaran pekerjaan di UK. Tapi itu tidak lantas membuat semua menjadi gratis.” “Ya, semoga Salmana mendapatkan jalan keluar. Sebelum dua visa itu datang, uang sudah tersedia. Bagaimana rasanya di rumah lagi setelah sekian lama?” “Ah, Tia. Rumahku ini terlalu berisik. Aku punya dua kakak perempuan dan dua kakak laki-laki. Dua dari mereka sedah menikah dan tinggal disini bersama anak-anaknya. Aku tidak sabar untuk segera keluar dan mulai membangun duniaku sendiri di luar sana.” “Ha … ha … ha,…!” Tia terbahak mendengar celoteh lucu Selo. Berbeda dengan Salman yang sangat mencintai keluarganya, Selo malah menginginkan kebebasan segera. Seketika Selo tersadar, dia telah membicarakan kesulitan Salman pada Tia. Tanpa sengaja, karena sebenarnya Selo hanya ingin mengalihkan Tia dari kata 'rindu' yang tidak sengaja dia ucapkan. Selo berharap pembicaraan mereka tidak menjadi masalah bagi hubungan Tia dan Salman. *** Salman dan Nitish sedang dalam perjalanan kembali dari sebuah swalayan kecil yang agak jauh dari desa. Dia meminjam sepeda motor dari tetangganya untuk memudahkan perjalanan mereka. Melewati jalan raya yang agak ramai lalu kembali ke jalan desa yang berbatu. Di kiri kanan jalan nampak sawah dengan tanaman pagi yang menguning. Matahari bersinar cerah namun udara di musim dingin terasa menyejukkan Ittahari siang itu, Beberapa kali Salman berhenti untuk mengambil photo pemandangan desa dengan ponselnya. Nitish yang semula hanya melihat jadi penasaran, “Kak! Untuk apa mengambil gambar terus sejak tadi?” “Untuk dikirmkan pada seseorang.” “Seseorang? Ada yang tertarik melihat desa kita? Apakah dia tidak punya desa?” Salman tertawa menanggapi celoteh Nitish dan mengambil beberapa gambar lagi sebelum meneruskan perjalanan. “Kak, benarkah kau akan menjadi seorang dokter?” “Inshaallah begitu. Kenapa rupanya?” “Kau akan mengobati semua penyakit? Termasuk jika aku sakit gigi?” tanya Nitish polos. Membuat Salman tergelak dibuatnya. “Tidak, aku akan menjadi dokter bedah.” “Apa pekerjaan seorang dokter bedah?” “Melakukan operasi untuk orang yang sakit.” “Orang sakit apa di operasi, Kak?” Salman mulai kehabisan kata untuk menjawab pertanyaan Nitish yang tidak ada habisnya. Dia mengganti tema percakapan mereka. “Jika kau besar nanti, kau ingin jadi apa?” “Hmm … aku ingin menjadi guru. Membuat orang lain menjadi pintar, berarti guru adalah manusia yang paling pintar. Begitu, Kak?” “Mungkin,” sahut Salman singkat. Berusaha tetap fokus menjalankan motornya diantara pembicaraan Nitish yang harus dijawab. “Tapi, Kak Mehta tidak bersekolah. Kak Usman baru mulai sekolah lagi. Apakah Ibu akan mengijinkan aku menjadi guru saat besar nanti?” “Ibu dan ayah akan mengijinkanmu. Aku akan meminta mereka mengijinkanmu. Sekarang tugasmu adalah belajar sebaik-baiknya.” Meski Salman tidak melihat namun di belakang punggungnya Nitish mengangguk. Salman menurunkan Nitish di depan rumah dan dia menuju rumah temannya untuk mengembalikan sepeda motor yang dia pinjam. Rumah teman masa kecilnya, Arul. Keluarga Arul yang selalu bersikap baik pada keluarga Khan. Bahkan di saat penduduk desa lain menganggap keluarga Khan tidak ada. “Selesai? Hanya sebentar?” tanya Arul ketika Salman menyerahkan kunci motor. “Ya, aku hanya mengantar Nitish membeli coklat. Dia memesan ketika aku di Khatmandu. Tapi aku malah lupa membelinya. Terima kasih ya,” Arul menyusur bibir pintu dan mengajak Salman untuk duduk di teras rumahnya. “Bagaimana rasanya hidup di Khatmandu?” “Tidak ada yang mudah dengan sebuah permulaan perjalanan.” “Ya, sesekali aku juga ingin pergi jauh. Tapi apa boleh buat, hanya aku anak yang masih bersama orang tuaku,” ungkap Arul dengan mimik sedih. “Hidupmu di desa ini sudah baik dan lebih dari cukup. Kau tidak perlu meninggalkan desa ini. Jika bukan karena kejadian besar enam bulan lalu, aku mungkin juga masih akan tinggal di desa ini.” “Oh, iya. Aku tahu, kau mungkin tidak lagi tertarik mendengar kabar tentang Miranha. Sebulan lalu, desa ini gempar. Semua orang melihat Miranha di pukul oleh suaminya di depan rumah.” “Apa?!” Salman terkejut, namun dia berusaha meredam rasa sakit yang sedikit muncul. Gadis itu pernah menjadi wanita yang paling dia cintai. Meski akhirnya menghempaskan Salman bagai benda tak berguna. “Aku dengar dari banyak orang bahwa suaminya memperlakukan Miranha dengan tidak baik. Dia selalu memukul dan mencacinya. Rumah mereka yang besar itu bahkan tidak mampu meredam suara suami Miranha yang terdengar hingga keluar.” Salman diam, berusaha menekan rasa keingin tahuannya. Masih ada rasa yang tersisa untuk Miranha. Namun semua percuma. Karena Wanita itu bukan lagi sebuah bagian dari cerita hidupnya di masa depan. “Dia telah Memilih. Kita hanya bisa mendoakan semoga dia bahagia di masa depan.” Arul melihat ketenangan yang berbeda dalam diri Salman. Ketenangan yang dewasa, memperlihatkan kelas Salman sekarang. “Aku dengar, kebanyakan pria kaya memiliki sifat yang tidak baik pada wanita. Menjadikan wanita sebagai benda bukan nyawa untuk dihormati.” Cerita yang sama telah Salman dengar dari kehidupan Tia di masa lalu. Gambaran-gambaran yang membuat Salman berjanji dalam hati. Wanita yang akan menyertai hidupnya nanti, akan menjadi wanita yang layak dihormati dengan cinta dan perlindungan. Cukup cerita Tia, Miranha yang mengukir pedih tentang wanita yang diperlakukan tidak sepadan. Salman berjanji dalam hati, kekayaan tidak akan membuatnya buta tentang kenyataan bahwa dia manusia biasa. Dan dari asal yang bukan siapa-siapa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN