Pekerjaan di sawah hari ini membuat Salman lelah. Sekembalinya ke rumah dia membersihkan diri, makan dan segera terlelap dalam tidurnya. Lewat tengah malam Salman terbangun karena rasa lapar. Dia turun melewati tangga menuju dapur dan mengambil sepiring nasi lengkap dengan lauknya dan membawa kembali ke kamar. Salman tidak suka duduk sendiri di ruang makan tanpa keluarga.
Sambil menikmati makanannya di sebuah kursi kecil di balkon kamarnya dia membuka ponsel. Sebuah pesan masuk dia terima dari Tia.
“Sudah tidur?”
Pesan itu masuk ke ponselnya sekitar pukul sepuluh malam. Dia menoleh ke arah jam di dinding kamrnya. Sekarang pukul dua di Ittahari, artinya pukul satu di Indonesia. Di jam ini biasanya Tia masih bergelut dengan tulisan.
Salman mencoba menghubungi Tia lewat panggilan telpeon di WA. Dan ternyata dia benar, Tia belum tidur.
“Salman,” Tia menyapa dengan lebut di seberang sana.
Tepat saat sendokan terakhir masuk ke mulut Salman dari makanannya.
“Tia, masih sibuk bekerja?”
“Seperti yang kau tahu, pekerjaanku ini kan tidak terbatas. Bagaimana harimu?”
“Aku sangat lelah hari ini, beberapa pekerjaan harus dilakukan. Banjir melanda desa kami semalam. Aku hari ini ke sawah untuk memastikan semua tanaman yang akan kami panen besok.”
“Oh, apa semua baik-baik saja?”
“Ya, semua baik-baik saja. Dan hari ini aku bertemu Miranha.”
“Hmm … apa yang terjadi?”
“Tidak ada, kami hanya berbincang kecil dan suaminya segera datang. Suaminya nampak sangat tidak suka padaku. Sewaktu kami kecil, Atif adalah temanku. Setelah lulus SMA, Atif melanjutkan sekolah di Khatmandu dan aku tertinggal sebagai petani di Ittahari. Saat Atif kembali, dia mewarisi sejumlah usaha perdagangan milik ayahnya. Dan menikah dengan Miranha.”
“Lalu, apa yang terjadi denganmu hari ini? Merasakan sesuatu setelah bertemu Miranha?”
“Aku rasa tidak, aku hanya merasa kasihan. Melihat bagaimana suaminya memperlakukan Miranha. Tapi aku setuju dengan pendapatmu, hidup adalah pilihan kita. Dan … termasuk segala resikonya.”
“Ya, betul Salman. Setidaknya dengan bertemu Miranha, kau seolah dipaksa untuk menghadapi masa lalu kan? Untuk meyakinkan apakah luka di hatimu betul sudah pulih. Jika rasa nyeri tidak lagi ada maka dipastikan kau sudah sembuh sempurna.”
“Kenangan kami berlintasan begitu hebat di pikiranku. Namun, aku tidak lagi merasakan getaran atau kemarahan terhadap Miranha. Aku telah merelakan perjalanan kami sebagai masa lalu. Itu saja,” tutup Salman.
“Hey! Kau sedang apa? Kita video call?”
“Oh, kau yakin? Di tengah malam seperti ini?”
“Aku masih di ruang kerja,” jawab Tia.
“Baiklah.”
Salman lalu mengalihkan panggilannya ke video call. Sesosok wanita cantik muncul di depannya. Tia menggunakan piyama biru mengkilat. Degan renda di bagian leher, kontras dengan kulit putihnya. Sementara rambutnya tergerai di belakang telinga dan beberapa menjuntai membingka wajah cantiknya.
Satu hal lagi yang Salman kagumi dari Tia. Kecantikannya, berpadu dengan kecerdasan, ramah dan bijak. Seolah tanpa cela. Melihat Tia, tidak ada orang yang akan percaya bahwa usianya adalah tiga puluh dua tahun.
“Hey! Kenapa bengong begitu? Aku mengajak video call bukan untuk melihat wajah tanpa ekspresi. Aku ingin melihat senyum seorang Salman, setelah hari yang melelahkan.”
Sapaan renyah Tia membuat senyum otomatis terukir di wajah Salman.
“Maaf ya, wajahku mungkin tidak enak dipandang. Aku baru saja bangun tidur. Sejak pulang dari sawah, aku tidur dan tadi terbangun karena merasa lapar.”
“Ok, aku rasa masalahnya bukan di wajaj. Tapi di senyum, tidak peduli dengan muka bantalmu itu jika kau tersenyum semua tetap akan nampak indah bukan?”
Senyum semakin lebar di wajah Salman. Ketulusan Tia yang tidak pernah mempermasalahkan apa pun dalam dirinya.
Pintu kamar terbuka, mengejutkan Salman yang sedang berbicara dengan Tia.
“Nitish! Sedang apa kau disini tengah malam? Kau belum tidur?”
Nitish mendekat pada Salman dan melihat sesosok wanita cantik sedang berhadapan dengan kakanya di ponsel.
“Siapa Kak?”
“Teman,….”
“Halo!” Sapa Tia yang melihat wajah Nitish ikut muncul di layar ponselnya.
“Hai,” sapa Nitish.
Salman menatap adiknya, “Kenapa belum tidur?”
“Aku sudah tidur, Kak. Dan aku mau ke kamar mandi. Tapi kudengar kau sedang berbincang dengan seseorang. Aku pikir siapa di kamarmu, jadi aku masuk.”
“Kau mau aku temani?”
“Tidak perlu, aku biasa ke kamar mandi sendiri.”
Nitish melangkah keluar dan menengok sekali lagi.
“Kak, siapa dia?”
“Namanya Devina, dia temanku dari Indonesia.”
“Indonesia? Nama apa itu?”
“Itu adalah nama sebuah negara. Sudah sana pergilah ke kamar mandi dan lekas kembali tidur.”
Nitish tanoa menjawab keluar dari kamar Salman.
“Maaf ya, tadi adikku yang paling bungsu. Dari seluruh keluaga, dia paling dekat denganku. Karena usia kami terpaut jauh. Aku biasa memanjakan dia dan dia tahu aku selalu mengabulkan keinginannya. Terutama sejak ayah pergi ke luar negeri, aku mengambil alih peran ayah untuk Nitish.”
Tia tertegun dengan semua yang didengarnya. Meski usia Salman masih terbilang muda, tapi pola berpikirya jauh lebih matang dan dewasa dibanding pria lain seumurnya. Hal lain yang Tia suka dari Salman adalah sederhana menampilkan diri apa adanya.
“Sampaikan salamku padanya.”
“Ok, kau akan melanjutkan pekerjaanmu?”
“Ya. Oh! Aku hampir lupa menanyakanmu sesuatu. Apakah kabar visa sudah datang? Mereka bilang maksimal dua minggu bukan? Tapi biasanya akan datang lebih cepat.”
“Belum, aku belum menerima kabar apa pun.”
“Salman, boleh aku tanya sesuatu?”
“ya, tentu.”
“Apakah semua baik-baik saja terkait dengan rencana kepergianmu ke UK? Tia menanyakan dengan sangat hati-hati.”
“Maksudmu?”
“Hmm … visa dan lain-lain tentu semua perlu dipersiapkan. Apakah kondisi keuanganmu telah tersedia?”
“Tia, kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini?”
“Eh! Tidak, aku hanya berpikir. Ketika kau terlibat masalah dengan ayah Anil, kau perlu bantuan. Itu artinya tidak ada uang yang siap tersedia. Dan aku memikirkan tentang rencana kepergianmu. Apakah itu juga disiapkan. Aku tahu, kau punya ayah dan ibu. Aku hanya sekedar bertanya dan … jika kau butuh bantuan jangan segan untuk datang kepadaku.”
Salman tertegun dengan semua kata-kata Tia. Dia tidak mampu menjawabnya. Sebaik itukah wanita ini, atau sebenarnya dia memang sungguh jawaban Tuhan atas semua doa dalam luka yang Salman panjatkan selama ini.
“Salman! Apa kau dengar perkataanku?”
“Ya, aku dengar semua. Jangan khawatir, ayahku akan menyiapkan semuanya untukku. Aku bahkan masih berhutang padamu, bukankah sungguh terlalu jika aku datang lagi padamu untuk meminta bantuan?” tanya Salman sambil tertawa.
Dan ditanggapi Tia tanpa ekspresi.
“Jadi aku teman atau?”
“Oh Tia, jangan salah paham. Aku hanya bercanda. Baiklah, kapan pun aku perlu bantuan aku akan datang padamu.”
Ucap Salman mengedipkan sebelah mata dan tersenyum manis pada Tia. Senyum serupa Tia sunggingkan, membuat hati Salman terbang dan berbunga.