Pagi itu Selo berjalan ke kedutaan dengan penuh rasa bimbang. Tia mengirim sejumlah uang untuk pembayaran visa Salman. Tapi dia sendiri belum membicarakan dengan Salman mengenai kondisi itu. Selo ragu apakah tindakannya ini akan membuat Salman marah dan malu.
Tapi mereka memang perlu pergi segera. Jika mereka pergi di bulan terakhir, berarti mereka akan ikut di kelas musim berikutnya. Semakin banyak biaya yang timbul dan sulit. Sudahlah! Yang penting berangkat! Begitu yang ada di pikiran Selo.
Dia menuju ke kasir tempat pembayaran visa dan administrasi selama pengurusan. Dibayarnya lunas semua miliknya dan juga Salman. Dua lembar kwitansi diterima, namun Selo tidak juga beranjak dari tempatnya.
“Tuan, anda sudah selesai? Silahkan bergeser agar saya bisa menangani antrian selanjutnya,” ucap gadis kasir itu ramah.
“Nona, aku belum selesai. Bisa kau bantu aku?” Selo tersenyum memamerkan wajah tampannya.
“Maksud Tuan?”
“Ak hari ini membayar visa untuk dua orang. Satu milikku dan satu lagi milik temanku Salman, bisakah kau menghubunginya dan mengatakan bahwa visa sudah bisa diambil? Kalau dia bertanya siapa yang bayar, katakan saja kau tidak mengenal orang itu. Bisakah kau membantuku?”
Selo tersenyum nakal pada gadis kasir di kedutaan. Wajah dan senyum Selo memang mudah membuat siapa pun luluh dibawah tatapannya. Dari balik jaketnya, Selo mengeluarkan dua buah coklat yang sudah dia persiapkan sejak semula.
“Tolong bantu aku, kau hanya menelpon dan mengatakan itu pada temanku. Ok, cantik?”
Dengan berbagai rayuan yang Selo lancarkan, gadis kasir itu pun setuju. Dan Selo meninggalkan nomor ponsel Salman padanya.
Selo kembali ke asrama dengan hati bahagia. Sebentar lagi mereka akan ke UK. Udara Khatmandu hari ini cerah tanpa salju, namun dinginnya masih juga berasa. Setelah membeli beberapa makanan, Selo kembali ke kamar asrama dan menghubungi Tia.
“Semua sudah kubayarkan. Kau mau aku melakukan pengecekan untuk tiket? …. Baiklah, aku akan tunggu Salman datang. Kita lihat, kabar apa yang dia bawa.”
--------------------------------------------------------
Besok waktunya kembali ke Khatmandu. Dia sudah memutuskan untuk berangkat di bulan kedua. Dan ayahnya setuju. Penjualan sawah mereka pun telah dibatalkan. Meski dengan berat hati, namun itu pilihan terbaik saat ini.
Beep! Beep! Beep!
Ponsel Salman berbunyi. Dari nomor tidak dikenal,
“Halo,”
“Halo, dengan Tuan Salman?”
“Ya, saya sendiri. Dengan siapa?”
“Saya dari kantor kedutaan UK. Ingin menginformasikan bahwa visa anda sudah bisa diambil.”
“Sudah bisa diambil?” Salman mengerutkan kening heran.
“Apakah kamu tidak salah orang?” Salman memastikan.
“Tidak, dengan Tuan Salman Khan. Visa anda telah lunas dibayar dan bisa diambil dengan segera.”
“Saya belum merasa melakukan pembayaran," sanggah Salman.
“Tapi sistem kami menyatakan tagihan anda telah lunas. Untuk lebih jelasnya silahkan datang langsung ke kantor kami. Terima kasih.”
“Baik, terima kasih.”
Salman menutup sambungan telepon dengan wajah bingung. Dia masih sibuk mendapatkan uang untuk membayar visa. Dan sekarang visa itu tiba-tiba lunas? Ini aneh!
Dia menghubungi Selo,
“Salman! Hey! Aku lupa mengatakan padamu, aku lebih dahulu kembali ke Khatmandu. Tadi pagi aku tiba disini.”
Selo berusaha untuk tidak gugup berbicara dengan Salman.
“Kau sudah di Khatmandu? Tanpa memberitahuku?”
“Ya, aku lupa. Dan aku sudah minta maaf.”
Apa yang terjadi hari ini, semua nampak aneh baginya. Selo selalu bertanya pada Salman jika ingin melakukan sesuatu. Dalam banyak hal, Salman akan tampil di muka untuk mendapatkan solusi atas masalah yang mereka hadapi. Namun kali ini Selo berangkat ke Khatmandu tanpa mengatakan padanya. Dengan alasan lupa? Tidak masuk akal.
“Selo, kedutaan baru saja menghubungiku. Mereka bilang tagihan visaku sudah lunas dibayar. Ini aneh, aku tidak merasa membayar sepeser pun. Lagi pula, aku belum punya uang.”
“Oh, bagus. Tidak usah kau pikirkan. Aku juga sudah membayar tagihanku pagi ini.”
“Membayar tagihanmu? Kau bilang akan pergi bersamaku lalu kenapa kau membayar tagihanmu?”
“Kan milikmu juga sudah lunas,” ujar Selo, mencoba berkelit dari cecaran pertanyaan Salman.
“Bagaimana kau tahu punyaku sudah lunas, baru sekarang aku menelponmu untuk mengatakan bukan?”
Tenggorokan Selo tercekat, dia salah bicara. Salman selalu secerdas ini.
“Salman, aku harus pergi. Dengar! Nyonya Gopi memanggil.”
“Nyonya Gopi memanggil? Apakah dia sedang disana? Bukankah waktu membayar asrama masih seminggu lagi.”
Selo sudah kehabisan kata. Tanpa lanjutan debat dia mematikan sambungan teleponnya dengan Salman.
Salman semakin bingung dengan tingkah Selo yang aneh. Mungkinkah Selo yang membayar visa untukya? Ah rasanya tidak mungkin, Selo juga tidak cukup kaya untuk memberiak uang sebanyak itu pada orang lain.
Tapi Selo pasti tahu sesuatu. Dia harus bicara dengannya besok!
***
Selo menekan nomor Tia.
“Aku sudah melakukan semua yang kau minta. Tapi aku tidak tahu berapa lama bisa menyimpan dari Salman. Kau tahu kan, dia itu sangat cerdas untuk mendapatkan informasi. Aku nyaris saja mengatakan pada Salman tadi.”
Dengan gugup Selo mencoba menjelaskan pada Tia dengan pernyataan panjang. Namun disambut oleh Tia dengan tawa renyah.
“Tenang saja, penting kita sudah membayar visa untuk Salman. Kalian akan berangkat segera. Kalau dia bertanya padamu, kamu cukup menghindar dan diam. Semakin banyak bicara akan semakin banyak terbongkar.”
Selo diam, Tia benar kelemahan terbesarnya adalah ketika dia banyak bicara.
Selo masih berpikir betapa beruntungnya Salman mengenal wanita sebaik Tia. Cantik, dewasa dan kaya. Tidak heran akhir-akhir ini dia melihat Salman menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang lebih hidup dan penuh semangat.
Sangat berbeda dengan Salman enam bulan lalu ketika mereka baru tiba di Khatmandu. Salman nyaris tidak pernah tersenyum. Wajah dan matanya penuh kesedihan.
Kebaikan Tia, membuat Selo justru menjaga jarak. Selo memang pemain cinta, tapi Tia bukan wanita biasa. Hal lain, Salman adalah sahabatnya dan hubungan dengan Tia lebih dari sekedar teman. Selo memilih untuk menjaga jarak aman agar dia tidak berakhir dengan kecewa dan mengecewakan.
Setelah menutup sambungan telepon, Selo beranjak menuju kamar Firoz yang juga kamar Salman. Mengetuk pintu dan setelah sahutan dari dalam terdengar dia membuka pintu.
“Tuan, anda sedang sibuk?”
“Selo! Masuklah! Kau sudah kembali, dimana Salman. Kalian tidak kembali di waktu yang sama?”
“Dia akan datang besok.”
“Bagaimana dengan visa kalian? Sudah mendapat persetujuan?”
“Ya, dan juga sudah kami bayar.”
“Itu bagus, artinya kalian siap untuk pergi. Aku lega kalian berangkat sebelum aku berangkat. Karena bulan depan aku akan berangkat ke Jerman.”
“Jerman? Untuk apa tuan?”
“Aku pun punya mimpi yang ingin kuwujudkan dan kesempatan itu sekarang telah tiba.”
Firoz menatap jauh, seolah melihat jalan yang siap untuk dia lalui dengan segera.