Nampaknya banjir yang melanda Ittahari cukup parah malam tadi. Pagi ini Salman bergegas mengambil sepeda dari halaman belakang untuk menuju ke sawah memeriksa tanah pertanian mereka. Ayunan sepeda melintasi jalan setapak yang telah lama dikenalnya. Sebagai tempat dia sering bermain dengan adik dan temannya ketika orang tua mereka bekerja di sawah.
Seringkali Salman mengingat rangkaian demi rangkaian cerita masa kecilnya hingga bertumbuh dewasa. Sulit dipercaya, dia sampai ke jalan ini. Jalan yang beberapa bulan lalu bahkan belum dia rencanakan. Sakit hati dan luka telah mendorongnya begitu kuat untuk mencapai tepian dan melihat dunia dari luar cangkangnya.
Bahkan penolakan Miranha juga menjadi cambuk untuk ayahnya Khan berani mengambil pekerjaan di luar negeri jauh dari keluarga. Senyum terukir di wajah Salman. Sahutan burug pagi mengiring gerakan kakinya. Seolah alam bernyanyi seperti hatinya.
Di sebuah pertigaan, nyaris Salman menabrak seorang wanita yang sedang berjalan di tengah. Wanita dengan rok panjang kuning dan atasan warna merah muda. Rambutnya terurai, perhiasan lengkap melekat. Memperlihatkan bahwa dia bukan berasal dari kalangan biasa. Dan wanita itu yang pernah dekat di hatinya.
“Maaf, aku sedang melamun dan tidak melihat kau mengendarai sepeda. Maaf ya,…!” Wanita itu berkata tanpa memandang pada pengendara sepeda. Dia sibuk membenahi beberapa barang yang tidak sengaja terjatuh karena terkejut.
Dan Salman pun sedang sibuk memeriksa kondisi roda depan sepedanya yang terasa membentur sesuatu. Sampai mereka beradu pandang. Ternyata wanita itu adalah masa lalu yang telah mulai dia lupakan. Miranha!
“Mira!”
“Salman!”
“Kau, baik-baik saja? Apa sepedaku melindas kakimu?”
“Ah, iya sedikit. Tapi aku baik-baik saja.”
Salman mengangguk.
“Kapan kau kembali ke desa? Aku dengar kau pergi ke Khatmandu,” tanya Miranha.
“Ya, dua hari lalu,” Salman menjawab singkat.
“Kau masih marah padaku?”
“Kenapa harus marah?”
“Karena aku memilih pria lain dan menikah dengannya.”
Salman tersenyum, menggiring sepedanya ke pinggir dan mendorong perlahan ke arah sawah keluarga Khan. Dia menuntun sepedanya, sementara Miranha berjalan mengiring di sampingnya.
“Jika aku marah, apakah itu merubah keadaan? Kau toh sudah menikah.”
Miranha tertunduk, memilih Atif yang lebih kaya dan mapan, semua Miranha pikir adalah pilihan terbaik. Dan setelah pernikahan dia bisa mencintai Atif.
“Aku mungkin telah membuat pilihan yang salah. Namun seperti katamu, tidak ada yang bisa kita lakukan dengan masa lalu. Semua sudah kupilih dan semua harus kujalani.”
“Iya, kita bukan lagi anak kecil yang tidak tahu kebenaran dan kesalahan. Kita adalah manusia dewasa yang perlu bertanggung jawab atas semua pilihan yang kita buat. Bukan begitu?” Salman berusaha tetap tenang berbicara dengan Miranha.
Ada gelombang datang di hatinya namun bukan karena cinta. Deruan itu datang karena mengingat bagaimana Miranha dan keluarganya telah membuat keluar Salman terhina. Ayah Miranha yang kepala desa, dengan terang-terangan di forum warga menyatakan bahwa keluarga Khan tidak layak untuk putrinya. Dia memilih Atif untuk menjadi pendamping Miranha. Dan beberapa hari setelahnya pernikahan mereka berlangsung.
Miranha tanpa perlawanan menerima Atif sebagai suaminya. Salman bagai benda tak berharga yang dicampakkan begitu saja. Namun semua kini telah berakhir. Salman telah berdamai dengan dirinya sendiri.
Semua yang Miranha katakan bagi Salman tidak lagi memiliki arti.
Sambil memandang ke depan, dua butir air mata jatuh di pipi Miranha. Salman mengatakan semuanya dengan sangat lembut. Selembut saat dia mencintainya dulu. Salman tidak pernah berusaha menyentuhnya. Memberikan rasa hormat yang tinggi sebagai wanita.
“Aku …” baru saja Miranha hendak membuka mulut.
Sebuah mobil berhenti dengan jendela kaca terbuka.
“Kenapa kau berjalan kaki?! Aku memintamu untuk menunggu!” hardik pria dari dalam mobil kepada Miranha.
“Ya, kau terlambat setengah jam. Dan aku merasa bosan di toko itu. Jadi aku putuskan berjalan kaki saja,” terdengar suara Miranha bergetar ketakutan.
“Salman! Sedang apa kau berjalan dengan istri orang? Kau menggodanya? Tidak tahu malu!” pria itu berkata dengan kasar pada Salman.
“Atif! Tolonglah jangan bersikap berlebihan! Kami hanya berpapasan jalan dan sedikit berbincang. Lagi pula di jalan besar seperti ini apa yang kau curigai!” Miranha berteriak tajam ke arah suaminya, Atif.
“Masuk!!! Dasar perempuan tidak tahu diri!” Atif memerintah Miranha dengan kejam.
Saat Miranha berjalan masuk ke dalam mobil, Atif melihat Salman penuh ancaman. Belum Miranha sempurna menutup pintu, mobil itu telah melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan desa yang berbatu.
Salman menatap laju kendaraan Atif sambil menggelengkan kepala. Ada khawatir menyapa hatinya. Mungkin sampai di rumah, akan ada pertengkaran antara Miranha dan Atif. Namun Salman teringat kata-kata Tia.
“Semua orang punya pilihan. Dan bertanggung jawab serta menjalani dengan baik pilihan itu sebagai konsekuensi yang harusnya dilakukan.”
Salman melanjutkan perjalanan menuju sawah. Kembali mengayuh sepedanya. Pertemuan dengan Miranha menjadi konfirmasi bagi Salman bahwa hatinya bukan lagi hati yang terluka. Tidak ada lagi cinta. Ternyata Tia benar, Salman perlu mengenali perasaannya sendiri untuk mengendalikan setiap tindakan yang ingin dia lakukan.
Baru beberapa meter Salman mengayuh sepeda, sebuah motor mengiring di sampingnya. Dengan seorang pemuda berkaca mata hitam mengendarai.
“Arul, mau kemana?” tanya Salman tanpa menghentikan sepedanya.
Dia terus mengayuh, sementara Arul menjalankan motornya perlahan selaras sepeda Salman.
“Aku juga akan melihat sawah milik ayahku. Semalam hujan turun sangat deras. Aku dengar sebagian sawah di ujung desa rusak parah.”
“Semoga sawah kita baik-baik saja.”
“Hey! Tadi aku melihat Miranha dan suaminya sedang berbincang denganmu. Apa kau baik-baik saja?”
Arul tahu betapa terpuruknya Salman karena Miranha beberapa bulan lalu. Arul adalah teman baik Salman di desa. Mereka sering melakukan kegiatan di sawah bersama. Karena pribadinya yang sederhana dan sopan, di kalangan pemuda desa, Salman adalah sosok yang dihormati oleh mereka. Selain itu Salman juga dikenal sebagai pemuda yang cerdas. Dalam banyak acara, Salman akan berperan penting untuk menyukseskannya.
Pertanyaan yang wajar dari Arul, mengingat betapa buruknya keadaan Salman waktu itu.
“Aku baik-baik saja, kau jangan khawatir. Lima bulan di Khatmandu telah merubah segalanya tentang diriku. Bukan hanya membuka jalan masa depan untuk pendidikanku. Tapi juga mempertemukanku dengan orang-orang yang luar biasa membuka pemikiranku. Jika Tuhan berada di pihak kita, maka siapa yang bisa mengalahkan.”
Dengan senyum lebar dan mengayuh sepedanya lebih kuat, Salman melaju menuju sawah yang semakin dekat.
Arul tersenyum, belum pernah dilihatnya Salman sehebat itu sejak penolakan Miranha. Persahabatan mereka bagi Arul adalah sebuah ketulusan. Salman tidak dekat dengannya karena kekayaan dan Arul bukan memilih Salman sebagai sahabat karena kecerdasan.
Dan Salman di masa depan akan menjadi bagian dari Arul sebagai keluarga.