WANITA INDONESIA

1086 Kata
Dapur luas dengan bagian belakang terbuka dan berbatasan dengan tempat cuci berlantai batu. Pagi itu terasa lebih meriah. Laksmi sedang bersiap dengan kedua putrinya untuk memasak bekal yang akan mereka bawa ke sawah hari ini. Seharian mereka akan di sawah untuk memanen padi. Mereka perlu membawa bekal lebih banyak dari biasa. Laksmi sedang sibuk di depan kompor menggoreng makanan, Mehta memarut kelapa yang akan dijadikan bahan kue. Sementara Nitish mengupas aneka bawang yang terletak di sebuah keranjang. Sementara pembicaraan ketiganya terhenti, Nitish ingat dengan kejadian malam tadi, ketika dia memergoki Salman sedang berbincang dengan seseorang. “Bu, apakah Indonesia sangat jauh?” tanya Nitish pada ibunya. “Indonesia? Apakah itu nama sebuah negara?” “Sepertinya, dan wanita dari negara itu sangat cantik. Rambutnya hitam, kulitnya putih, bajunya mewah.” Laksmi dan Mehta menghentikan kesibukan mereka bersamaan dan melihat ke arah Nitish. “Kau ini sedang bicara apa?!” hardik Mehta pada adiknya. “Sungguh Kak, aku tidak berbohong,” sahut Nitish. “Dari mana kau tahu? Kau bahkan tidak tahu dimana negara itu!” Mehta mulai kesal dengan pernyataan Nitish. “Semalam aku lihat Kak Salman, sedang berbicara dengan seorang wanita di handphonenya. Dia sangat cantik!” celetuk Nitish polos sambil terus mengupas bawang merah yang ada di tangannya. Tanpa dia tahu bahwa kakak dan ibunya sedang memandangi dengan wajah serius, terutama Laksmi. Dia lalu mendekat ke arah Nitish untuk memastikan bahwa anak itu sedang membicarakan sesuatu yang serius dan bukan mengigau belaka. “Kau ke kamar Salman tadi malam? Seingatku kau dan Mehta telah pergi tidur sebelum Salman masuk ke kamar?” tanya Laksmi menyelidik. “Aku memang sudah tidur bu, tapi terbangun tengah malam karena ingin ke kamar kecil. Dan saat itu kudengar kakak sedang berbicara dengan seseorang, jadi aku mengintip ke kamarnya. Ternyata sedang berbicara dengan seorang wanita. Cantik sekali, kulitnya putih dan rambutnya panjang.” Nitish menuturkan dengan wajah polos, sementara Laksmi dan Mehta mendengar dengan seksama. “Kau yakin dia sedang berbicara? Mungkin dia sedang menyimak video saja.” “Tidak bu, dia sedang berbicara. Kakak bahkan memperkenalkanku pada wanita itu. Tapi aku lupa siapa namanya.” Laksmi dan Mehta saling berpandangan. Salman memiliki hubungan dengan orang dari negara berbeda? Rasanya aneh bagi mereka. “Ayo cepat! Iris bawangnya, kita harus segera selesai dan menuju ke sawah sebelum matahari meninggi!” perintah Laksmi pada Nitish yang masih saja berceloteh tentang wanita di ponsel Salman. Sementara Salman sedang duduk di teras rumah, menunggu semua siap untuk pergi ke sawah bersama. Beberapa pemuda sepantarnya sudah lebih dulu berjalan, ada juga yang memakai kendaraan roda dua dan sepeda. Sambil menunggu semua orang siap, Salman menghubungi Selo. “Kau pasti masih di tempat tidur!” serunya ketika dia mendengar suara Selo dari seberang sana. “Apalagi yang akan dilakukan, selain menikmati hari. Selagi kita masih di rumah.” Salman tersenyum dengan jawaban Selo. Dia memang bukan dari keluarga petani. Dan Selo memiliki kehidupan yang lebih baik dari Salman. Selain Selo adalah anak bungsu, hanya Selo yang masih belum mandiri di keluarganya. “Apakah kau sudah menerima kabar tentang visa? Sekarang sudah hari ke tujuh sejak kita mengajukan.” “Belum … jika aku sudah menerima pasti aku akan mengabarimu,” dengan malas Selo menjawab Salman. Pertanyaan dan panggilan Salman menghilangkan semua rasa kantuknya sekarang. Ditengoknya jam di dinding. Masih pukul tujuh pagi, biasanya Selo akan bangun setelah pukul sembilan. “Ayahmu sudah menyiapkan uang untuk visa dan tiket kita?” tanya Selo “Belum, dan aku tidak berani menanyakan lagi.” “Jadi kalau tidak tersedia?” “Aku sudah katakan padamu, kau bisa pergi lebih dulu. Aku akan pergi di bulan terakhir berlakunya visa. Mungkin cukup waktu bagi ayahku untuk mengumpulkan uang.” “Aku tidak akan pergi tanpamu, kita berjuang bersama. Aku akan menunggumu, akan kubilang pada ayahku bahwa persetujuan visa mengalami hambatan.” “Ha … ha … ha …! Apa-apan ini Selo, kau punya kesempatan lebih dulu. Tidak perlu menunggu.” “Sudahlah! Lain kali jangan menelponku terlalu pagi. Kau mengganggu tidurku! Besok aku akan datang ke rumahmu. Aku bosan selalu di rumah!” Salman memutuskan sambungan telepon. Sungguh dua pribadi yang berbeda, Selo selalu bosan di rumah dan sekitar keluarganya. Sementara bagi Salman, rumah dan keluarganya adalah tempat ternyaman. Dia tidak ingin meninggalkan mereka jika bukan karena kepentingan yang darurat. “Salman! Bersiap! Kita akan pergi sekarang!” ibunya keluar pintu sambil membawa beberapa wadah perbekalan mereka di sawah. “Dan taruh ponselmu di rumah. Kau tidak memerlukan itu di sawah nanti, atau ponselmu akan masuk ke lumpur!” lanjut Laksmi. “Oh, iya baik Bu. Sebentar, aku akan mengganti celana pendek dan menyimpan ponselku.” Sementara Mehta dan Nitish lebih dulu berjalan dengan membawa beberapa bekal makanan. Dan Usman di belakang mereka dengan alat pertanian yang akan digunakan. Setelah mengunci pintu, Salman mengangkat beberapa peralatan lain. Lalu berjalan perlahan mengiring di samping ibunya. “Bu, ayah bilang akan menyediakan uang visa dan tiket satu minggu lagi. Dari mana ayah dan ibu mendapat uang itu? Bukankah itu belum waktunya ayah menerima gaji?” “Kenapa kau tanyakan itu? Kita hari ini akan panen raya. Semoga itu cukup untuk bekalmu berangkat ke UK.” “Tidak Bu, kalau uang hasil panen ini semua untukku lalu bagaimana kehidupan ibu dan adik-adik nantinya. Apalagi Usman juga sudah mulai bersekolah.” “Kami akan tetap hidup seperti biasa sambil menunggu kiriman berikutnya dari ayah.” “Ibu, berjanjilah untuk tidak menjual tanah dan sawah kita. Aku akan menunggu sampai uang kita cukup. Minggu depan aku akan kembali ke Khatmandu dan mencoba mendapatkan pekerjaan.” “Salman, sawah ini adalah milik kita. Jadi tidak ada masalah kalau kita menjualnya karena perlu.” “Bu, anak Ibu bukan hanya aku. Ada adik-adik yang masih butuh biaya. Aku tidak ingin pergi jika harus menjual sawah ini. Biar saja aku menunggu sampai uang kita cukup.” “Salman! Kau harapan kami untuk keluar dari kondisi saat ini. Apa pun kami lakukan untuk membuatmu terus berjalan. Jangan berhenti!” “Tentu Bu, tapi tidak dengan sawah ini.” “Hmm,….” Ibunya memutuskan untuk menghentikan perdebatan mereka. “Seorang gadis sedang bersamamu saat ini?” tanya Laksmi pada Salman. “Gadis, maksud ibu?” Salman keheranan dengan pertanyaan ibunya. “Nitish mengatakan padaku tentang gadis yang tadi malam bicara denganmu.” “Oh, itu … itu adalah seorang teman. Yang … sangat istimewa.” Laksmi memandang wajah Salman ketika mengatakan itu. Sebuah sinar cerah terpancar. Dia melihat cinta dan harapan di wajah putranya. Tapi gadis itu dari Indonesia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN