RUMAH KEHIDUPAN

1148 Kata
Seharian ini Ittahari diguyur hujan. Beberapa wilayah mulai dilanda banjir. Keluarga Salman sejak pagi berdiam diri di rumah. Ibunya sedang sibuk bersama Mehta dan Nitish di dapur untuk membuat makan malam. Sementara Salman dan Usman di ruang tengah. Rumah itu penuh kehangatan. Kasih sayang berlimpah ruah. Meski tidak mewah dan tanpa fasilitas yang istimewa. Tanpa televisi , kulkas dan juga benda berharga lainnya. Namun setiap hati di dalamnya merasa bahagia. Saling peduli dan merasa memiliki. “Jadi Kakak akan pergi lama?” tanya Usman yang sedang berbaring di lantai. Menatap langit rumah mereka. “Setelah aku memiliki uang untuk membeli tiket pulang, aku akan pulang sebisa mungkin setiap liburan.” “Kakak akan jadi dokter.” Salman menoleh ke arah Usman. Ada nada yang tidak biasa dari perkataan Usman. “Ada yang ingin kau sampaikan?” “Kalau Kakak lulus tepat waktu itu artinya lima tahun lagi. Dan aku juga baru akan mulai sekolah lima tahun lagi. Karena kita harus bergantian biaya untuk meringankan ayah kan?” “Kau sudah daftar sekolah untuk pengantar ke universitas. Sekolah itu akan berjalan satu tahun bukan? Aku janji setelah satu tahun, kau akan bisa sekolah. Tidak perlu menunggu sepertiku.” “Tapi Kak, biaya sekolahmu sangat mahal. Apalagi kau hidup di UK. Aku dengar, segala mahal di negara Eropa.” “Betul, tapi aku akan mendapatkan pekerjaan segera. Sekolahku adalah program beasiswa. Dan jika aku bisa kerja paruh waktu, artinya ayah tidak perlu mengirimku uang. Jadi kau bisa sekolah dengan segera.” Salman menangkap pandang tetesan air mata jatuh dari sudut mata Usman. “Hey! Kenapa?” “Apakah hidup selalu sesulit ini?” Salman menarik nafas, “Aku pernah berpikir sepertimu. Hidup yang sulit dan penuh dengan kemalangan. Tapi, seseorang datang dan merubah pemikiranku. Bahwa kesulitan itu yang membuat kita lebih kuat lagi. Dan bekerja keras untuk meraih mimpi. Karena aku melihat, banyak orang yang hidupnya mudah. Tapi mereka malah bukan siapa-siapa tanpa orang tuanya.” “Siapa yang datang padamu kak?” “Seorang teman, yang dikirim langsung oleh Tuhan.” Usman menatap Salman yang berbaring di sebelahnya. Menatap langit rumah tapi binar di matanya seperti melihat bintang. Lalu Salman mencoba mengalihkan pembicaraan. “Usman, katakan! Kau ingin kuliah jurusan apa nanti?” “Aku ingin menjadi seorang IT kelas dunia!” ucap Usman penuh semangat. “Wow! Luar biasa. Kenapa kau tertarik bidang itu?” “Entah, hanya aku merasa profesi itu menjanjikan di masa depan.” Salman dan Usman sibuk dalam pemikiran cita-cita dan impian mereka. Suara langkah kaki mendekati keduanya. “Kak! Makan! Ibu dan Nitish sudah menunggu di meja makan!” Keduanya lalu bangun dari posisi tidur mereka dan segera mengikuti Mehta ke rumah bagian belakang. “Ayo makan yang banyak, hujan ini akan membuat malam lebih dingin. Tidak baik tidur dengan perut kosong.” ujar ibunya sembari sibuk memenuhi piring setiap anak dengan makanan. “Perut kakak tidak akan kosong Bu, dia sering ke dapur tengah malam. Aku melihatnya!” seru Nitish sambil melihat ke arah Salman. “Kau terbangun karena lapar?” tanya ibunya. “Aku belum tidur dan lapar bu.” “Dan sibuk menghabiskan makanan di dapur. He … he … he ….” Nitish menertawakan Salman sambil memasukkan makanan ke mulutnya. Diantara derai gemericik hujan, canda tawa mewarnai rumah Khan. Rumah yang akan segera ditinggalkan Salman untuk waktu yang lama. Menjelang tengah malam ketika Salman beranjak ke kamar tidurnya. Menghenyakkan diri di kasur yang tidak empuk lagi. Namun bagi Salman, kasur itu sangat nyaman dan bisa membuatnya tidur nyenyak kapan saja. Dia mengirimkan foto yang diambilnya hari ini kepada Tia. Sebelum bertemu Tia, menjelajahi dunia maya yang baru dikenalnya adalah hal yang menyenangkan bagi Salman. Namun setelah mengenal Tia, saat dia menyentuh ponselnya maka Tia adalah tujuan utama. “Desa yang sangat indah, penampakan luar biasa. Beberapa foto ini bisa kugunakan untuk ilustrasi buku terbaruku jika kamu mengijinkan.” “Tentu, Tia. sebuah kebanggaan bagiku.” Salman membalas. “Kau juga tinggal di pegunungan, suasana desa bukan hal baru bagimu.” “Pastinya, tapi mendapatkan gambar dari tempat yang belum pernah aku datangi dan lihat langsung. Rasanya berbeda dan menyenangkan.” Pembicaraan mereka berlanjut ke panggilan telepon. Salman beralih ke dekat jendela. Melihat cucuran air hujan rintik yang turun seharian ini. Suasana seolah mendukung Salman untuk berbicara dengan Tia lebih dalam. “Tia, hari ini aku bertemu seorang teman. Dia mengatakan sesuatu tentang gadis masa laluku. Miranha. Ternyata hidup Miranha tidak sebaik yang dia harapkan. Dan entah kenapa, hatiku sedih dan sedikit terluka mengetahui hal ini.” “Kenapa tidak baik?” tanya Tia. “Suaminya sering melakukan kekerasan padanya. Dia diperlakukan tidak terhormat sebagai istri.” “Kau masih mencintainya?” tanya Tia berhati-hati. “Entahlah, aku sudah tidak berharap apa pun. Dan luka penolakannya sekarang juga telah menjadi masa lalu yang perlahan kutinggalkan.” “Salman, rabalah hatimu. Kenali dirimu sendiri. Apakah perasaan serupa akan hadir jika, kau tahu bahwa wanita lain mengalami hal ini. Kenalilah itu perasaan karena kau mencintainya atau karena sesama manusia. Kau pria yang baik dan sangat penuh kasih sayang. Mustahil bagimu melakukan hal seperti itu. Maka ketika kau mendengar kejadian seperti ini, pastilah mengganggu ketenanganmu. Apakah karena Miranha semata?” “Tia,….” “Jawab untuk diri dan hatimu sendiri bukan untukku. Aku tidak perlu jawaban itu. Ingat saja kau telah melangkah sejauh ini. Dan pastikan bahwa kau melangkah untuk masa depanmu. Untuk dirimu dan orang-orang yang mencintaimu. Agar ketika nanti di perjalanan jika kamu bertemu masalah, kamu akan tegar dan tidak menyerah.” Dalam diam di keheningan malam seiring irama hujan berjatuhan, Salman mengukir satu per satu kata-kata Tia di hatinya. Menanamkan dalam pikirannya. Memberi jawaban atas perasaan dan kebimbangannya. Menguatkan diri dalam setiap tarikan nafas. “Tia, boleh aku tanya sesuatu?” “Aku akan jawab jika aku bisa,” ujar Tia. “Apakah usia adalah sebuah masalah bagi hubungan dua manusia?” “Hmm … aku pribadi adalah orang yang menilai orang lain berdasar kepribadian dan pemikiran. Banyak orang yang secara fisik dan usia bertumbuh. Tapi secara mental, jiwa dan pemikiran mereka masih di tempat yang sama. Usia seharusnya adalah tentang pengalaman dan pelajaran.” “Tia, apakah salah jika,….” Salman diam sejenak. Ragu melanjutkan apa yang ada di hatinya. Meski pikirannya meminta kepastian namun hatinya jauh dari kata berani untuk menyatakan semuanya pada Tia. “Ya, Salman … apa yang salah?” “Tidak … tidak … tidak ada yang salah. Pertemanan kita tidak salah meski usia kita jauh berbeda kan?” Tia terdiam beberapa saat tanpa menanggapi ucapaan Salman. “Kau ingin mengatakan sesuatu?” “Tidak, kau ingin kembali bekerja?” “Ya, aku memiliki beberapa project baru yang harus kuselesaikan segera.” Pembicaraan malam itu dengan Tia, mengalirkan rasa teduh dan sejuh di hati Salman. Bukan hanya malam itu, namun setiap kali. Ketika manusia lain menerimamu dengan ketulusan maka saat itulah semesta sedang membuktikan cintanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN