“Assalamualaikum!” seseorang berteriak di depan pintu rumah Khan. Suara yang sudah sangat dikenal oleh Salman. Dia berdiri dari kursi makan dan segera membuka pintu.
“Waalaikumsalam … Selo kau hebat, selalu tahu kapan waktu makan malam di rumah kami.”
“Ha … ha … ha …!” dengan tawa riang Selo menerobos Salman dan langsung menuju ke ruang makan di sisi dapur keluarga Khan.
“Bibi! Aku ingin ikut makan!” teriak Selo dari ambang pintu.
Laksmi tersenyum mendengar selorohan Selo. Dan memberi kode pada Mehta untuk menambah satu buah piring.
“Hai! Usman, Nitish dan … si cantik. Siapa namamu?” Selo melihat pada Mehta.
Dijawab dengan senyum malu-malu. Salman muncul di pintu dan mendorong Selo yang sedang berdiri menggoda adiknya.
“Duduklah! Berhenti menggoda Mehta! Kau mau makan atau berdiri dan ceramah saja disitu?!”
Selo kembali tertawa riang dan mengambil tempat diantara kehangatan keluarga Khan. Satu per satu mereka mulai makan, sajian Sekuwa yang dibuat Mehta sore tadi aromanya menggoda selera. Perpaduan daging kambing dengan berbagai bumbu rempah, yang dibakar langsung di atas bara kayu. Menggugah selera berpadu dengan sayuran segar dari kebun mereka sendiri.
“Bibi, masakan Bibi selalu istimewa. Aku bisa menghabiskan semua ini sendiri rasanya. Masakan seorang wanita yang seperti ini bisa membuat seorang pria akan setia,” celoteh Selo sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Wajah Mehta mendadak cemberut karena semua makanan itu dialah yang memasak dengan susah payah. Rautnya tertangkap oleh Laksmi.
“Mehta yang memasak semua ini. Dia akan menjadi calon istri yang sempurna suatu hari nanti.”
Selo melirik ke arah Mehta, wajahnya serupa Salman. Seorang gadis dengan hidung mancung dan kulit coklat. Rambutnya yang hitam lurus dikepang sedemikian rupa. Cantik alami, lembut dan polos.
Lirikan Selo tertangkap Salman.
“Ehm!”
“Oh! Ya tentu saja Bibi, Mehta akan menjadi istri yang sempurna dan dia harus bertemu pria yang baik. Seperti …”
Salman menatap Selo yang tepat berada di depannya dengan tajam.
“Seperti kakaknya, Salman dan Usman.”
Nitish tertawa riang mendengar seloroh Selo dan tatapan melotot kakaknya. Sekali lagi Selo melirik ke arah Mehta. Cantik!
“Bibi, hasil visa kami hari ini sudah keluar. Dan kami siap untuk pergi ke UK. Masa berlaku visa itu hanya tiga bulan.”
“Ya, Salman sudah mengatakan padaku tadi. Besok aku akan bicara dengan ayahnya. Kami berencana untuk menjual setengah dari sawah untuk membiayai keberangkatan Salman.”
“Ibu, aku sudah bilang padamu. Aku tidak ingin kalian menjual sawah itu. Aku bisa berangkat di bulan ketiga. Memberi waktu ayah untuk mendapatkan uang.”
“Tidak, kami ingin kau berangkat segera. Semakin cepat semakin baik.”
“Tapi bu, …”
“Sudahlah Salman, menyediakan biaya untukmu adalah kewajiban kami. Setelah kau berhasil nanti, kau yang akan menolong adik-adikmu.”
Salman tidak ingin berdebat dengan ibunya di depan Selo. Dia memilih diam dan menghabiskan makanannya. Namun Selo terlanjur melihat semua adegan itu. Berarti Salman belum memperoleh uang untuk biaya keberangkatan mereka.
Malam itu Selo tinggal di rumah Salman. Hingga tengah malam dia tidak bisa tidur. Salman pun sama, keduanya masih duduk di balkon kamar sambil mendengar nyanyian burung malam yang bersahutan.
Beep! Beep! Beep!
Sebuah panggilan video masuk di ponsel Salman. Tia!
Salman ragu untuk menjawab panggilan itu, tapi Selo sudah terlanjur melihat nama yang tertera disana.
“Hey, Tia! Menelpon tengah malam begini? Apakah ini biasa kalian lakukan?” Selo memberondong Salman dengan berbagai pertanyaan.
Tanpa menjawab, Salman menerima panggilan masuk dari Tia.
“Hai!”
“Hai, Salman! Bagaimana panen raya kalian? Aku menunggu kiriman gambar darimu,” ujar Tia.
“Oh, iya. Sulit membawa ponsel ke sawah. Aku tidak pernah membawanya, jadi maaf ya ….”
Belum selesai Salman bicara, Selo sudah merapatkan diri disampingnya.
“Tia!”
“Selo! Sedang apa kau disitu?”
“Aku, sedang menemani Salman yang kesepian.”
Pernyataan Selo sontak membuat tangan Salman reflek untuk memukul kepala sahabatnya.
Plak! Sebuah pukulan ringan mendarat di kepala Selo.
“Aduh! Apa-apaan kau ini?”
Selo hanya sekilas memprotes Salman. Pandangannya kembali pada Tia.
“Tia, kenapa kau tidak pernah menghubungiku seperti kau menghubungi Salman? Kau tidak pernah merindukan aku?”
Tia tertawa dengan rengekan Selo. Seorang pria berjambang tipis, merengek untuk di telpon. Terlihat aneh di mata Tia.
“Tia, aku akan menghubungimu lagi nanti jika Selo sudah pulang. Sekarang kita tidak leluasa untuk bicara.”
“Baiklah, jaga dirimu.”
Tia mematikan sambungan ponsel. Salman melotot ke arah Selo yang tersenyum bahagia. Beberapa jam lalu dia mengagumi adik Salman dan sekarang dia kembali mengagumi Tia? Selo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Apa boleh buat, dia memang seorang pengagum wanita.
Selo teringat kembali pada masalah Salman dengan biaya keberangkatan. Jika Tia bisa membantu, maka orang tua Salman tidak perlu menjual sawah mereka. Tanpa ijin Salman, Selo mengirimkan pesan pada Tia.
“Orang tua Salman akan menjual satu-satunya sawah yang mereka miliki untuk biaya visa dan tiket.”
Tia menerima pesan itu dengan mengerutkan kening. Lalu membalas.
“Hubungi aku besok saat kau tidak bersama Salman.”
--------------------------------------------------------------
Sebelum matahari terbit, Salman telah menuju sawah bersama Usman untuk menyelesaikan pekerjaan yang masih tertinggal sementara. Kedua adik dan ibunya sibuk menjemur padi hasil panen mereka di pelataran rumah.
Selo yang biasa bangun siang, terbangun oleh berbagai kegiatan berisik di rumah Salman. Namun saat dia membuka mata, Salman sudah pergi ke sawah.
Dia teringat pesan Tia untuk menghubunginya segera. Selo membuat panggilan suara di WA.
“Halo, Selo.”
“Ya, Tia. Aku bangun sangat pagi hari ini demi untuk menghubungimu.”
Setiap kata dari Selo selalu berbentuk rayuan. Pribadinya yang flamboyan membuat Selo mudah berkata manis pada wanita.
“Terima kasih Selo. Oh ya, kau bilang orang tua Salman akan menjual seluruh sawahnya untuk membiayai Salman sekolah ke UK?”
“Tidak semua, sebagian. Tapi kau harus tahu, sawah mereka tidak cukup besar.”
Tia terdiam, memikirkan sesuatu.
“Selo, jadi visa kalian sudah disetujui? Begitu?”
“Ya, dan kami diberi waktu tiga bulan untuk menggunakannya. Aku pikir sebaiknya kami segera pergi. Tapi biaya akan menjadi kendala bagi Salman.”
Tia kembali terdiam, dalam waktu yang cukup lama. Selo menunggu Tia mengatakan sesuatu.
“Tia, kau disana?”
“Ya, aku sedang memikirkan cara agar aku bisa membantu Salman tanpa dia tahu. Karena dia pasti menolak dan bersikeras seperti biasa. Kapan kalian akan kembali ke Khatmandu?”
“Kami akan kembali lima hari lagi.”
“Bisakah kau berangkat lebih dulu? Satu hari sebelum Salman?”
“Untuk?”
“Aku akan mengatakan setelah kau tiba disana nanti.”
“Baiklah, aku akan usahakan.”
Selo hampir yakin, masalah Salman selesai setelah Tia turun tangan.